KISAH NYATA NINIEKSS

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG KE-2


 

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG KE-2
 

Oleh NiniekSS
 

Bismillah,

Baca kisah pertemuan sebelumnya, disini !
 

Pagi itu,

Seperti biasanya, sehabis shalat tahajjud aku tidur sebentar, lalu bangun lagi untuk shalat fajar sebelum subuh...Mas Toto suamiku belum selesai dzikirnya. Alhamdulillah aku sudah selesai shalat subuh, ketika diluar kudengar ada yang mengucapkan salam. Suara seorang laki-laki. Kujawab salamnya. Heran sepagi ini sudah ada tamu yang datang. Karena suaranya dari arah warung, kupikir ia seseorang yang mau membeli sesuatu di pagi buta di warungku.

Aku berjalan tergopoh-gopoh kearah warung. Sebenarnya tak layak disebut sebuah warung, karena adanya hanya beberapa kilogram gula pasir, beberapa bungkus teh celup sariwangi, beberapa batang sabun mandi, dan semuanya hanya beberapa. Daripada tak ada kegiatan, kebutuhan rumah tangga untuk sehari-hari itu aku tata di etalase bekas, dan aku letakkan di warung, yang terletak diruangan sebelah kiri rumah. 

Kebetulan rumah kontrakan kami di sebelahnya ada warungnya, ya sudah aku tata saja disana, kalau ada tetangga yang membutuhkannya, kujual. Tapi ya ada saja yang membeli. Aku tak berniat membuka warung karena tak punya modal, dan lagi aku tidak telaten usaha warung. Aku lebih suka melayani pelanggan jamuku, orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan.

“Assalamu’alaikum…”. Salam itu kembali terdengar.

Wa’alaikumussalam…” balasku. Mungkin tadi balas salamku tak kedengaran oleh tamu itu. Kubuka pintu warung yang terbuat dari lembaran papan yang dijajar.

“Oh Bapak…kok pagi-pagi sudah ke warung pak, mau beli apa Pak..?” 

Tanyaku kepada tamu itu. Seorang peminta-minta tua, lusuh memakai tongkat dan tanpa alas kaki. Mengenakan sarung kumal dan baju putih lengan panjang yang sudah lusuh pula. Sikapnya sangat santun dan kilatan matanya bagai pedang, namun amat teduh. Aku terkesima, tapi tak mampu menduga-duga siapakah gerangan bapak ini.

“Bu maafkan saya, pagi-pagi telah mengganggu…saya kehausan Bu, kalau boleh mau minta minum teh manis yang hangat, tenggorokan saya sangat kering Bu, tadi mau minta diwarung sana tidak diberi…” Katanya.

“Oh boleh Pak, silahkan, tidak apa-apa Pak, sebentar ya Pak saya buatkan..” Kataku ikhlas. 

“Tapi silahkan masuk Pak, duduk dulu” kupersilahkan bapak tua itu masuk sebelum aku membuatkan minuman untuknya.

”Terima kasih Bu, saya diluar saja” katanya, sambil langsung duduk di bangku panjang yang sengaja ku letakkan di depan warung untuk duduk orang-orang yang pada belanja diwarungku. 

Tak lama kemudian segelas teh manis panas sudah saya hidangkan. Sepertinya bapak tua itu sangat menikmati teh buatanku.”Terima kasih sekali ya Bu tehnya, enak..” katanya memuji. 

“Ya Pak, alhamdulillah, saya juga terima kasih bapak mau minum teh saya.” jawabku. Kulihat sebentar saja gelasnya sudah kosong, rupanya bapak tua itu benar-benar haus.

Tetapi ada yang membuat saya ternganga...

Teh yang kuhidangkan itu adalah teh yang super panas karena air yang untuk membuat teh adalah air mendidih yang baru direbus dan ku masukkan ke termos. Panas sekali bukan ? 

Uap tehnya saja mengepul. Membuat minuman teh memang enaknya dengan air mendidih. Akan segar rasanya. Tetapi begitu teh kuletakkan di bangku yang diduduki bapak itu, langsung diminum habis seolah seperti minum air dingin saja. Begitu diulangnya hingga 3 gelas. Kalau orang biasa yang minum pasti akan melepuh lidah dan mulutnya dong. Saya ternganga keheranan. Tapi tak mampu menerka jawabnya. Siapakah sosok ini sebenarnya ?

Dalam hati aku mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah, pagi-pagi buta sudah memberiku kesempatan untuk berbuat kebaikan kepada seseorang. 

Lalu tiba-tiba bapak tua itu menyodorkan gelas kosong itu kepadaku sambil ujarnya : “Bu, maaf, boleh minta lagi tehnya tidak? Saya masih haus Bu...”, 

“Oh boleh-boleh, sebentar ya pak, saya buatkan tehnya lagi” lalu kusodorkan teh yang ke dua. 

Eh bapak itu dengan santainya bilang :”Bu, maaf, apakah teh ini tidak ada temannya?”.

”Maksud Bapak?” tanyaku kemudian kurang mengerti maksudnya.

“Barangkali ibu punya sarapan Bu, saya lapar sekali...” Saya kaget dengan permintaannya. Karena pagi itu belum masak nasi.

“Wah maaf sekali Pak saya baru mau nanak nasi. Kalau bapak mau, ada tuh kue pia, tapi maaf sekali kalau nasi memang belum ada pak” jawabku jujur. Aku merasa sangat kecewa tidak dapat memberi bapak itu nasi yang diminta. 

“Yah pia juga tidak apa-apa Bu, Alhamdulillah…” kata bapak itu kemudian.

Lalu kuambil kue pia itu 3 biji sisa yang ada di warung. Dilahapnya hingga habis oleh Bapak itu, malah masih minta tambah minum lagi, jadi habis tiga gelas. Aku terheran-heran dengan bapak tua itu, yang begitu lahap menghabis -kan tiga pia besar dan tiga gelas teh. 

“Bu, Alhamdulillah saya sudah kenyang, ini semua habisnya berapa Bu?” Saya kaget ketika bapak tua itu bertanya begitu. 

“Lho saya memberi  ikhlas kok pak, jadi tak usah bayar, malah saya bersyukur pagi-pagi bapak sudah memberi saya kesempatan beramal” balasku tulus.

“Alhamdulillah kalau begitu Bu, tapi kalau saya harus membayar, sayapun tak punya uang, saya hanya punya handuk ini satu-satunya kalau ibu mau..” berkata begitu bapak itu sambil melepas handuk kumuh yang dikalungkannya di lehernya dan diserahkannya kepadaku. 

Melihat handuk kumuh yang diberikannya kepadaku, aku menolaknya dengan halus. “Maaf pak, bukan saya menolak pemberian, tapi bapak kan masih hendak meneruskan perjalanan, kalau handuk itu untuk saya, nanti kalau bapak membutuhkan dijalan bagaimana ? Jadi sebaiknya handuk itu untuk bapak saja” kilahku.

“Baiklah kalau ibu tidak mau ya tidak apa-apa, lalu sebagai gantinya kalau ibu tidak mau handuk ini, ibu mau minta apa dari saya ?” Tanyanya kemudian, namun bapak itu tidak kecewa karena saya menolak pemberiannya. 

“Saya tidak minta apa-apa Pak, saya insya Allah ikhlas kok, kalau Bapak berkenan, tolong doakan saya sekeluarga agar selamat dunia akherat saja, dan agar saya selalu mendapat ridhoNya..”

“Wah permintaan ibu itu luar biasa Bu..insya Allah saya doakan” selesai ia mengatakan itu tiba-tiba saja ia mengusap langit-langit mulutnya, dengan ibu jarinya lalu diusapkan pada sekeliling gelas bekas minumnya dan mulai berdoa dengan mendongakkan kepalanya keatas dan kedua tangannya menengadah keatas. Doanya memakai bahasa Arab yang aku tidak tahu maknanya, namun banyak shalawatnya (karena aku mengenal beberapa shalawat, jadi aku tahu ketika bapak itu membaca shalawat.)

Yang membuatku terkesiap adalah ketika bapak itu hendak mengusap langit-langit mulutnya, yang lalu diusapkannya ke gelas bekas minumnya tadi, kulihat jempol ibu jari tangannya tidak bertulang ! (konon ini adalah salah satu ciri khas Nabi Khidir As). 

Seketika aku jongkok mengamini doanya. Ada satu ucapannya yang hingga kini tak bisa kulupakan adalah : “Orang yang kalau didunianya ringan melakukan kebaikan ya besuk diakheratnya juga digampangkan oleh Allah segala urusannya. Amiin Ya Robb.

Sebelumnya aku sudah menemukan beberapa keanehan-keanehan yang ada dalam diri bapak itu. Bapak itu mengatakan bahwa rumahnya adalah selatan desa Ngawu-awu. Padahal Ngawu-awu adalah desa paling selatan di kabupaten Purworejo kotaku. Dan sebelah selatannya sudah laut selatan. Kalau begitu tempat tinggalnya adalah di laut selatan. 

Keanehan lainnya adalah, pagi-pagi buta adalah saat yang tidak lazim untuk bertamu. Minta minum sampai tiga kali. Minum air teh yang kuhidangkan dalam keadaan tehnya masih panas mengepul uapnya. Berdoa dengan sebelumnya mengusapkan ibu jari tangannya kelangit-langit mulutnya. Pandangan matanya sangat tajam bagaikan kilatan pedang.

Setelah lama mendoakanku, bapak itu minta pamit padaku, dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepadaku. Hanya beberapa detik ia pamit, seolah seperti ditelan bumi, dicari kemana-mana tidak ketemu, padahal depan rumah adalah jalan raya dan lapang, jadi seseorang mau kemana bisa dilihat dari rumah. Bapak itu menghilang tak berbekas. 

Subhanallah Allah Hu Akbar. Semua wallahu’alam…Semoga ini suatu kebenaran adanya.

Begitulah kisah pertemuanku yang ke-2 in Sya Allah  dengan Nabi Khidir As.

Bca kisah selanjutnya, "PERTEMUANKU YANG KE-3 DENGAN NABI KHIDIR As" disini !

Terima kasih atas kunjungan kalian di Blog ini. Semoga Allah SWT. seniantiasa melimpahkan ampunan, keselamatan serta keberkahan yang luas kepada kita sekalian. Amin Yaa Robbal’alamin.

Edisi Revisi, Purworejo 8 September 2024
 

Salam Tauhid Penulis,
NiniekSS

Disalin dari "BLOG NINIEKSS" Akun milik sendiri NiniekSS


BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-2


 

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-2

 

Oleh : NiniekSS


Bismillah,


Sahabat NiniekSS dimanapaun Anda berada...

Sebelumnya, baca dulu Bagian 1nya ada disini !


Met jumpa lagi sahabat-sahabat yang saya kasihi dimanapun Anda berada saat ini. Semoga masih senantiasa sehat dan bahagia ya ? Amien…

Tadi siang sampe dimana ya kisahku tentang Nabi Khidir As. yang saya sampaikan kepada anda ? Ufh..agak lupa ni..maklum udah nenek-nenek cu…Oh alhamdulillah sudah ingat lagi sekarang..Tadi sampai ketika saya membayar becak untuk anak muda yang bareng dalam perjalanan bersama saya dari Lumajang sampai ke Jember ya ?

Akhirnya kami berpisah. Kami naik becak masing-masing. Dia ke jurusan makam Mbah Kyai Shiddiq, dan saya mau pulang ke Pondok. Pikiran saya masih terus memikirkan pertemuan dengan anak muda yang sangat aneh itu...

Masih terngiang segala apa yang ia sampaikan kepada saya sepanjang perjalanan dari Lumajang tadi. Tentang yang dia katakan bahwa saya sebelum umur 39 tahun besuk akan banyak didatangi orang yang meminta tolong, bahkan anak muda itupun tadi mengatakan kepada saya bahwa nanti sesampai pondok saya sudah harus menolong orang.

Belum habis keheranan saya terhadap anak muda itu, tiba-tiba saya dikejutkan suara memanggil-manggil : “mbak…mbak…”  Saya reflek menoleh mencari sumber suara yang memanggil-manggil dengan suara yang cukup keras itu. Karena becak yang saya tumpangi baru saja beranjak belum jauh. Ternyata yang memanggil-manggil itu adalah tukang becak yang dinaiki anak muda yang berbaju putih-putih tadi. Tukang becak itu melambaikan tangannya. Memberi isyarat agar kami mendekat kearahnya. Becak kamipun berbalik arah mendekati becak yang ditumpangi anak muda berbaju putih tadi.

Setelah dekat…supir becak yang ditumpangi anak muda itupun bertanya kepadaku :  ’Mbak…itu anak muda yang berbaju putih-putih itu siapa to ?’ Saya jawab :’Lho memangnya kenapa pak ?..’ tanyaku penasaran, karena anak muda berbaju putih itu sudah tidak ada dalam becaknya.
‘Hilang tiba-tiba mbak’ katanya. ’Lho hilang gimana pak ? ”Ya tiba-tiba saja sudah tidak ada dibecak mbak..’ Trus saya katakan apa adanya kepada tukang becak yang ditumpangi oleh anak muda berbaju putih tadi, bahwa saya tidak tahu tentang anak muda tadi.

Saya katakan bahwa kami hanya secara kebetulan satu perjalanan dari Lumajang sampai ke Jember tadi. ’Yah sudahlah tak usah dipikirkan, maaf ya pak ni sudah mau maghrib’ kataku kepada tukang becak yang ditumpangi anak muda itu, seraya mengajak tukang becak yang saya tumpangi agar segera mengayuh becaknya mengantar saya pulang ke pondok.

Singkat kata sampailah saya ke pondok. Belum habis keheranan saya memikirkan tentang anak muda yang penuh teka-teki itu tiba-tiba dari arah pondok anak-anak berteriak menyambut kedatangan saya : ‘mbak Nien…mbak Nien…’

‘Ada apa ?’ tanyaku tergopoh-gopoh melihat anak-anak menghampiri saya yang belum turun dari becak.

‘Itu mbak..anak-anak mbak…’ ‘Anak-anak kenapa ?’ tanyaku lagi.

‘Anak-anak pada kerasukan setan mbak...’ Mendengar laporan anak-anak seperti itu saya sangat terkejut dan bingung.

‘Lha ibu dimana ? (maksudku ibu Nyai). ’Ibu sedang pergi mbak….’

Wah gawat pikirku. Apa yang mesti kuperbuat kalau begini. Ibu sedang tidak berada di Pondok, mana saya sama sekali tidak tahu menahu bagaimana caranya mengusir setan dari tubuh manusia. Trus siapa yang harus saya hubungi karena disitu kami semua tidak pernah kontak dengan laki-laki.

Waktu itu ada delapan anak yang kerasukan setan. Berkelojot-kelojot ditanah sambil mulutnya berteriak-teriak tak karuan, matanya melotot seperti orang yang penuh dosa sedang menghadapi sakaratul maut.

Dengan setengah takut saya mendekati mereka. Tiba-tiba seperti ada kekuatan dan keberanian yang saya tidak mengerti darimana datangnya serta merta saya pukul tubuh salah satu anak yang kerasukan tadi dengan cukup keras sambil mulut saya berteriak : ‘Pergi..ini rumah Alloh..ayo pergi..kalau kamu tidak mau pergi dari sini akan kuhancurkan kamu sekarang juga ! ayo pergi !!!..’

‘Subhanallah…’  tanpa saya sadari dan saya mengerti mengapa, tiba-tiba anak kerasukan yang saya pukul tadi langsung sadar…

‘Allohu Akbar…Alhamdulillah…” teriak anak-anak rame gembira melihat temannya sudah sadar.

Seperti reflek, tangan saya langsung diseret sama seorang anak menuju kearah anak yang kerasukan yang lain. Karena mereka tidak berada disatu tempat, tetapi berserakan. Mereka ada didekat kamar masing-masing. Sayapun seperti mendapat ilmu dan pengalaman baru..Satu demi satu ketujuh anak kerasukan yang lain saya coba sembuhkan dengan cara yang sama dengan anak yang pertama kuusir setannya tadi.

Alhamdulillah…Alloh Maha Besar…

Kedelapan anak tadi lalu bisa sadar semua. Akan tetapi anak yang terakhir saya usir setannya terpaksa harus dirawat kerumah sakit karena dia ternyata menderita lemah jantung.

Dengan lemah lunglai kembalilah saya menuju kekamar pondokan saya. Masih ada waktu untuk mandi sebelum sholat jamaah maghrib. Ibu Nyai belum pulang dari luar kota, sholatpun diimami mbak-mbak yang senior.
Selepas sholat maghrib semestinya ada pengajian rutin. Tetapi saya ijin untuk tidak ikut. Alasan saya capek karena baru saja dari luar kota. Mbak-mbak senior bisa memakluminya dan memberiku ijin tidak ikut ngaji.

Saya berbaring ditempat tidur saya. Tempat tidur kehormatan yang diberikan oleh ibu Nyai kepada saya entahlah atas dasar alasan apa mengapa ibu memperlakukan saya sangat spesial. Sejak awal mondok saya tidak diijinkannya untuk tidur dilantai bersama anak-anak yang lain dalam kamar secara rame-rame sebagaimana kamar-kamar pondok yang lain, satu kamar biasanya bisa dihuni sampai 8 sampai 10 orang.

Saya diberinya kamar spesial. Satu kamar hanya untuk saya sendiri. Tempat tidurnya dari besi berukir sederhana, ada kasurnya yang cukup nyaman untuk tidur dan beralas sprei batik warna merah hati yang terpasang waktu pertama kali saya datang. Saya ingat betul itu...

Kamar itu berada dibelakang aula cukup luas, yang cukup untuk mengaji sekitar 150 orang. Disebelah depan untuk ruang perpustakaan yang tidak dibuka setiap hari, hanya kadang-kadang saja apabila ada anak yang memerlukan literatur untuk pelajarannya. Kesannya cukup membuat bulu kuduk berdiri...Pantas waktu pertama kali saya tidur disitu sendirian (satu rumah), paginya saya ditanya sama anak-anak :’Mbak Nien,kok pemberani banget ya ? tadi malam bisa tidur ga mbak ?...’

‘Ya bisalah yauw..memangnya kenapa ?’ tanyaku kepada anak-anak.

‘Gak papa kok mbak…’ jawab mereka, ragu-ragu seperti menyembunyi- kan sesuatu.

‘Ada hantunya apa ?’ tanyaku asal saja kepada mereka.

‘Lho kok mbak Nien tahu ?’ tanya mereka penasaran.

‘Tahu apanya, saya ga tahu apa-apa kok, dan semalam saya tidurnya malah nyenyak banget..spreinya dingin..wangi..sepi gak ada yang ngganggu..gimana mau gak bisa tidur ?’ saya nyerocos memberi penjelasan kepada anak-anak yang mengerumuni saya.

‘Ah sudahlah gak usah dibahas sekarang, nanti kita ketinggalan jamaah subuh lagi.

Malam itu sepulang dari lumajang sebenarnya saya benar-benar tak bisa tidur...memikirkan anak muda yang saya temui siang tadi. Benar juga apa yang dia katakan. Katanya tadi siang, sepulang saya sampai kepondok saya sudah harus menolong orang. Benar sekali. Belum sampai masuk kamar saya, saya sudah harus menolong anak-anak yang kerasukan setan.

Urusan ini tidak tanggung-tanggung…

Biasanya urusan ngusir setan kan dilakukan oleh seorang Kyai, Ustad atau orang-orang yang memang sudah fasih baca Qur’an. Tetapi tadi, mengapa saya bisa melakukan ini semua. Padahal saya ngaji Bismillah saja belumlah khatam.

Ada apa dengan ini semua ? 

Kali ini tubuh saya benar-benar lemah lunglai tidak karuan. Rasanya seperti orang mau jatuh sakit. Setelah sholat isya’ sendirian (karena mau melangkahkan kaki untuk menuju ke musholla besar badan terasa sudah tak kuat lagi). Hari ini benar-benar banyak kejadian aneh yang tidak saya mengerti dan tidak saya sadari. Proses apakah ini ?

Paginya saya benar-benar jatuh sakit. Badan panas dingin, mau muntah tak bisa keluar. Tak ada nafsu makan blas. Saya sudah dikeroki sama anak-anak, juga dipijit ala kadarnya. Saya tidak minum obat dan tak pergi kedokter. Saya sangat alergi minum obat-obat kimia, jadi walaupun sakit sepanjang masih bisa saya tahan saya emoh kedokter, takut badan saya jadi tong sampah kimia !

Tiba-tiba ada anak pondok yang namanya Nunung..mendekat dan gantian memijit kaki saya. Enak sekali pijatannya. Sepertinya dia punya bakat besar jika mau mengembangkannya nanti, setidaknya untuk keluarga sendiri. Lama dia memijat ada satu jam...sudah berkali-kali kusuruh untuk berhenti, tapi tetap saja jari-jarinya memijit seluruh badan saya.

Tiba-tiba dia punya usul :’Mbak Nien, baiknya mbak Nien urut yang beneran aja mbak.., dibelakang pondok ini ada tukang pijat mbak, besok aku antar ya ?

Entah mengapa saya cuma mengangguk menerima tawarannya, tanpa komentar apapun.

Akhirnya keesokan harinya saya diantarnya kebelakang pondok untuk mencari tukang urut yang dia katakan kemarin.

Habis ashar kami berangkat dari pondok. Aneh ! kami sudah ketemu dengan empat tukang pijat...tapi tak satupun yang mau memijat saya...Ada yang beralasan lagi kurang enak badan, ada yang beralasan mau bepergian, dan ada yang terang-terangan bilang kalau tak berani memijat saya.

Saya sudah nyaris putus asa karena rasa badan sudah tidak karu-karuan, saya paksakan jalan kaki untuk mencari tukang urut. E...ini sudah ketemu sampai 4 orang kok semuanya tak sanggup memijit saya dengan berbagai alasan. 

Tapi Nunung terus memberi semangat kepada saya ‘sabar ya mbak…semua ini ujian mbak..jangan kuatir..masih ada satu lagi yang belum kita samperin mbak’ katanya menghiburku.

‘Ah sudah pulang aja lah Nung..aku sudah tidak kuat..’

‘Nanggung mbak sudah sampai sini. Oke begini aja mbak satu kali lagi kita cari ya mbak, nanti kalau yang ini ketemu juga gak mau pijat mbak Nien,ya udah kita pulang’

Akhirnya saya setuju. Kami berjalan lagi menyusuri gang demi gang untuk sampai kerumah tukang pijit yang mau kami kunjungi. Sampailah kami disuatu rumah. Sepi. Tak ada siapa-siapa. Tapi pintu depan terbuka lebar. Aneh.

Kami ucapkan salam berkali-kali. Bergantian antara saya dengan Nunung. Tapi tak ada sahutan seperti tak ada orang dirumah itu.

Tiba tiba kami mendengar suara erangan yang teramat lemah, yang datangnya dari kamar depan, dekat dengan pintu utama rumah itu. Tanpa kami sadari kami memberanikan diri untuk memastikan sumber erangan tadi. Saya dengan Nunung menuju kekamar depan. 

Benar..disitu ada seorang ibu yang sedang terbaring sakit. Rupanya yang mengerang kesakitan itu adalah ibu tadi. Sebelum masuk kamar saya dan Nunung bersamaan mengucapkan salam lebih dahulu. Ibu itupun menjawab salam kami dengan lirih. Setelah itu ibu tadi mempersilahkan kami agar masuk kekamar.

Legalah perasaan kami, lalu kami masuk kedalam kamar karena sudah mendapat ijin dari tuan rumah. Dengan hati-hati kutanya apanya yang sakit. Ibu itu mengatakan bahwa sudah lima hari ini dia terbaring tak berdaya dan tidak ada yang merawatnya. Saya tanyakan ibu itu tinggal dengan siapa dirumah itu. Ibu itu mengatakan bahwa ia tinggal dengan anak laki-laki satu-satunya yang masih seumuran anak SMA. Saya tanyakan kemana anaknya sekarang ? Ibu itu bilang mungkin sedang ke belakang.

Benar saja. Dari arah belakang muncul anak laki-laki seumuran anak SMA mendekat kearah kami. Kami mengangguk dan menyampaikan tujuan kami kesitu sebenarnya mau minta diurut oleh ibunya. Dia bilang :’Maaf ibu sendiri sedang sakit mbak...mungkin kapan-kapan kalau sudah sembuh’

Naluri menolong saya tiba-tiba muncul ketika melihat ibu yang kesakitan tadi tidak tega. ‘Ibu...apa ibu mau saya tolong sebisa saya’ Saya mohon ijin padanya. Ibu itu mengangguk. walau belum tahu apa yang akan saya lakukan. Coba bu tolong dibuka bajunya ya, saya kerok dulu supaya anginnya keluar...kata saya kemudian kepada ibu itu.

Lalu saya kerok seluruh badannya. Ya Alloh..merah hitam warnanya, menandakan kalau ibu ini masuk angin yang sudah sangat terlambat.

Terus saya minta tolong anak laki-lakinya agar memarut jahe, bawang merah, dicampur dengan minyak kelapa serta dicampur dengan minyak kayu putih kalau ada. 

Setelah selesai saya kerok, lalu saya urut sebisanya dengan minyak yang dicampur-campur tadi,  pelan pelan sambil saya berdoa semoga Alloh ijinkan ibu itu sembuh dari sakitnya karena kasih sayangNya semata.

Beberapa lama kemudian ibu itu kentut berkali-kali yang baunya minta ampun...Tapi saya tidak tersinggung dengan bau kentutnya, bahkan saya sangat bersyukur bahwa Alloh sudah berikan tanda-tanda kesembuhan karena racun yang ada dalam perutnya sudah mulai bisa keluar lewat kentutnya.

Benar saja, tak lama berselang setelah berkali-kali kentut, ibu itupun mulai bisa meluruskan kaki, tidak seperti tadi ketika awal saya datang posisinya meringkuk, lutut sampai hampir menekuk keperutnya saking menahan sakit yang katanya luar biasa.

Saya minta air teh manis panas yang encer kepada anaknya. Lalu saya berikan kepada ibu itu sesendok demi sesendok sampai tetes yang terakhir.

Subhanallah…setelah segelas teh itu habis…tiba tiba ibu itu kepingin bangun. Saya bilang jangan bu, ibu sebaiknya istirahat dulu. Dan saya berpesan sebaiknya jangan makan nasi keras dulu, tapi usahakan makan bubur atau nasi lembek...

Saya tanyakan kepada anak laki-lakinya bisa tidak nanak nasi yang lembek ? kalau tidak bisa, biar untuk makan nanti saya buatkan dipondok. Anak itu mengangguk. Sayapun lega.

Tiba-tiba saya melihat ibu itu sudah bangun dan duduk dipinggir tempat tidur, meski masih terlihat lemas, tapi sudah tidak menahan sakit. Dia lalu menangis, mengucap syukur alhamdulillah dan mengucapkan terima kasih yang sangat kepada kami berdua yang telah menolongnya dari ambang kematian katanya.

Karena waktu sudah sore maka kamipun pamitan dengan membawa segudang kelegaan dan rasa syukur yang sangat kepada Alloh karena telah diijinkanNya untuk menolong orang yang sangat membutuhkan…tanpa terasa saya malah jadi lupa dengan sakit yang saya rasakan sebelumnya. 

Aneh..Saya menjadi segar bugar seperti tidak terjadi apa-apa dengan diri saya seolah olah saya ini tidak sedang sakit. Demam sayapun sirna sudah. Sampai dipondok anak-anak sudah menunggu...

‘Enak ya mbak habis urut ?’

‘Dah sembuh ya mbak setelah diurut ?’

Celoteh anak-anak dengan opininya sendiri-sendiri.

‘Alhamdulillah…” Jawabku...

Tiba-tiba Nunung menjawab : ‘Apa..wong mbak Nien itu tadi bukannya urut tapi malah ngurut dan nolong ibu dibelakang yang sudah sakaratul maut tahu ndak ?’..Kerumunan anak-anak semua bengong..

Nah itu baru bagian awal dari kisah pertemuan saya yang pertama kali dengan orang ghoib yang pada akhirnya saya yakini sebagai Nabi Khidir As, Nabi yang diyakini masih hidup sampai kini oleh sebagian orang termasuk saya, dan diburu oleh orang-orang tertentu untuk bisa bertemu.

Berkah yang saya rasakan hingga kini adalah ya sejak saat itulah apa yang pernah disampaikan oleh beliau kepada saya benar adanya…Sejak saya bertemu dengan beliau itu sampai sekarang saya harus selalu menolong orang. Padahal saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya punya keyakinan Lahaula wala quwwata ila bilahil ‘aliyul ‘adziim.

Sesudah pertemuan itu, saya masih beberapa kali bertemu, nantikan kisah saya selanjutnya. 

“Semoga dapat diambil hikmahnya…”

Baca pertemuan ke-2-nya disini ! 

Terima kasih atas kunjungan kalian di Blog ini. Semoga Allah SWT. seniantiasa melimpahkan ampunan, keselamatan serta keberkahan yang luas kepada kita sekalian. Amin Yaa Robbal’alamin.


Edisi Revisi, Purworejo 13 Agustus 2024
 

Salam Tauhid Penulis,
NiniekSS

Disalin dari "BLOG NINIEKSS" Akun milik sendiri NiniekSS




BERTEMU “KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-1


 

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-1

 

Oleh : NiniekSS
 

Bismillah
 

Met jumpa lagi sobat, semoga siang ini Anda masih tetep sehat wal’afiat bersama keluarga Anda, dan apabila ada yang sedang sakit saya doakan semoga lekas mendapat kesembuhan dari Alloh SWT, apabila Anda sedang dirundung musibah semoga Anda dapat menerimanya dengan sabar dan tawakkal, dan apabila Anda sedang dirundung sedih semoga Alloh menghibur Anda dengan segala kasih sayangNya. Amien Ya Robbal Alamin.
 

Sahabat  yang  saya kasihi dimanapun Anda berada…

Ketika saya sedang  menyempurnakan konten dari  website saya blog niniekss, tiba-tiba saya ingin membagi pengalaman saya ketika saya bertemu dengan ‘sosok ghoib’ yang pada akhirnya saya yakini beliau adalah Nabi Khidir As, yang sering diperbincangkan orang, yang masih menjadi perdebatan pro dan kontra keberadaannya.

Keyakinan saya tentu saja berdasarkan riset yang panyang, bertahun-tahun melalui proses pemahaman keimanan dan metafisika yang saya peroleh dalam perjalanan waktu yang saya lalui selama ini.
 

Kuteruskan soal Nabi Khidir ya ?

Tahun 1992 adalah masa yang paling tidak bisa saya lupakan dalam hidup saya ! karena waktu itu saya merasa didunia ini hanya ada saya dengan Alloh SWT.

Bagaimana bisa demikian ? Waktu itu saya benar-benar TERBUANG ! Karena waktu itu saya HIJRAH dari agama kristen kembali ke agama semula saya ISLAM yang agung...

Melalui pertolongan Cak Nun (Emha Ainun Najib) akhirnya saya berhasil mondok di Pesantren Putri Zaennab Shidiq Jember…setelah sebelumnya saya diberi sepucuk surat rekomendasi dari Cak Nun untuk menghadap Bapak Kyai Hassan Sahal di Pondok Pesantren Putri Gontor Ponorogo. (Maaf saya lupa deh namanya…)

Saya diantar oleh Beliau Pak Kyai Sahal dengan kendaraan kijangnya untuk meninjau 3 pondok pesantren putri yang beliau kelola waktu itu. Satu persatu saya amati dari masing-masing pondok putri yang kami datangi.

Saya bingung ketika Pak Kyai Sahal bertanya sepulang dari ketiga tempat itu : “Mbak…sampeyan mau milih mondok dimana ? ” Saya sangat bingung untuk menjawabnya karena dari ketiga pondok putri yang saya datangi itu ternyata saya tak mampu menangkap perbedaan maupun kelebihan satu atas yang lainnya.

Mana yang harus saya pilih ? Apanya ? karena ketiganya punya nuansa yang hampir sama saja ! Yah begitulah suasana pondok, dimana mana terkesan sama, kederhanaan dan ketidakteraturan...

Rupanya Pak Kyai Sahal yang arif itu mampu menangkap kebingungan- ku.. Tiba-tiba beliau bertanya : “Mbak, sampeyan sudah bisa baca Al Qur’an belum?” Saya menjawab serta merta dengan penuh kejujuran : “Belum pak Kyai” (dengan bahasa jawa yang medhok dan dalam adab yang sangat sopan, saya memang sangat menghormati para ulama yang saya temui, saya sangat takut akan azab Alloh kalau saya sampai berlaku tidak sopan kepada para kekasihNya ).

Dengan jawaban saya yang jujur itu, diluar dugaan,  sepertinya Pak Kyai sangat kecewa dengan saya karena belum bisa membaca Al Qur’an. Akhirnya sayapun disuruh kembali kepada Cak Nun, dengan pesan, agar belajar baca Al Qur’an dulu kepada Cak Nun nanti kalau sudah bisa membaca Al Qur’an supaya kembali lagi kepada beliau.

Sayapun kembali menemui Cak Nun dan menyampaikan pesan Pak Kyai Sahal apa adanya. Waktu itu Cak Nun bertanya kepadaku begini : ‘Sampeyan mau gak nek tak kirim keseluruh Indonesia?’ (maksudnya mungkin kemanapun daerah diseluruh Indonesia yang akan dipilih Cak Nun untuk mengirimku kesana). ‘Saya siap Cak !’ jawabku penuh semangat.

Lalu Cak Nun kembali menyuruhku untuk menemui seseorang di daerah Jember, Jawa Timur. Cak Nun membekali saya dengan sepucuk surat dan uang yang waktu itu cukup untuk transport naik bis sampai ke Jember…
Singkat kata akhirnya sampailah saya ke Jember, dan alhamdulillah berhasil menemui alamat yang ditunjukkan oleh Cak Nun. 

Dirumah sahabat Cak Nun ini saya ada kurang lebih sebulan, saya belum tahu apa yang harus saya perbuat disana... Kebetulan sahabat Cak Nun ini orangnya sangat baik, tapi entahlah mengapa selalu menahanku setiap kali saya akan mencari informasi tentang Pondok Pesantren Putri yang kubutuhkan.

Akhirnya sayapun nekad. Tanpa sepengetahuannya saya keluar jalan-jalan, memang sengaja hari itu saya mau mencari info tentang pondok pesantren. Alhamdulillah hari itu juga saya menemukan pondok yang saya cari, ialah Pondok Pesantren Putri Zaennab Shidiq dibilangan pasar Tanjung tempatnya.

Saya mondok disitu ada kurang lebih satu tahun lamanya. Banyak hal yang saya serap dan pelajari disana. (Lain kali saya akan bagikan suka duka berada di pondok pesantren Ya sobat? )

Oh ya…Suatu hari…Saya merencanakan akan pergi menemui orangtua dari teman mondok saya, dirumahnya, daerah lumajang. Untuk mengutip premi asuransi. Saya sudah berkunjung sebelumnya, orangtua teman saya tertarik untuk mengambil polis Asuransi melalui saya. ( Waktu itu saya mondok, namun mendapat ijin dari Ibu Nyai Pondok untuk sambil bekerja diluar pondok, saya waktu itu sebagai Agen Asuransi Bumi Putra Jember ). 

Nah waktupun telah kami tetapkan bersama, kapan pembayaran premi akan dilaksanakan. Waktu yang telah kami tetapkanpun tiba. Tapi pada hari ‘H’nya saya tak punya uang sepeserpun untuk bepergian. Wah dilematis sekali waktu itu. Saya paling tidak suka ingkar janji, tapi gimana dong mau pergi tidak ada uang ?

Alhamdulillah pagi-pagi sekali setelah turun jamaah sholat subuh, ibu Nyai tiba-tiba menghampiri saya, saya pikir saya punya salah apa, kenapa Ibu Nyai mau menghampiri saya ?  Tidak tahunya saya ditanya : “Mbak Nien jadi mau ke lumajang gak ?” (dalam bahasa jawa krama inggil kepada saya). Wah saya juga bingung mau menjawab apa ? kalau saya jawab ‘jadi’ dengan apa saya mau berangkat, uang saja tidak punya? Tapi kalau saya jawab ‘tidak’ apa alasan saya?

Hubungan saya dengan Ibu Nyai dekat sekali karena saya sering memijat ibu apabila ibu kurang enak badan...kata beliau pijatan saya enak sekali (eh narsis sedikit kan tidak apa-apa to? , memang terbukti kok belum sampai selesai setiap kali saya memijat, beliau selalu saja sudah ketiduran he..he..). 

Dalam kedekatanku ini kami sering saling curhat tentang masalah-masalah yang terjadi diseputar pondok. Karena ditanya saya lama tidak menjawab, maka Ibu Nyai berkata : “Mbak, kalau mbak Nien mau pergi tidak punya uang, bisa pakai uang ibu dulu kok, jangan dibatalkan perginya, ini menyangkut janji dan soal rizky, jadi baiknya mbak Nien berangkat saja’. Pucuk dicinta ulampun tiba.

Akhirnya dengan ‘semangat 45′ pun berangkatlah saya menuju ke Lumajang rumah teman saya. Sepanjang perjalanan hati saya berbunga-bunga membayangkan komisi yang akan saya terima nanti jika orang tua dari teman saya jadi membayar premi asuransi seperti yang dijanjikan dalam pertemuan sebelumnya.

Hampir tiga jam perjalanan dari Jember kerumah teman saya tak saya rasakan. Sesampai dirumah teman saya, saya disambut hangat oleh kedua orangtuanya. Sampailah waktu yang saya tunggu-tunggu. Bapak teman saya memanggil saya untuk membicarakan asuransi. Saya sudah tidak sabar untuk mendengarnya. Saya sudah tidak sabar menunggu Bapak teman saya mengambil uangnya dan menyerahkannya kepada saya sebagai pembayaran preminya.

Alangkah kecewanya saya ketika Bapak teman saya meminta maaf bahwa pembayaran preminya terpaksa ditunda karena beliau harus membayar kekurangan dana ONH (Ongkos Naik Haji). Awalnya Bapak teman saya mau berangkat sendiri, tetapi belakangan isterinya mau ikut serta sekalian, jadinya uang yang sedianya mau untuk membayar premi terpaksa ditunda.

Saya sangat kecewa sebenarnya, tetapi kekecewaan itu segera saya tepis jauh-jauh. Bukankah naik haji adalah tujuan yang sangat mulia, tujuan yang sangat dirindukan oleh setiap orang muslim, mampu maupun tidak tetap mempunyai kerinduan untuk bisa sampai ke Mekah bukan? Mengapa saya harus egois? harus kecewa? bukankah saya harus mendukungnya siapapun orangnya yang hendak berangkat? Sayapun sangat ingin suatu saat nanti bisa naik haji. Insya Allah…

Saya pulang dengan lemas. Namun dihadapan orangtua teman saya dan dimuka teman sayapun saya berusaha untuk menutupi kekecewaan saya. Dalam perjalanan pulang keadaannya 180 derajat dari sewaktu berangkat tadi. Lemas..

Stop sebentar disini sobat….!!!

Belum lima menit saya naik angkot..waktu itu saya naik kendaraan L300..dan saya memilih duduk didepan walau sebetulnya dibelakang masih longgar tempat duduknya. Entahlah saya selalu memilih tempat didepan apabila naik kendaraan umum sampai sekarang ! Lha iyalah Yauw...karena kalau didepan kan bisa melihat pemandangan lebih leluasa. Ya kan?

Tiba-tiba ada anak muda yang nyetop (menghentikan kendaraan yang saya tumpangi )...Usianya tak lebih 25 tahun kira-kira. Dia memilih duduk disamping saya.. Aneh, sebelum membuka pintu kendaraan dia mengucapkan salam dulu..’Assalamu’alaikum…’ Saya balas salamnya ‘Waalaikumussallam…’

Pada pertama kali jumpa saya sudah merasa aneh dengan salamnya, karena tidak lazim di Indonesia selama ini, ada orang mau duduk disamping kita dalam kendaraan umum mengucapkan salam lebih dulu.
Kesan saya yang lain merasa aneh mengapa memilih tempat disebelah saya, bukan dibelakang ? Bukankah dibelakang masih banyak tempat yang masih kosong ? Apakah dia sama dengan saya sukanya duduk disebelah depan ?

Ah pusing amat mikirin dia. Nafsi-nafsi…he..he..
Kesan saya terhadap anak muda itu, kumuh dekil, baunya sangat amis, oh ternyata setelah saya perhatikan bau amis itu berasal dari eksim dikedua punggung tangannya yang membusuk bernanah. Luka itu melingkar sebesar tutup gelas kedua-duanya. Saya mau muntah rasanya…

Tiba-tiba saya ingat bahwa Alloh menilai manusia bukan dari tampilan fisiknya, tetapi Alloh melihat dari taqwanya. Astghfirullahaladziim…saya segera istighfar dan sungguh-sungguh mohon ampun kepada Alloh SWT. atas kekhilafan saya ini.

Tiba-tiba anak muda ini berkata : “Mbak sampeyan ini kok kasihan benar...sepanjang hidup sampeyan selalu menderita, tak pernah seneng…tapi tak apalah..nanti sampai di jember sampeyan gampang kalau mau cari uang banyak. Bahkan sampeyan sebelum umur 39 tahun sudah harus menolong orang. Sampeyan nanti bakal didatangi banyak orang, bahkan sampeyan sepulang ke pondok nanti sudah harus menolong orang’ katanya.

Saya menjawab ngeyel semaunya : ‘Wealah..sampeyan ini baru aja kenal dengan saya kok sudah meramal yang bukan-bukan to mas ? memangnya sampeyan ini tukang ramal ya ?’ (walau dalam hati saya jujur saja sangat takjub atas semua apa yang disampaikan kepada saya, karena semuanya benar, tak ada satupun yang salah).

‘Benar mbak. Semua yang saya sampaikan kepada sampeyan adalah sebuah kebenaran..jadi percayalah sama saya..’ katanya kepada saya.

Oh ya saya lalu bertanya kepadanya :’Mas, sampeyan rumahnya mana ? apa ditempat  tadi yang sampeyan nyetop kendaraan ini ya ?’ Saya penasaran. Dia menjawab :’Oh bukan. Saya akrab dengan semua penghuni lautan mbak..Saya bertanya lagi makin penasaran :”Oh..sampeyan nelayan ya?” Dia tersenyum dan menjawab lagi : ‘ Bukan mbak…saya ini mengenal seluruh penghuni lautan satu persatu dan saya akrab dengan semuanya…’

Ah saya pusing mendengarkan uraiannya. Saya waktu itu belum mengetahui bahwa Khidir adalah seorang nabi yang akrab dengan seluruh penghuni lautan karena memang hidup beliau adalah konon ditepi laut.

Saya lalu bilang :’O sampeyan ini manusia dari planet mars apa ? kok aneh-aneh saja yang sampeyan katakan.’Tidak mbak..saya manusia biasa, tapi saya suka menolong orang yang menderita seperti sampeyan ini’ katanya kepada saya.

Dia lalu mengatakan kepada saya bahwa didunia ini ada ilmu cahaya…ilmu jalan lurus…dan ilmu tentang air….
Dia bilang lagi…Sampeyan akan bisa menguasai ilmu-ilmu ini, asal sampeyan tetap bisa mempertahankan keimanan yang sampeyan punyai sekarang ini, dan sekali-kali
janganlah meninggalkan sholat…!!! pesannya.

Dia menyampaikan nasehatnya itu dengan penuh penekanan ketika mengatakan kata ‘sholat’. Bulu kuduk saya berdiri ketika menulis ini ingat akan peristiwa itu.

Lanjut Ya Sobat…?

Tiba-tiba terdengar suara kenek :’Arisan…arisan!..’ Maksudnya dia meminta ongkos. Langsung saya berikan uang kepada kenek itu sambil bilang :’Dua mas’..Kenek itu bertanya :’dua dengan siapa mbak ?’ Saya menjawab :’Ya dengan masnya ini to yang duduk disamping saya ini, sambil tangan saya menunjuk kearah anak muda yang ada disamping saya.

Kenek itu seperti bengong, dan saya hanya harus membayar untuk satu orang. Anak muda itu tidak ditarik bayaran, alias gratis. Lalu anak muda itu bertanya kepada saya :’Mbak sampeyan itu mbayarin siapa ?’ Saya bilang :’Ya mbayarin sampeyan itu to? kasihan, sepertinya tidak bawa uang ya ? saya menjawabnya sambil bercanda. Anak muda itu berkata kembali :’Mbak..mbak..saya ini mau ke Mekah sehari tujuh kali tidak bakal saya ditarik bayaran.’ Rupanya anak muda itu tidak terlihat oleh siapapun juga kenek L300 tersebut. Wallohua’lam.

Setelah itu sayapun mulai berhati-hati dan menempatkan diri. Sayapun mulai bertanya-tanya tentang siapakah sebenarnya anak muda itu ?
Dari rumah teman saya sampai ke Jember naik kendaraannya berganti empat kali. Sampai ke terminal Tawang Alun Jember anak muda itu terus membuntuti saya, sampai saya tak enak sendiri.  Punya maksud apa sebenarnya anak muda ini terhadap diri saya ?.

Ketika berada diterminal Tawang Alun, anak muda itu turun dari kendaraan yang kami tumpangi, saya mengikuti dibelakangnya untuk turun juga. Dia bilang : ‘Mbak..tunggu saya disini ya? sampeyan jangan kemana-mana. tolong tunggulah saya disini sebentar, saya mau kekamar kecil, sebentar saja’

Saya seperti di hipnotis waktu itu,  seolah tak berdaya untuk menolak permintaannya. Ketika dia pergi menuju kekamar kecil, sayapun duduk dikursi tempat tunggu para penumpang bus. Mata saya mengikuti kearah perginya anak muda itu. Dia saya lihat memang masuk kesalah satu kamar kecil yang ada disitu. Mata saya sekejabpun tidak lepas dari kamar kecil itu.

Tiba-tiba ada seorang pemuda yang berpakaian putih-putih keluar dari kamar kecil dimana anak muda tadi masuk. Dan pemuda yang berpakaian putih-putih itupun langkahnya jelas menghampiri saya, wajahnya bersinar cemerlang, dari arah beberapa meter sudah tercium wangi aroma dirinya..Wangi yang belum pernah kukenali sebelumnya.. dan sepertinya wangi yang begitu asing didunia.

Saya berdiri gemetar menyambut kehadirannya. Wajahnya memang mirip dengan anak muda kumal yang sepanjang Lumajang Jember bersama satu kendaraan dengan saya tadi. Tapi nanah dikedua punggung tangannya sudah tidak ada, menghilang kemanakah gerangan ?

Dia seperti memahami keterpanaan saya..Dia langsung mengajak saya untuk naik angkot yang menuju kejurusan pondok pesantren saya..Kali ini suasananya sudah lain. Saya tidak berani berkata-kata apapun. Ketika sampai dipertigaan jalan yang menuju ke tempat pondok pesantren saya, saya memberinya isyarah agar turun, karena telah sampai.

Dia mengatakan bahwa tujuannya hendak ziarah kemakam Kyai Shidiq, Ulama Sepuh Jember yang sangat kesohor. Sayapun memanggil dua becak, maksudnya satu untuk saya naiki, dan satunya lagi untuk mengantar anak muda itu ke makam Kyai Shidiq. Karena yang memanggil becak itu saya, maka saya bayar becak yang dia tumpangi.

Waktu itu pak becaknya meminta ongkos 300 perak. Saya masih ingat betul waktu itu uang saya 500 rupiah, ketika kembalian yang 200 itu saya terima, dimintanya sama anak muda itu sembari berkata : “Mbak, saya minta ikhlasnya kembalian ini ya ? ini bukan untuk saya tapi untuk sampean. Agar saya bisa selalu mendoakan sampeyan sampai kapanpun dan dimanapun sampeyan berada”.

Oke saya putus sampai disini dulu ya sobat? cerita saya belum usai nih tunggu lanjutannya besuk ya? Lebih seruu lho…Bersambung ke Bagian 2nya disini !

Terima kasih atas kunjungan kalian di Blog ini. Semoga Allah SWT. seniantiasa melimpahkan ampunan, keselamatan serta keberkahan yang luas kepada kita sekalian. Amin Yaa Robbal’alamin.

Edisi Revisi, Purworejo 8 September 2024


Salam Tauhid Penulis,
NiniekSS


Disalin dari "BLOG NINIEKSS" Akun milik sendiri NiniekSS


RENUNGAN TENTANG SEMUT - SEMUT KECIL


 

RENUNGAN TENTANG SEMUT - SEMUT KECIL 

 

Bismillahirrahmanirrahiim...

Salah sebuah kajian sederhana yang membuat “perubahan besar” dalam kehidupanku. Bahwa semut kecil adalah mahkluk ciptaan Allah. Yang mempunyai hak hidup yang sama dengan makhluk ciptaan yang lain termasuk manusia. Punya rasa sakit. Bisa berdzikir. Bisa mengadu kepada Tuhannya jika teraniaya. Ada hubungan pembunuhan semut-semut kecil dengan keberuntungan manusia. Ingin tahu ? Penasaran ? Baca disini.

Sahabat NiniekSS dimanapun berada...

Dulu dalam perjalanan aku sakit, pernah terjadi keadaan yang menurutku teramat sangat memprihatinkan. Aku sedang dalam kondisi sakit maag dan asam lambungku yang sangat parah. Sehingga untuk bangun dari tempat tidur saja memerlukan perjuangan yang besar. Dari posisi berbaring ke posisi duduk, rasanya lemas sekali tak ada tenaga. Rasa dingin menusuk tulang selalu menyerang setiap saat, meskipun hari terik menyengat. Mata berkunang-kunang. Tubuh gemetar dan lemas. Keringat dingin membanjiri tubuh. Lambung rasanya pedih kaya disobek-sobek.

Saat itu jam 11 siang. Aku masih ingat betul. Nanti jam 1 siang Addin putriku satu-satunya yang waktu itu masih sekolah di SD, pulang. Dirumah hanya ada nasi sisa makan pagi. Tak ada sesuatupun yang bisa untuk teman makan anakku. Telor tidak. Mi tidak. Sayur tidak. Apalagi lauk. Garam juga pas habis. Kecap sachetan, 2 sachet yang mampu terbeli, tadi pagi adalah sachet terakhir untuk sarapan anakku teman nasi. Sebentar lagi Addin pulang. Blas tak ada sesuatupun untuk teman nasinya. Jiwaku seperti dibelah-belah. Benar-benar merasa Tuhan tidaklah adil. Sementara sebelah rumahku adalah ibu muda cantik pegawai Bank, dan suaminya pejabat pabrik rokok yang kaya raya, rumahnya mentereng, mobilnya 4 biji dengan harga masing-masing ratusan juta rupiah.

“Mengapa Engkau sandingkan aku yang Engkau beri kondisi seperti ini dengan tetangga yang berkelimpahan seperti itu Ya Allah.  Apa KehendakMu” pertanyaanku dalam hati..Aku tak pernah mengiri kepada kebahagiaan orang lain, hanya heran pada ketentuan takdir untuk masing-masing orang.

Aku kemudian merangkak bangun dari pembaringan, sekuat tenaga aku duduk, perlahan, lalu sujud di lantai yang tegelnya sudah pecah-pecah dimakan usia. Sudut mataku selalu menangkap lemari pakaian satu-satunya milikku yang kondisinya sudah tak pantas disebut lemari, karena separuh pintu penutupnya sudah bolong dimakan rayap. Walaupun namanya lemari pakaian tapi pintunya sudah bolong separuh, melompong, sehingga semua baju usang yang ada didalamnya kelihatan semua. Ya bajuku, baju suamiku serta baju Addin anakku ada disitu. Bertahun-tahun lemari itu berkondisi seperti itu, saking tak pernah ada uang tersisa untuk sekedar memperbaikinya agar tertutup.

Aku kemudian sujud.  Dengan air mata yang bercucuran aku memohon kepada Allah:”Ya Allah, Jika Engkau ada untukku, berilah aku sayuran mentah, untuk teman makan anakku Ya Allah..Jangan Engkau uji aku dengan sesuatu yang aku tak mampu menjalaninya. Saat ini aku tak punya apa-apa. Tapi aku tak meminta lebih. Aku hanya minta sayuran ala kadarnya untuk anakku. Anakku sebentar lagi pulang Ya Allah. Masih ada waktu untukku memasakkan anakku. Aku yakin Engkau akan memberinya karena aku tak pernah meminta lebih daripada apa yang kubutuhkan.  Dan tunjukkan dosaku yang mana Ya Allah sehingga fakirku Engkau jadikan sedemikian”  Itulah doaku dalam sujudku...

Sungguh ajaib. Tak berapa lama, ada teman sepenanggungan kami namanya Pak Santo. Tiba-tiba mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Akupun membalasnya. Ternyata Pak Santo datang sambil membawa 2 bungkus sop-sopan mentah. Sembari bilang :”Mbak Nien, aku kok aneh yo, aku ki ke warung mau cari sop-sopan. Kok tiba-tiba aku inget mbak Nien. Yo wislah aku beli 2 satunya untuk mbak Nien yo ? Dah masak belum?” (Mbak Nien, aku kok merasa aneh ya ? Aku itu tadi baru saja ke warung, mau cari sop-sopan. Tiba-tiba aku kok ingat Mbak Nien. Ya sudah aku beli 2 bungkus, satunya untuk Mbak Nien. Sudah masak belum ?). Aku menggeleng sambil tak mampu membendung air mataku. Aku tanpa malu sujud syukur disaksikan Pak Santo. Suamiku yang sedang membuang sampah tak lama kemudian datang. Subhanalloh. Doaku didengar Allah dan langsung dikabulkanNya.

Dengan badan sempoyongan tak karuan, segera kumasak sop-sopan. Matanglah sudah sayur sop kesukaan anakku. Lalu aku kembali ke pembaringan lagi dengan tubuh tak karuan rasanya. Alhamdulillah Ya Allah..Akhirnya anakku lahap makan siang dengan nasi dingin pagi + sayur sop yang masih hangat. Anakku tak pernah menuntut minta lauk ini atau itu. Apa yang ada selalu dimakan. Apalagi porsi makannya hanya sedikit.
 

Soal Renungan tentang semut-semut kecil...

Aku punya kebiasaan, ketika dulu sakit, sehabis sholat subuh membersihkan gelas kotor bekas minum teh tamu semalam. Karena memang kami sering banyak tamu. Jika saya pas sehat, malam itu juga gelas-gelas yang kotor selalu kucuci. Tapi jika badanku lagi tak nyaman, gelas-gelas kotor itu kubiarkan hingga pagi harinya barulah kucuci. Nah aku punya kebiasaan jahat waktu itu, jika ada semut-semut yang mengerubungi gelas langsung kuketuk-ketukkan terbalik, dan sisa semut yang menempel pada gelas , yang masih hidup, langsung kuguyur dengan air untuk segera kucuci. Tanpa perasaan !

Tapi pagi subuh itu, ada pikiran yang melintas. Semut itu kan makhluk. Dia hidup. Dia juga punya rasa sakit. Dia bisa berdzikir. Dia juga bisa berdoa kepada Allah jika teraniaya. AKU TERSENTAK !!! Tiba-tiba aku dihantui ketakutan yang sangat. Membayangkan, betapa menderitanya ketika semut-semut itu kuguyur dengan air, agar gelasnya bersih ? Astaghfirullahaladziim. Berarti ketika semut-semut kecil itu kuguyur dengan air tentu rasanya seperti seseorang yang terkena gelombang tsunami. Aku membayangkan, apa doa yang semut-semut itu naikkan kepada Allah ketika semut-semut itu mendapat perlakuan aniaya dariku ?

Saat itu aku lalu taubat nasuha sejadi-jadinya untuk satu dosa kepada semut-semut kecil itu. Aku sangat menyesal, dan membayangkan penderitaannya ketika kuguyur dengan air banyak. Aku berharap dengan sangat Allah berkenan mengampuni dosaku yang satu itu. Bukankah aku sering berdoa :”Ya Allah, tunjukkan dosaku yang mana Ya Allah, sehingga fakirku Engkau jadikan sedemikian ?”

Sungguh aneh, setelah itu, tak lama kemudian, sejak pagi hari hingga sore, tak putus-putusnya rejeki datang dari mana-mana. Ada saudara yang datang ngasih uang. Ada tetangga yang ngasih beras. Ada teman yang bawa telur mentah, gula dan teh. Bahkan Bu RT. datang membawa ayam bumbu bacem yang enak sekali dan kue mahal yang lembut...Saya lalu membatin :”Apa-apaan ini Ya Allah?”. Terharu. Gembira. Bersyukur. Campur aduk. Saya sujud syukur atas kejadian yang menghebohkan itu.

Sejak saya memuliakan semut, menunggu semut-semut kecil yang merubungi sisa teh dalam gelas pergi semuanya sebelum kucuci, sejak saya tak pernah lagi membunuh semut-semut kecil dengan biadab tanpa perasaan, meski seekorpun, rejeki selalu datang mengalir seperti anak sungai hingga sekarang.

Inilah yang ingin kusampaikan kepada kalian teman-temanku semua, jangan putus asa untuk memohon kepada Allah, tentang dosa-dosa kita yang menghijab turunnya Rahmat dan Karunia Allah kepada kita yang membuat hidup kita jadi susah, sulit, banyak masalah, banyak hutang, tak rukun dengan pasangan hidup, suka marah, iri dengki, pencemburu, jadi susah faham, susah ibadah, jauh dari rasa cinta, jauh dari kebahagiaan. Semua bersumber pada DOSA-DOSA YANG MENGHIJAB diri.

Itulah yang selalu kuburu dalam setiap doa-doa saya, ketika satu dosa Allah tunjukkan, kita bertaubat, Allah mengampuni, maka hilang lagi satu penderitaan, sehingga setiap kali kehidupan kita terus semakin bahagia dan bahagia. Dan terus makin enteng jiwa kita, dan sedikit-demi sedikit kita secara otomatis menjadi semakin berkurang kecintaan kita kepada dunia, beralih kepada memikirkan akherat, yang selalu kita rindukan. Semua apa yang kita kerjakan berkiblat ke akhirat, karena dunia ternyata menjerumuskan, dan mengerikan dampaknya.

Setelah kejadian itu, ada lagi keajaiban yang lain.

Ketika itu bulan Ramadhan. Seneng dengan kedatangannya, tapi sedih banget, karena dalam keadaan sakit harus menyediakan menu untuk buka dan makan sahur anak dan suami. Yang tentu sangat menyulitkan dan merepotkan dalam kondisi saya yang maagnya sedang parah. Nah diluar dugaan. Dari Ramadhan hari pertama hingga Ramadhan hari terakhir menjelang takbir, Ibu RT. selalu setiap hari mengirim makanan komplit. Dari mulai sayur, lauk, snack, dan buahnya.  Layaknya seperti saya langganan kuliner dari restaurant bergengsi. Karena makanan yang diberi oleh Ibu RT. cukup istimewa setiap harinya. Sering setiap kedatangan Bu RT. mengantar masakannya, saya peluk, saya ciumi pipinya sambil berderai air mata, saking bersyukurnya kepada Allah, berterima kasih kepada Bu RT. Yang hatinya bagaikan malaekat.

Siapa yang takkan takjub atas kasih sayang Allah kepada keluarga kami khususnya kepada saya ? Saya pada Ramadhan itu benar-benar merasa dimanjakan oleh Allah. Sebulan full tidak perlu mikir bagaimana mencari uang ? Mau masak apa ? Karena sudah selalu diantar setiap hari dengan masakan yang enak-enak oleh Bu RT. Komplit !!! Subhanalloh Allah Hu Akbar.

Saya yaqin banget, bahwa hal ini salah satu juga yang telah menjadi asbab sembuhnya sakit maag saya, karena sebulan full bebas dari berpikir. Bukankah orang sakit maag, tak boleh banyak pikiran ? Maka setiap datang bulan Ramadhan, saya selalu ingat kebesaran Allah dalam menyayangi salah satu hambaNya. Saya. Dalam setiap detik-detik yang berlalu disepanjang bulan Ramadhan, hanyalah ada air mata syukur dan syukur yang tiada henti. Itulah salah satu perjalanan kesembuhan saya.

Sampai disini dulu kisah saya, semoga manfaat. Sampai jumpa insya Allah pada artikel yang akan datang. Jika banyak salah dan khilaf saya pada pembaca. Mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah juga mengampuni semua dosa-dosa kita, serta selalu berkenan menunjukinya kita jalan yang benar. Aamiin Ya Rabbal’alamiin. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Purworejo 10 Mei 2020
Salam Penulis,
NiniekSS

 


 

BERJUANG PUASA DIWAKTU SAKIT MAAG


 

BERJUANG PUASA DIWAKTU SAKIT MAAG 

 

Bismillahirrahmanirrahiim...

Tentu tulisan ini sangat kalian tunggu-tunggu dari sejak lama. Iya to ? Saya sangat tahu apa yang kalian rasakan, apa yang kalian butuhkan disaat kalian sakit. Tahu banget. Karena semua keluhan sakit yang kalian rasakan tu pernah saya rasakan.

Kalian hendaklah jangan banyak mengeluh. Tapi banyaklah bersyukur dalam keadaan yang bagaimanapun ! Sebab kalian harus sadari, bahwa sakit kalian ini bukan sekedar Allah ingin menghukum kalian atas dosa-dosa yang kalian perbuat dimasa lalu. Namun ada kehendak Allah yang jauh lebih mulia dari sekedar menghukum-hukum.  Tapi Allah ingin agar kita itu masuk surga semua ! Kalau perlu tak ada yang ketinggalan satupun !

Nah. Ada dua macam pencucian dosa. Yang didunia. Dan yang di akherat. Yang didunia, bentuknya sakit penyakit. Kesulitan. Musibah. Terbelit hutang. Anak tak naik sekolah. Tak lulus ujian. Sulit mendapatkan pekerjaan. Dibenci orang. Rejeki seret. Segala jalan seolah buntu. Ya mau-mau Allah to ? Wong Allah itu Maha Berkehendak kok. Dan pencucian dosa di akherat, ya itulah neraka.

Di dunia, sesulit dan semenderita apapun pencucian, masih ada pengampunan, jika kita mau memohon ampunan dengan taubatan nasuha, secara istiqomah dan bersabar dalam menjalaninya. Tidak malah misuh-misuh. Maki-maki. Orang disekitar yang tak ngerti apa-apapun terkena makian kita !

Lha kalau kita sudah masuk pencucian di neraka, pintu ampunan sudah tertutup rapat. Mau apa kita ? Meskipun ketika kita di neraka berjanji kepada Allah :”Ya Allah, kuberikan seluruh hartaku didunia, asal aku Engkau bebaskan dari azab api neraka ini Ya Allah...”.

"Enak nian kau. Meskipun hartamu berjibun, bertrilyun, namun kau menyepelekan Aku ketika didunia. Semua hukumKu engkau langgar. Hukum Al Qur’an kau injak-injak. Engkau mendzalimi dirimu sendiri dengan kesombongan atas semua harta yang Kutitipkan padamu hai manusia tak tahu diuntung !" Mungkin begitulah Kata Allah kepada manusia-manusia yang laknat didunia dan mengingkari segala hukumNya. Baru tahu rasa kalau sudah tak ada ampunan lagi di akherat.

Nah kita, yang sekarang masih di dunia ini, yang sedang mengalami pencucian oleh Allah, dengan sakit ini, ataupun kesulitan yang lain, harusnya bersyukur, harusnya merasa beruntung, karena masih diberi kesempatan. Dicuci untuk menjadi yang lebih baik.

Dan pada setiap bulan Ramadhan, Allah memberikan dispensasi yang luar biasa kepada kita Umat Rasulullah SAW. Membuka tingkap langit selebar-lebarnya untuk turunnya Rahmat, ampunan serta kebebasan api neraka bagi kita. LUAR BIASA bukan ?

Siapa yang tak ingin menggapainya ? Siapa yang tak merindukan lailatul Qodar yang ada pada suatu malam di bulan Ramadhan, dimana ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qodar itu pahalanya setara dengan pahala ibadah seribu bulan ? Subhanallah..

Sahabat NiniekSS yang sedang berpuasa Ramadhan...

Puasa adalah perjuangan

Saat ini, bagi kalian yang sedang sakit maag atau gerd, yang berpuasa, kalian adalah benar-benar sedang berjuang. Sedangkan hari-hari biasa jam 6 pagi kalian harus sudah minum air hangat, sebentar kemudian sarapan, kalau tidak perut sungguh perih tak nyaman. Lha kalian, dalam puasa ini harus menahan segala rasa untuk bertahan hingga maghrib tiba.

Yang lambung perihlah. Yang mual mau muntahlah. Yang kembunglah. Yang menahan lapar luar biasalah. Yang super lemaslah. Hari biasa saja lemas. Apalagi puasa..Belum yang tenggorokan keringlah..ingin rasanya memutar jarum jam yang sangat lambat berputar.  Ya Allah..Kita menjadi lebih dari anak-anak, saat berpuasa ketika sedang sakit maag. Malu rasanya dengan anak-anak kita yang masih kecil usia SD saja terlihat tegar menjalani puasanya.

Ya memang seperti itulah derita puasa bagi orang yang sedang sakit lambung. Luar biasa ! Belum lagi membayangkan nanti sesaat sesudah berbuka. Dari lambung kosong lalu terisi oleh makanan serta minuman berbuka. Teler deh ! Orang Jakarta bilang ! Meskipun sembari merasakan teler saat berbuka, namun ada sebersit kebahagiaan serta rasa syukur yang mendalam. Alhamdulillah, hari demi hari telah terlewati dengan selamat.

Kalian harus berjuang menyelesaikan puasa. Dengan sekuat jiwa dan raga. Hingga benar-benar kalian merasa tak kuat, hingga harus membatalkan puasa sebelum waktunya. Meskipun batal puasanya. Namun jangan lupa. Ketika kalian membatalkannya, harus membaca doa berbuka puasa. Tidak asal minum. Lalu mohon ampunan kepada Allah bahwa memang tak kuat untuk melanjutkan puasa hari ini. Dan besuknya. Ayo dicoba lagi. Sampai kalian lulus puasanya. Terus. Terus dan terus dicoba, hingga berhasil.

Saya dulu, dalam latihan puasa ketika masih sakit juga begitu kok. Tak bisa sekali langsung mulus puasanya. Hari pertama hanya bertahan hingga jam 9 pagi. Sudah batal. Astaghfirullah..Hari kedua dicoba lagi. Alhamdulillah sudah lebih lama. Jam 11.00 batal puasanya. Hari ketiga dicoba lagi pantang putus asa. Eh..alhamdulillah sudah kuat hingga jam 3 sore...Subhanallah...Akhirnya perjuanganpun berhasil pada hari keempat...GUUUL bisa selamat puasanya hingga maghrib tiba. Allah Hu Akbar.

Dan selanjutnya, alhamdulillah bisa melanjutkan puasa hingga akhir. Perjuangan memang memerlukan pengorbanan. Menahan segala rasa tersiksa itulah pengorbanannya. Bagi kalian yang pernah mengalami sakit seperti saya, dan sedang berjuang untuk puasa pasti tahu apa yang saya rasakan. Sama kan ?

Selamat berjuang ya sahabat ? Semoga perjuangan kalian menghasilkan keberkahan sebagaimana yang kita harapkan semuanya. Bukan hanya untuk dunia kita, terlebih untuk akherat kita. Aamiin.

Puasa adalah bentuk cinta

Seseorang yang jatuh cinta tentu mau melakukan apapun yang dikehendaki oleh yang kita cintai. Terkadang tanpa dimintapun, kita melakukan apapun yang bisa membuat senang seseorang yang kita cintai. Iya kan ?

Kita tentu ingin dicintai oleh Allah SWT. dan Rasulullah SAW. Tentu apa-apa yang menjadi perintah Allah SWT. dan Rasulullah SAW. Kita berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjalaninya dengan baik. Dengan Patuh dan taat. Dan berusaha untuk menghindari serta tidak melakukan segala apa yang dilarangNya.

Termasuk puasa di Bulan Suci Ramadhan, adalah perintah Allah SWT. Adalah bentuk kecintaan Allah SWT. kepada Umat Muslim. Dengan memberinya kesempatan kepada Umat Muslim, rahmat yang berlimpah ruah, ampunan yang seluas-luasnya, serta kebebasan bagi azab api neraka bagi yang taat dan mau menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

Tentu, puasa di bulan suci Ramadhan, bukan saja bentuk kecintaan Allah kepada Umat Rasulullah SAW. Namun bagi Umat Muslim sendiri, merupakan bentuk cinta serta penghambaan yang habis-habisan dirinya kepada Allah SWT. serta Rasulullah SAW. Dengan bisa menjalani puasa Ramadhan, setiap Muslim tentu akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Sehingga kedatangannya selalu ditunggu serta disambut dengan penuh kerinduan yang sangat. Bagaikan menyambut datangnya Sang Calon Pengantin.

Maka, tunjukkanlah cinta kalian kepada Allah SWT. serta Rasulullah SAW. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan ini. Karena kita semua belum tentu akan ketemu dengan Ramadhan yang akan datang. Sebab usia hanya ada ditangan Tuhan.

Puasa membentuk akhlak yang mulia

Bagaimana tidak ? Menahan lapar dan haus, kita belajar bersabar. Menahan lapar dan haus, kita jadi tahu toleransi kepada sesama kita yang kelaparan. Bagaimana rasanya sudah lapar tapi belum ada makanan yang hendak dimakan. Ketika puasa, kita diajar untuk makan baik pada saat berbuka maupun saat sahur, secukupnya. Karena jika makan kebanyakan justru lambung begah tak enak banget rasanya.

Ketika puasa kita diajar untuk toleransi kepada sesama. Jika pas kita uzur tak berpuasa, maka hendaklah kita jangan makan terang-terangan atau merokok didepan orang yang puasa.

Ketika puasa, kita belajar bersedekah. Apalagi bersedekah di bulan puasa dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT. Jika kita sudah biasa bersedekah di bulan Ramadhan, maka kita akan enteng untuk bersedekah di bulan-bulan biasa. Tak teringat lagi oleh kita akan pahala-pahala bersedekah, karena sudah menjadi rutinitas. Sehingga sedekah kita akan menjadi sedekah yang ikhlas tanpa pamrih, karena kita hanya mengharap keRidhoan Allah SWT. belaka.

Ketika kita berpuasa, kita diajar untuk menahan bergunjing, menahan marah, menahan nafsu angkara, menahan sombong, menahan segala perilaku yang tidak baik dan tercela.

Ketika kita berpuasa, kita diajar menyerahkan diri secara total kepada Allah SWT, dengan mendekatkan diri baik diwaktu siang maupun malam. Dengan banyak sholat, berdzikir, mengaji, membaca Al Qur’an untuk mensucikan diri serta mengharap keRidhoan Allah SWT.

Banyak sekali keutamaan-keutamaan yang ada dalam bulan puasa. Menjadikan kita berlatih untuk mempunyai akhlak yang mulia, sebagaimana diteladankan oleh Junjungan kita, Nabi Agung Rasulullah SAW.

Puasa adalah refleksi keimanan kita

Puasa merupakan refleksi atau pancaran keimanan kita. Meskipun sudah banyak menerima tauziah bahwa di bulan suci Ramadhan Allah membuka selebar-lebarnya ampunan atas dosa-dosa, seluas-luasnya menaburkan berkah, serta bermurah hati untuk membuka ampunan atas azab api neraka, tapi masih saja banyak yang santai tidak puasa. Masih merokok. Masih melakukan maksiat sebagaimana yang dilakukan pada hari-hari biasa. Naudzubilahimindzaliik..

Yang suka marah masih tetap suka marah. Yang sombong tetap sombong. Yang suka ngerumpi masih juga tanpa rasa bersalah menggosip sana menggosip sini. Yang suka memaki juga masih saja memaki-maki. Astaghfirullahaladziim.

Orang-orang seperti inilah yang jauh dari hidayah Allah SWT. Dan biasanya mereka tidak sholat, tidak puasa, tidak berzakat, boro-boro umrah dan naik haji meskipun hartanya berjibun. Padahal mengakunya mereka Islam. Namun tak tahu kaidah-kaidah beragama Islam. Dan meskipun tahu, tetap masa bodoh dengan pengetahuannya.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang beruntung yaa ? Yang senantiasa berpegang erat pada tali Allah. Yang taat kepada perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, serta menjadi orang-orang yang berakhlakul Qarimah sebagaimana teladan Rasulullah SAW. Aamiin.

Bagi orang yang beriman, puasa adalah tuntutan jiwa. Segala nafas kehidupan di Bulan Ramadhan dijalaninya dengan kesungguhan hati penuh kecintaan kepada Allah dan Rasulullah SAW. Puasa dijalankannya dengan baik. Berbuka tidak berlebih-lebihan, secukupnya dengan apa yang ada dan sebatas apa yang dibutuhkan oleh tubuh agar tetap sehat. Agar bisa menjalankan puasa di hari-hari selanjutnya hingga akhir puasa nanti.

Sholat berjamaah di masjid. Rajin bersedeqah. Tarawih tak pernah tinggal. Tadarus. Bibirnya senantiasa basah untuk berdzikir kepada Allah. Pikirannya selalu dijaga untuk hanya memikirkan hal yang baik-baik saja dan menjauhkan diri dari pikiran yang buruk-buruk. Menjauhkan diri dari sifat iri dengki, sombong, angkuh, pemarah, suudzon, dan segala perangai buruk lainnya. Subhanallah...

Betapa ikut sejuk hati kita menyaksikan perilaku keluarga beriman di bulan Ramadhon. Sikapnya selalu ramah murah senyum kepada siapa saja tanpa kecuali. Penyayang kepada anak-anak yatim dan para dhuafa. Setiap hari dirumahnya sangat terasa nuansa Islaminya. Tak pernah terdengar suara keras. Sikapnya saling menghormati dan menyayangi antara anggota keluarganya. Subhanallah. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang sakinnah mawaddah warohmah. Aamiin.

Puasa tanda ketundukan kita kepada Allah SWT
Kalau bukan karena ketundukan kita kepada Allah SWT. untuk apa kita berlapar-lapar serta berhaus-haus hingga sebulan lamanya ? Lha wong haus dan lapar itu tak enak banget rasanya ? Mau makan gak boleh. Mau minum gak boleh. Mau ngerumpi gak boleh. Mau marah gak boleh. Pengin sombong apalagi. Sepertinya dimana-mana ada satpam yang memata-matai segala gerak gerik kita. Itulah puasa.

Karena kita takut kepada Allah. Ngeri akan hukum-hukumNya yang tegas dan tak bisa ditawar-tawar. Namun juga berharap besar akan Rahmat serta KaruniaNya, mengingat Allah betapa Maha Besar kasih sayangNya  serta Maha Luas ampunanNya, maka kita mau berpayah-payah menjalani puasa sebulan full di bulan Ramadhan ini bagi yang tak ada udzur.

Allah sudah menghamparkan bumi dan langit dengan segala isinya untuk kebahagiaan hidup manusia, baik untuk di dunia maupun di akherat. Bahkan tak tanggung-tanggung kasih sayang Allah kepada manusia, tidak cukup dengan memberikan dunia dengan segala isinya, namun masih dilengkapinya dengan segala aturan untuk menggapainya. Aturan yang super lengkap dengan kisi-kisinya serta sedetail-detailnya tersebut, ialah yang dinamakan dengan Al Qur’an Yang Agung.

Cobalah kita renungkan. Tidak cukup hanya dengan melimpahi dunia dengan segala isinya beserta aturan cara meraih kebahagiaan hidup yang diberikan oleh Allah SWT. kepada manusia. Namun Allah juga memberikan janji atas pahala-pahala serta karunia yang bakal diberikan bagi yang tunduk serta taat kepadaNya serta mematuhi setiap hukum-hukumNya.

Otak kita tak bakal mampu memikirkan segala ke-Maha-an yang Allah miliki. Oleh karena itu, cukup bagi kita ber-iman kepadaNya dan menjalani keimanan kita dengan sebaik-baiknya. Dengan setaat-taatnya dengan penuh ikhlas, tawakkal dalam kerendahan hati yang paling dalam. Beriman Islam. Dengan menjalankan rukun iman serta rukun Islam dengan sebaik-baiknya. Pikiran. Hati. Serta tindakan kita satu. Islam ! Alif !

Puasa adalah olah ruhani menuju kesempurnaan

Bagaimana puasa di bulan Ramadhan ini tidak saya sebut sebagai olah ruhani ? Lha wong ruhani kita yang masih amburadul dan liar kesana kemari setiap saat ini, dalam masa bulan puasa ini selama sebulan full ( bagi perempuan terpotong masa haid), bagaikan dipenjara. Ditempa. Didadar untuk menjadi fitrah kembali.  Menjadi suci bagaikan bayi yang baru lahir.

Manusia yang sempurna menurut saya adalah manusia yang sudah mampu meredam ego ataupun keinginan diri. Egonya dipangkas sepenuhnya, “terserah Allah saja segalanya”. “Bagaimana Allah sajalah”. Karena dirinya merasa hanyalah makhluk yang diciptakan oleh Kehendak Agung Sang Maha Kuasa. Jika kehendaknya sendiri bekerja, maka kehendakNya dalam hidupnya tak akan bisa maksimal. Sebab bentrok ! Bahkan bisa-bisa Kehendak Agung Allah SWT. terkalahkan oleh kehendak diri yang hina ini, sehingga yang terjadi adalah keadaan yang serba amburadul dalam hidup !!!

Akhirnya yang ada hanyalah keluhan..keluhan..dan keluhan melulu. Karena tak ada sepercik kebahagiaanpun yang kita nikmati. Yang ada hanyalah merasakan kesusahan. Kesulitan. Kebuntuan hidup. Dan lain sebagainya. Itulah yang banyak terjadi pada kita dewasa ini. Karena ibarat ikan, kehendak diri kita letakkan menjadi kepala, sedang kehendak Allah kita letakkan di ekornya. Ya hidup kita jadi terbalik-baliklah !!!

Saya dan suami saya, dari sejak awal menyadari bahwa hidup ini dihidupkan. Dan ada Yang menghidupkan. Dan ada Kehendak Agung Yang menghidupkan. Kami tak berani main-main dengan kehidupan. Sebodo amat dengan hidup yang akan kami jalani nanti. Yang penting kami berserah diri secara total kepada KehendakNya. Kehendak Allah kami letakkan didepan kehendak kami. Sehingga seterpuruk-puruknya kami, alhamdulillah kami tak pernah mengeluh dan ajaibnya, selalu ada pertolonganNya yang tak pernah kami duga-duga sebelumnya.

Karena kami sadar, ibarat wayang kami sedang diutus menjadi peran. Peran apa yang sedang harus kami jalankan ya manut. Wayang kok mau menuntut ! Ya gak bisa ! Wayang tu ya nurut sama Sang Dalang. Iya to ? Ini sekedar refleksi kami, saya dan suami saya. Sebab banyak yang bertanya :”Bagaimana Bu Niniek bisa sesabar itu dalam menjalani sakitnya yang begitu panjang ?”

Jadilah seperti bayi jika ingin lulus menjadi manusia. Bayi itu kan makhluk yang tak pernah menuntut. Selalu menurut kepada pemomongnya. Banyak tersenyum tanda bersyukur. Baunya selalu wangi karena suci. Tatapan matanya selalu bening tanpa kandungan kejahatan didalamnya. Ia selalu ridho dengan apa yang diberikan oleh pemomongnya. Mau diberi baju yang dingin maupun yang hangat. Mau dikasih susu atau tidak. Mau dibelai atau ditelantarkan seharian ditempat tidur tanpa digendong, bayi jarang protes. Itu menurut saya.

Nah, puasa itu, adalah sebagai olah ruhani untuk menyempurnakan ruhani kita menjadi ruhani yang dewasa. Yang penuh syukur atas takdir yang kita terima. Selalu bersyukur kepada Pemomong kita adalah Allah SWT. Jangan banyak protes. Tak punya duit protes. Hidup miskin protes. Hidup sulit protes. Banyak hutang mengeluh. Sakit tak sembuh-sembuh mengeluh. Lha kapan sampainya ruhani kita ke jenjang kedewasaan ?

Puasa adalah berguna untuk kesehatan

Puasa sangat berguna bagi kesehatan. Terutama kesehatan lambung, yang dampaknya kepada kesehatan secara menyeluruh. Piye to ? Setahun full lambung kita bekerja berat menggiling apa saja yang masuk kedalamnya. Ya segalanya, tanpa kecuali. Yang ringan hingga yang sulit dicerna diprosesnya agar menjadi sari-sari makanan yang dibutuhkan oleh tubuh.

Dan kita ini sosok yang sering tak tahu diri. Sering memberikan beban kepada lambung yang melampaui kapasitas. Baik banyaknya maupun jenisnya. Hingga lambung terseok-seok mengerjakan tugasnya. Kasihan kan ?

Di bulan Ramadhan ini, memberikan cuti besar kepada lambung untuk tidak menjalankan tugasnya pada siang hari. Ini oleh sistem tubuh, lambung dan seluruh organ yang saling berkait disegarkan. Dibenahi. Sehingga ketika Ramadhan berlalu, lambung beserta seluruh organ tubuh menjadi lebih segar, lebih baik dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Baik organ lahir maupun batin.

Semoga dengan puasa Ramadhan ini kita menjadi fitri kembali, baik lahir maupun batin kita. Menjadi insan yang ridho serta diRidhoi oleh Allah SWT. illahi anta maksudi wa ridhoka mathlubi.

Demikian sekilas tentang “Berjuang Demi Puasa diwaktu Sakit Maag”. Itulah alasan-alasannya betapa pentingnya kita Umat Muslim untuk benar-benar berjuang bisa menjalani puasa Ramadhan ini meskipun dengan bersakit-sakit.

Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Purworejo, 25 Mei 2018

Salam Penulis,
NiniekSS.

 


 

MEMGAPA RUMPUT TETANGGA SELALU TERLIHAT LEBIH INDAH ?


 

MEMGAPA RUMPUT TETANGGA SELALU TERLIHAT LEBIH INDAH ?

 

Bismillahirrahmanirrahiim...

Marilah selalu kita panjatkan puji dan syukur ke Hadlirat Allah SWT, atas segala nikmat yang diberikanNya kepada kita sekalian. Apapun nikmatNya itu, dan seberapapun.

Juga jangan pernah lupa marilah kita sampaikan sholawat dan salam kita kepada Junjungan kita Nabi Agung Muhamaad Rasulullah SAW. Karena Beliaulah kita menjadi tahu akan jalan menuju kepada Allah serta kemudian bisa mengenalNya. Dan agar kita layak mendapat syafaat Baginda Rasulullah SAW. didunia maupun diakherat kelak. Allohumma aamiin.

Sahabat,

Pagi ini tiba-tiba saya ingin berbagi tentang Mengapa Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Indah ? Kayaknya sih cukup menarik untuk kita cermati bareng-bareng ya ?

Awalnya, dulu, ketika ruhani saya masih kanak-kanak, sayapun sering melihat
“milik” orang lain selalu lebih indah. Ibarat rumput tetangga, selalu terlihat lebih hijau, lebih subur, dan tentunya lebih indah.

Saya selalu melihat baju orang lain, sepatu orang lain, penampilan orang lain. Selalu lebih indah daripada yang saya miliki. Demikian juga dengan suami, anak, dan kehidupan orang lain sepertinya segala-galanya jauh lebih baik dan lebih indah.

Wah, anak orang lain kok lebih pandai, lebih berprestasi, lebih baik segalanya dibanding dengan anakku sendiri ? Suami orang lain kok lebih sayang, lebih pengertian, lebih pintar cari duit, lebih sigap dalam melindungi ? Berpangkat tinggi. Berderajat terpandang ?

Lha kehidupan orang lain kok lebih bahagia, lebih nyaman ? Sedangkan aku ? Sakit tak kunjung sembuh ? Terpuruk dan disepelekan orang ? Orang lain bermobil mewah. Rumah mentereng. Tak pernah mikir uang. Bebas mau belanja apa saja yang diinginkan ? Tak punya hutang. Tak ngerti bagaimana rasanya diburu dept collector ? Sedangkan aku ?

Sakit-sakitan. Suami nganggur. Rumah masih ngontrak. Banyak hutang. Dijauhi saudara. Disepelekan tetangga. Tak direken. Tak dipandang. Pernah diusir dari kontrakan karena tak mampu bayar ! Benar-benar tak mampu bukannya tak mau bayar ! Sakit tak mampu berobat, padahal deritanya tak terperi ! Tak ada income sama sekali. Anak harus sekolah. Pokoknya beribu penderitaan lain yang kurasakan sehingga rumput tetangga saya lihat jauh lebih indah dibanding milikku sendiri !

Kepada siapakah aku harus mengadu ? Allah sepertinya menghilang dari alam semesta. Bayangannyapun tak mampu kutangkap meski aku sudah sangat lelah mencariNya ! Sejatinya, dirikulah yang tertolak ! Karena masih berlepotan dengan dosa diri dan kurang rasa syukur. Bukan Allah yang menghilang.

Itu dulu ! Masa lalu ketika ruhaniku masih kanak-kanak. Alhamdulillah, dengan sakit yang panjang,
Allah menempa ruhaniku menjadi ruhani yang dari hari kehari menjadi kian dewasa.

Bukan hanya jasmani saja yang bertumbuh. Dari bayi menjadi dewasa, lalu menjadi orang tua, kemudian mati setelah waktunya. Melalui proses yang panjang berliku ! Ruhanipun bertumbuh juga. Dari kanak-kanak. Menjadi dewasa. Dan ruh tak akan mati. Ruh akan tetap hidup hingga jasadnya dikubur diliang lahat. Ruh akan bertanggungjawab atas apapun yang dilakukannya ketika ia hidup bersama jasadnya didunia. Perbuatan baik maupun buruk akan mengalami pengadilan di akherat nanti..

Tak terkecuali. Ruhanikupun bertumbuh juga. Yang dulu suka marah, lalu menjadi lebih bersabar. Yang dulunya memahami sesuatu hal hanya dari sisi kulitnya, lalu alhamdulillah bisa memahami bahwa sesuatu selalu berkulit dan berisi. Dan isi selalu diselimuti oleh kulit. Serta kulit selalu berbeda jauh dari isinya. Lihatlah buah durian. Tampilannya membuat orang harus selalu berhati-hati ketika menyentuhnya. Membukanyapun tidaklah mudah. Melalui proses. Baru terlihat isinya yang aduhai nikmat rasanya.

Hidup demikian juga. Semua yang kita alami hanyalah kulit. Penuh kesemuan. Tak enak dilakoni. Tak enak dirasakan. Semuanya pahit. Karena hidup harus berjuang. Tak ada hidup yang tiba-tiba enak ! Semua harus diperjuangkan ! Adakah orang yang tiba-tiba sukses melejit ? Tak ada. Semua melalui proses. Semua berawal dari dasar. Semua berawal dari tekad dan keyakinan. Semua bagaikan buah, yang harus dikupas baru dapat dinikmati isinya. Demikian juga hidup !

Jika ingin menikmati buah yang manis. Wajib bersabar dan tawakkal. Mengupas kulitnya baru mendapatkan isinya. Dan buah yang paling nikmat adalah buah atas tanamannya sendiri.

Buah yang ditanam melalui proses yang lebih panjang. Dari mulai menyiapkan lahan, memilih bibit, menanam hingga memelihara selama masa pertumbuhan. Hingga menghasilkan buah yang diharapkan. Berjuang melalui proses. Melewati waktu. Karena tak ada selangkahpun perjuangan yang akan sia-sia.

Alhamdulillah. Atas kemurahan Allah. Akhirnya saya sadar. Yang terindah adalah milik kita bukan milik orang lain, betapapun bagusnya !

Alhamdulillah, meskipun dulu ruhani saya ketika masih kanak-kanak amburadul, namun masih ada sisi suci dari ruhani yang bertengger tegar didalam jiwa, adanya keyakinan bahwa segala perjalanan takdir atau nasib adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dilalui, yang terbaik Allah pilihkan bagi kita, sebagai tempaan untuk menuju sebuah kemuliaan diri. Apakah itu nasib baik ataukah buruk !

Dan itulah harapan yang selalu kuyakini, yang selalu menepis keragu-raguan, sebagai penghibur segala kesedihan, penghalau rasa sakit, bahwa kelak, ada saatnya tiba kebahagiaan, kenyamanan hidup, dan ketenteraman batin. Bahkan tentu hadirnya sebuah kemuliaan yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya.

Semua yang kelihatan indah diluar adakah pemandangan. Pemandangan hanyalah sesuatu yang bisa kita nikmati sejenak, namun bukan milik kita. Setiap pemandangan semata milik Allah yang tentu saja memuat skenario tersendiri bagi masing-masingnya oleh Allah. Tak ada yang tahu tentang skenario Allah dalam pemandangan yang kita lihat bukan ? Sedang skenario Allah bagi kita masing-masing saja kita tak tahu ? Apalagi skenario Allah bagi orang lain yang dimata kita terlihat indah ? Skenario Allah bagi orang lain, yang dimata kita bagaikan pemandangan yang sungguh indah ? Sebagai rumput yang lebih hijau dan lebih subur !

Yang terindah, sesungguhnya, adalah yang kita miliki.

Ya keluarga kita. Ya suami atau isteri kita. Ya anak-anak kita. Ya orang tua kita. Ya saudara-saudara kita. Ya tetangga kita. Ya harta kita. Ya nasib kita. Inilah sesungguhnya keindahan tak terperi yang
“wajib” selalu kita syukuri !

Jika kita bisa mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita, sekecil apapun, itu adalah tanda bahwa kita punya iman. Orang yang mempunyai iman, insya Allah memiliki kebahagiaan dalam dirinya. Dan mempunyai keyakinan dan harapan sepanjang masa yang tak pernah pupus.

Jika kita mampu mensyukuri setiap yang Allah berikan kepada kita, maka kita tak akan bergeming lagi melihat apa yang tetangga miliki. Rumput tetangga tak akan terlihat lebih indah dari rumput kita. Karena kita sudah mampu melihat dan menikmati keindahan dalam setiap apa yang Allah berikan kepada kita.

Sakit maag kronis yang hingga gerd yang begitu parah pada saya, merupakan penderitaan luar biasa tak terperi. Karena kehidupan saya benar-benar  dihabisi lahir dan batin oleh Allah SWT. Harta habis bis..Kepercayaan diri hilang entah kemana. Yang tertinggal hanyalah setitik iman. Namun hal ini sungguh membawa hikmah yang
“luar biasa” bagi saya. Setelah kehidupan saya di “enol”kan oleh Allah, saya menjadi manusia baru yang seolah bukan diri saya sendiri.  Berbalik 360 derajad dari manusia lama saya.

Inilah mutiara yang tak ternilai dari sakit saya. Menjadi manusia
“baru” yang jauh lebih baik dari saya yang lama.

Dan saya diberikan ilmu maag dan gerd oleh Allah yang luar biasa, dari hasil pengamatan saya selama sakit 18 tahun lamanya yang Allah ijinkan untuk saya amati. Dan ilmu inilah yang akhirnya kalian rasakan bisa membantu segala penderitaan sakit kalian. Dalam ilmu ini pulalah, yang kalian rasakan ada pencerahan. Ilmu pemberian Allah itulah yang menolong kesembuhan kalian, bukan saya. Saya hanyalah wadag yang Allah sedang kehendaki untuk menolong kalian, agar kalian bisa mencerna hikmah atas sakit kalian.

Inilah yang ingin saya bagikan kepada kalian disini. Sakit kalian ini bukan sebagai hukuman Allah kepada kalian, namun
“kesempatan emas” yang Allah berikan kepada kalian agar kalian menjadi lebih baik dari masa lalu kalian entah itu yang bagaimana.

Kita seringkali lengah dan lalai. Apalagi kondisi kita yang lagi sakit maag kronis dan gerd tak sembuh-sembuh. Tentu kita sering kesal dan mengeluh.

Lambung sakit mengeluh. Dada berdebar panik. Kedinginan heboh. Kliyengan menangis. Tenggorokan rasa mengganjal bingung. Perut begah dan rasa penuh meratap..Apalagi jika sesak napas mendera ...Rasanya ajal sudah menjelang...Takut mati selalu membayangi kita semua yang menderita maag kronis dan gerd yang lama tak sembuh-sembuh.

Lihatlah...di Bekasi ada sahabat kita namanya mas Roni...ia seorang remaja yang ujiannya luar biasa. Ia menderita sakit maag kronis dan gerd stadium menengah. Sebenarnya rasa badan sudah tak karuan. Inginnya hanya berbaring di tempat tidur. Namun kedua orang tuanya tak sempat memperhatikan. Karena Roni memang tak pernah memperlihatkan bahwa dirinya sakit. Ia tak tega jika kedua orang tuanya sedih karena ia sakit. Namun seorang Roni akhirnya tak berdaya. Ia jatuh terpuruk sakit maag yang awalnya makan tak teratur karena kuliah sambil bekerja.

Inilah yang akhirnya membawa Roni kepada penderitaan yang panjang. Sakit maag biasa yang lalu berkembang menjadi Gerd stadium menengah, dimana ia harus berhenti dari pekerjaannya dan cuti kuliah yang dijalaninya sudah 10 bulan, dan ia belum sembuh.

Bapaknya hanyalah seorang sopir angkutan bahan bangunan, dan ibunya hanya dagang kecil-kecilan. Dimana penghasilan keduanya tak akan cukup untuk membiayai kuliah Roni anaknya.

Meskipun Roni sakit dirumah. Kedua orangtuanya harus tetap bekerja, demi kehidupan sekeluarga. Pergi pagi pulang petang.

Sementara Roni harus mengurus dirinya sendiri, 3 orang adiknya yang masih kecil, dan seorang kakeknya yang lumpuh tak bisa ngapa-ngapain. Bayangkan. Ia, Roni harus masak nasi sendiri, ya nyayur, ya momong ketiga adiknya, ya ngurus kakeknya yang lumpuh, tanpa bantuan pembantu rumah tangga.

Masak nasi dan sayurpun juga dua macam. Untuk dirinya nasi lembek, dan untuk yang lainnya nasi biasa. Untuk dirinya hanya bisa sayur labu siam dan bayam bening tawar, untuk lainnya sayur yang lain. Dari mulutnya tak pernah terdengar keluhan. Segala apa yang harus dihadapinya diterimanya dengan sabar dan tawakkal. Meskipun hatinya menjerit pilu, ia hanya tangiskan kepada Allah SWT.

Meskipun rasa badan sudah tak karuan, ia masih saja usahakan berdiri dari berbaringnya, mengerjakan semuanya demi adik-adiknya dan kakeknya yang ditinggal kedua orangtuanya untuk bekerja. Hatinya merintih pilu, kesedihan mendera setiap saat, namun tak ada orang yang tahu. Kedua orang tuanyapun tak begitu tahu, bagaimana sebenarnya penderitaan yang Roni rasakan setiap waktu.

Ketika saatnya tidur, sebelum terlelap, air mata meleleh dikedua pipinya. Hanya kepada Allahlah Roni memohon kekuatan, kesabaran dan kesembuhan...Itulah seorang sahabat kita Roni di Bekasi Jawa Barat. Ia tetap yakin suatu saat akan sembuh, entah kapan. Dan tetap sabar serta tawakkal menjalani sakitnya dengan penuh penderitaan lahir dan batin.

Betapa Roni bersyukur ketika browshing kemudian menemukan blog ini. Yang ia yakini sebagai blog yang akan membawanya kepada jalan kesembuhan. Itu mas Roni ungkapkan kepada saya dalam sebuah teleponnya yang panjang. Subhanallah. Allah Hu Akbar.

Bagaimana dengan kalian ?

Kalian masih sangat bersyukur. Suami kalian sangat sayang dan perhatian atas sakit kalian. Dirumah ada pembantu yang bisa membantu tugas-tugas kalian sebagai ibu rumah tangga. Mengurus putra putri kalian sekolah. Menyiapkan sarapan. Mencuci. Berbelanja. Memasak. Kalian tak perlu repot memikir sendirian. Kalian hanya menderita atas sakit yang kalian alami. Ya kan ? Tidak seperti mas Roni, meskipun sakit, harus, mau tidak mau mengerjakan pekerjaan berat agar adik-adiknya dan kakeknya tak terlantar.

Menurut kalian, yang menderita demikian parahnya hanya kalian sendiri ? Yang perut sakit. Yang jantung berdebar kencang. Yang tenggorokan mengganjal. Yang sesak nafas. Yang kepala kliyengan. Yang telinga sakit. Mata buram. Mulut asem. Tidak kawan ! Ada beribu teman kita, dari seluruh Indonesia, yang telah menghubungi saya untuk mencari solusi kesembuhan maag dan gerdnya. Seolah saya dewa penyembuh, atau dokter ahli yang tak ada duanya..Astaghfirullahaladziim...

Namun saya memaklumi, karena kalian sudah kehabisan cara dan daya, dalam mencari upaya kesembuhan kalian, sehingga kalian mencari di internet dan bertemulah dengan blog saya ini.

Ada juga yang menuduh saya membuat blog ini hanya untuk modus menipu, untuk mencari uang. Hati saya menjerit pilu. Karena kalian menilai saya dengan kacamata kalian. Orang mengukur baju tentu dengan ukuran badan sendiri bukan ? Jeritan saya hanya Allah yang tahu, semoga Allah mau mengampuni dosa kalian terhadap apa yang kalian perbuat kepada saya, dan kalian tak tahu bahwa apa yang kalian tuduhkan kepada saya itu tidaklah benar, dan itu berdosa.

Sejatinya, sayapun sama seperti kalian. Mantan penderita maag dan gerd yang sudah sangat parah. Hanya bedanya, kalian banyak yang tak melakukan pengamatan, dan tak mensikapi sakit kalian sebagai hikmah, sedangkan saya dari waktu ke waktu, selalu menanti
“saat” yang selalu saya rindukan, adalah janji Allah untuk orang yang sabar.

Alhamdulillah masih sangat beruntung, saya tidak terkena kanker lambung, kanker kolon ataupun kanker nasufaring di tenggorokan. Nyaris saja, karena pita suara saya sudah terkena asam lambung, sehingga sampai sekarang ini suara saya serak-serak basah, dan tak bisa berlama-lama berbicara, meskipun maag dan gerd saya telah sembuh.

Sahabat,

Semua yang ada diluar kita, selalu
“terlihat” lebih indah. Tetapi apakah semua benar-benar indah ? Tidak teman. Belum tentu. Mungkin jika kita masuk kedalamnya, belum tentu kesenangan dan kebahagiaan yang akan kita peroleh, namun justru sebaliknya. Sebab Allah demikian sempurnanya mengatur nasib setiap manusia. Nasib yang ditentukanNya adalah yang terbaik untuk kita, agar kita kembali di jalanNya ketika kita hidup didunia, dan kelak ketika ajal, dipanggilNya kita dalam husnul khatimah.

Oleh karena itu, saya sering sekali menghimbau kepada kalian. Agar lekas sembuh, lakukanlah interospeksi dengan baik. Jangan menyalahkan orang lain. Sakit adalah tanda bahwa diri kita ada yang
“error” entah itu apa, dan sedang direparasi oleh Allah...Jadi bertaubat atas dosa-dosa, sabar menjalani prosesnya, dan tawakkallah menantikan hasilnya. Kesembuhan !

Jangan sia-siakan hidup, meskipun kita sedang sakit. Berdialoglah terus dengan Allah, bukan hanya dalam doa setiap habis sholat. Allah selalu membuka pintu untuk ratapan kita, untuk kita yang haus ilmu, haus pengetahuan, haus pencerahan. Dengan tekun beristighfar untuk memohon ampunanNya dan dengan bersholawat untuk junjungan kita Nabi Agung Muhammad Rasulullah SAW, agar kita layak untuk memohon ridhoNya..Insya Allah..

Sahabat,

Jangan fokuskan hati dan fikiran kalian untuk sembuh. Tapi fokuskan diri kalian untuk memohon ampunan dan bimbinganNya. Jika kita sudah memperoleh ampunanNya maka kita akan sembuh. Percayalah ! Memohon ampunan dan bimbinganNya adalah
“proses”. Sedangkan sembuh adalah “hasilnya” . Tak usah pikirkan soal hasil, tapi utamakan proses ! Hasil akan selalu berbanding lurus dengan proses yang “benar”.

Lalu bagaimana proses yang benar ? Menurut saya, proses yang benar ya jangan memaksakan diri, tapi berserah diri kepada Allah atas hasil yang akan dicapai. Bahkan kalau perlu hilangkan soal apa yang akan kita peroleh dari usaha yang kita lakukan. Maka kalian akan memperoleh
“keajaiban !”. Akan memperoleh sesuatu kebaikan yang jauh diluar dugaan kita..Dan itu seringkali saya alami !!!

Tapi jika kalian hanya menuntut dan menuntut kesembuhan dari Allah, tanpa kalian melakukan sesuatu yang membuat Allah berkenan, mustahil kesembuhan itu akan datang ! Karena saya sembuh, justru setelah saya tak memikirkan kesembuhan saya, tapi saya memikirkan bagaimana saya memperbaiki diri saya agar berkenan di Hadlirat Allah SWT.

Dengan begitu, rumput tetangga tak lagi terlihat lebih indah, karena apa yang Allah berikan kepada kita dan keluarga kita jauh lebih indah dari segala yang lain.

Sekian dulu ya Sahabat, semoga artikel ini ada manfaatnya bagi kita sekalian. Aamiin. Alhamdulillahirabbil’alamiin..,

 

Purworejo, edisi revisi, 07 September 2024

Salam Penulis,
NiniekSS.

 


 

Back To Top