BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG KE-2


 

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG KE-2
 

Oleh NiniekSS
 

Bismillah,

Baca kisah pertemuan sebelumnya, disini !
 

Pagi itu,

Seperti biasanya, sehabis shalat tahajjud aku tidur sebentar, lalu bangun lagi untuk shalat fajar sebelum subuh...Mas Toto suamiku belum selesai dzikirnya. Alhamdulillah aku sudah selesai shalat subuh, ketika diluar kudengar ada yang mengucapkan salam. Suara seorang laki-laki. Kujawab salamnya. Heran sepagi ini sudah ada tamu yang datang. Karena suaranya dari arah warung, kupikir ia seseorang yang mau membeli sesuatu di pagi buta di warungku.

Aku berjalan tergopoh-gopoh kearah warung. Sebenarnya tak layak disebut sebuah warung, karena adanya hanya beberapa kilogram gula pasir, beberapa bungkus teh celup sariwangi, beberapa batang sabun mandi, dan semuanya hanya beberapa. Daripada tak ada kegiatan, kebutuhan rumah tangga untuk sehari-hari itu aku tata di etalase bekas, dan aku letakkan di warung, yang terletak diruangan sebelah kiri rumah. 

Kebetulan rumah kontrakan kami di sebelahnya ada warungnya, ya sudah aku tata saja disana, kalau ada tetangga yang membutuhkannya, kujual. Tapi ya ada saja yang membeli. Aku tak berniat membuka warung karena tak punya modal, dan lagi aku tidak telaten usaha warung. Aku lebih suka melayani pelanggan jamuku, orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan.

“Assalamu’alaikum…”. Salam itu kembali terdengar.

Wa’alaikumussalam…” balasku. Mungkin tadi balas salamku tak kedengaran oleh tamu itu. Kubuka pintu warung yang terbuat dari lembaran papan yang dijajar.

“Oh Bapak…kok pagi-pagi sudah ke warung pak, mau beli apa Pak..?” 

Tanyaku kepada tamu itu. Seorang peminta-minta tua, lusuh memakai tongkat dan tanpa alas kaki. Mengenakan sarung kumal dan baju putih lengan panjang yang sudah lusuh pula. Sikapnya sangat santun dan kilatan matanya bagai pedang, namun amat teduh. Aku terkesima, tapi tak mampu menduga-duga siapakah gerangan bapak ini.

“Bu maafkan saya, pagi-pagi telah mengganggu…saya kehausan Bu, kalau boleh mau minta minum teh manis yang hangat, tenggorokan saya sangat kering Bu, tadi mau minta diwarung sana tidak diberi…” Katanya.

“Oh boleh Pak, silahkan, tidak apa-apa Pak, sebentar ya Pak saya buatkan..” Kataku ikhlas. 

“Tapi silahkan masuk Pak, duduk dulu” kupersilahkan bapak tua itu masuk sebelum aku membuatkan minuman untuknya.

”Terima kasih Bu, saya diluar saja” katanya, sambil langsung duduk di bangku panjang yang sengaja ku letakkan di depan warung untuk duduk orang-orang yang pada belanja diwarungku. 

Tak lama kemudian segelas teh manis panas sudah saya hidangkan. Sepertinya bapak tua itu sangat menikmati teh buatanku.”Terima kasih sekali ya Bu tehnya, enak..” katanya memuji. 

“Ya Pak, alhamdulillah, saya juga terima kasih bapak mau minum teh saya.” jawabku. Kulihat sebentar saja gelasnya sudah kosong, rupanya bapak tua itu benar-benar haus.

Tetapi ada yang membuat saya ternganga...

Teh yang kuhidangkan itu adalah teh yang super panas karena air yang untuk membuat teh adalah air mendidih yang baru direbus dan ku masukkan ke termos. Panas sekali bukan ? 

Uap tehnya saja mengepul. Membuat minuman teh memang enaknya dengan air mendidih. Akan segar rasanya. Tetapi begitu teh kuletakkan di bangku yang diduduki bapak itu, langsung diminum habis seolah seperti minum air dingin saja. Begitu diulangnya hingga 3 gelas. Kalau orang biasa yang minum pasti akan melepuh lidah dan mulutnya dong. Saya ternganga keheranan. Tapi tak mampu menerka jawabnya. Siapakah sosok ini sebenarnya ?

Dalam hati aku mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah, pagi-pagi buta sudah memberiku kesempatan untuk berbuat kebaikan kepada seseorang. 

Lalu tiba-tiba bapak tua itu menyodorkan gelas kosong itu kepadaku sambil ujarnya : “Bu, maaf, boleh minta lagi tehnya tidak? Saya masih haus Bu...”, 

“Oh boleh-boleh, sebentar ya pak, saya buatkan tehnya lagi” lalu kusodorkan teh yang ke dua. 

Eh bapak itu dengan santainya bilang :”Bu, maaf, apakah teh ini tidak ada temannya?”.

”Maksud Bapak?” tanyaku kemudian kurang mengerti maksudnya.

“Barangkali ibu punya sarapan Bu, saya lapar sekali...” Saya kaget dengan permintaannya. Karena pagi itu belum masak nasi.

“Wah maaf sekali Pak saya baru mau nanak nasi. Kalau bapak mau, ada tuh kue pia, tapi maaf sekali kalau nasi memang belum ada pak” jawabku jujur. Aku merasa sangat kecewa tidak dapat memberi bapak itu nasi yang diminta. 

“Yah pia juga tidak apa-apa Bu, Alhamdulillah…” kata bapak itu kemudian.

Lalu kuambil kue pia itu 3 biji sisa yang ada di warung. Dilahapnya hingga habis oleh Bapak itu, malah masih minta tambah minum lagi, jadi habis tiga gelas. Aku terheran-heran dengan bapak tua itu, yang begitu lahap menghabis -kan tiga pia besar dan tiga gelas teh. 

“Bu, Alhamdulillah saya sudah kenyang, ini semua habisnya berapa Bu?” Saya kaget ketika bapak tua itu bertanya begitu. 

“Lho saya memberi  ikhlas kok pak, jadi tak usah bayar, malah saya bersyukur pagi-pagi bapak sudah memberi saya kesempatan beramal” balasku tulus.

“Alhamdulillah kalau begitu Bu, tapi kalau saya harus membayar, sayapun tak punya uang, saya hanya punya handuk ini satu-satunya kalau ibu mau..” berkata begitu bapak itu sambil melepas handuk kumuh yang dikalungkannya di lehernya dan diserahkannya kepadaku. 

Melihat handuk kumuh yang diberikannya kepadaku, aku menolaknya dengan halus. “Maaf pak, bukan saya menolak pemberian, tapi bapak kan masih hendak meneruskan perjalanan, kalau handuk itu untuk saya, nanti kalau bapak membutuhkan dijalan bagaimana ? Jadi sebaiknya handuk itu untuk bapak saja” kilahku.

“Baiklah kalau ibu tidak mau ya tidak apa-apa, lalu sebagai gantinya kalau ibu tidak mau handuk ini, ibu mau minta apa dari saya ?” Tanyanya kemudian, namun bapak itu tidak kecewa karena saya menolak pemberiannya. 

“Saya tidak minta apa-apa Pak, saya insya Allah ikhlas kok, kalau Bapak berkenan, tolong doakan saya sekeluarga agar selamat dunia akherat saja, dan agar saya selalu mendapat ridhoNya..”

“Wah permintaan ibu itu luar biasa Bu..insya Allah saya doakan” selesai ia mengatakan itu tiba-tiba saja ia mengusap langit-langit mulutnya, dengan ibu jarinya lalu diusapkan pada sekeliling gelas bekas minumnya dan mulai berdoa dengan mendongakkan kepalanya keatas dan kedua tangannya menengadah keatas. Doanya memakai bahasa Arab yang aku tidak tahu maknanya, namun banyak shalawatnya (karena aku mengenal beberapa shalawat, jadi aku tahu ketika bapak itu membaca shalawat.)

Yang membuatku terkesiap adalah ketika bapak itu hendak mengusap langit-langit mulutnya, yang lalu diusapkannya ke gelas bekas minumnya tadi, kulihat jempol ibu jari tangannya tidak bertulang ! (konon ini adalah salah satu ciri khas Nabi Khidir As). 

Seketika aku jongkok mengamini doanya. Ada satu ucapannya yang hingga kini tak bisa kulupakan adalah : “Orang yang kalau didunianya ringan melakukan kebaikan ya besuk diakheratnya juga digampangkan oleh Allah segala urusannya. Amiin Ya Robb.

Sebelumnya aku sudah menemukan beberapa keanehan-keanehan yang ada dalam diri bapak itu. Bapak itu mengatakan bahwa rumahnya adalah selatan desa Ngawu-awu. Padahal Ngawu-awu adalah desa paling selatan di kabupaten Purworejo kotaku. Dan sebelah selatannya sudah laut selatan. Kalau begitu tempat tinggalnya adalah di laut selatan. 

Keanehan lainnya adalah, pagi-pagi buta adalah saat yang tidak lazim untuk bertamu. Minta minum sampai tiga kali. Minum air teh yang kuhidangkan dalam keadaan tehnya masih panas mengepul uapnya. Berdoa dengan sebelumnya mengusapkan ibu jari tangannya kelangit-langit mulutnya. Pandangan matanya sangat tajam bagaikan kilatan pedang.

Setelah lama mendoakanku, bapak itu minta pamit padaku, dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepadaku. Hanya beberapa detik ia pamit, seolah seperti ditelan bumi, dicari kemana-mana tidak ketemu, padahal depan rumah adalah jalan raya dan lapang, jadi seseorang mau kemana bisa dilihat dari rumah. Bapak itu menghilang tak berbekas. 

Subhanallah Allah Hu Akbar. Semua wallahu’alam…Semoga ini suatu kebenaran adanya.

Begitulah kisah pertemuanku yang ke-2 in Sya Allah  dengan Nabi Khidir As.

Bca kisah selanjutnya, "PERTEMUANKU YANG KE-3 DENGAN NABI KHIDIR As" disini !

Terima kasih atas kunjungan kalian di Blog ini. Semoga Allah SWT. seniantiasa melimpahkan ampunan, keselamatan serta keberkahan yang luas kepada kita sekalian. Amin Yaa Robbal’alamin.

Edisi Revisi, Purworejo 8 September 2024
 

Salam Tauhid Penulis,
NiniekSS

Disalin dari "BLOG NINIEKSS" Akun milik sendiri NiniekSS


BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-2


 

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-2

 

Oleh : NiniekSS


Bismillah,


Sahabat NiniekSS dimanapaun Anda berada...

Sebelumnya, baca dulu Bagian 1nya ada disini !


Met jumpa lagi sahabat-sahabat yang saya kasihi dimanapun Anda berada saat ini. Semoga masih senantiasa sehat dan bahagia ya ? Amien…

Tadi siang sampe dimana ya kisahku tentang Nabi Khidir As. yang saya sampaikan kepada anda ? Ufh..agak lupa ni..maklum udah nenek-nenek cu…Oh alhamdulillah sudah ingat lagi sekarang..Tadi sampai ketika saya membayar becak untuk anak muda yang bareng dalam perjalanan bersama saya dari Lumajang sampai ke Jember ya ?

Akhirnya kami berpisah. Kami naik becak masing-masing. Dia ke jurusan makam Mbah Kyai Shiddiq, dan saya mau pulang ke Pondok. Pikiran saya masih terus memikirkan pertemuan dengan anak muda yang sangat aneh itu...

Masih terngiang segala apa yang ia sampaikan kepada saya sepanjang perjalanan dari Lumajang tadi. Tentang yang dia katakan bahwa saya sebelum umur 39 tahun besuk akan banyak didatangi orang yang meminta tolong, bahkan anak muda itupun tadi mengatakan kepada saya bahwa nanti sesampai pondok saya sudah harus menolong orang.

Belum habis keheranan saya terhadap anak muda itu, tiba-tiba saya dikejutkan suara memanggil-manggil : “mbak…mbak…”  Saya reflek menoleh mencari sumber suara yang memanggil-manggil dengan suara yang cukup keras itu. Karena becak yang saya tumpangi baru saja beranjak belum jauh. Ternyata yang memanggil-manggil itu adalah tukang becak yang dinaiki anak muda yang berbaju putih-putih tadi. Tukang becak itu melambaikan tangannya. Memberi isyarat agar kami mendekat kearahnya. Becak kamipun berbalik arah mendekati becak yang ditumpangi anak muda berbaju putih tadi.

Setelah dekat…supir becak yang ditumpangi anak muda itupun bertanya kepadaku :  ’Mbak…itu anak muda yang berbaju putih-putih itu siapa to ?’ Saya jawab :’Lho memangnya kenapa pak ?..’ tanyaku penasaran, karena anak muda berbaju putih itu sudah tidak ada dalam becaknya.
‘Hilang tiba-tiba mbak’ katanya. ’Lho hilang gimana pak ? ”Ya tiba-tiba saja sudah tidak ada dibecak mbak..’ Trus saya katakan apa adanya kepada tukang becak yang ditumpangi oleh anak muda berbaju putih tadi, bahwa saya tidak tahu tentang anak muda tadi.

Saya katakan bahwa kami hanya secara kebetulan satu perjalanan dari Lumajang sampai ke Jember tadi. ’Yah sudahlah tak usah dipikirkan, maaf ya pak ni sudah mau maghrib’ kataku kepada tukang becak yang ditumpangi anak muda itu, seraya mengajak tukang becak yang saya tumpangi agar segera mengayuh becaknya mengantar saya pulang ke pondok.

Singkat kata sampailah saya ke pondok. Belum habis keheranan saya memikirkan tentang anak muda yang penuh teka-teki itu tiba-tiba dari arah pondok anak-anak berteriak menyambut kedatangan saya : ‘mbak Nien…mbak Nien…’

‘Ada apa ?’ tanyaku tergopoh-gopoh melihat anak-anak menghampiri saya yang belum turun dari becak.

‘Itu mbak..anak-anak mbak…’ ‘Anak-anak kenapa ?’ tanyaku lagi.

‘Anak-anak pada kerasukan setan mbak...’ Mendengar laporan anak-anak seperti itu saya sangat terkejut dan bingung.

‘Lha ibu dimana ? (maksudku ibu Nyai). ’Ibu sedang pergi mbak….’

Wah gawat pikirku. Apa yang mesti kuperbuat kalau begini. Ibu sedang tidak berada di Pondok, mana saya sama sekali tidak tahu menahu bagaimana caranya mengusir setan dari tubuh manusia. Trus siapa yang harus saya hubungi karena disitu kami semua tidak pernah kontak dengan laki-laki.

Waktu itu ada delapan anak yang kerasukan setan. Berkelojot-kelojot ditanah sambil mulutnya berteriak-teriak tak karuan, matanya melotot seperti orang yang penuh dosa sedang menghadapi sakaratul maut.

Dengan setengah takut saya mendekati mereka. Tiba-tiba seperti ada kekuatan dan keberanian yang saya tidak mengerti darimana datangnya serta merta saya pukul tubuh salah satu anak yang kerasukan tadi dengan cukup keras sambil mulut saya berteriak : ‘Pergi..ini rumah Alloh..ayo pergi..kalau kamu tidak mau pergi dari sini akan kuhancurkan kamu sekarang juga ! ayo pergi !!!..’

‘Subhanallah…’  tanpa saya sadari dan saya mengerti mengapa, tiba-tiba anak kerasukan yang saya pukul tadi langsung sadar…

‘Allohu Akbar…Alhamdulillah…” teriak anak-anak rame gembira melihat temannya sudah sadar.

Seperti reflek, tangan saya langsung diseret sama seorang anak menuju kearah anak yang kerasukan yang lain. Karena mereka tidak berada disatu tempat, tetapi berserakan. Mereka ada didekat kamar masing-masing. Sayapun seperti mendapat ilmu dan pengalaman baru..Satu demi satu ketujuh anak kerasukan yang lain saya coba sembuhkan dengan cara yang sama dengan anak yang pertama kuusir setannya tadi.

Alhamdulillah…Alloh Maha Besar…

Kedelapan anak tadi lalu bisa sadar semua. Akan tetapi anak yang terakhir saya usir setannya terpaksa harus dirawat kerumah sakit karena dia ternyata menderita lemah jantung.

Dengan lemah lunglai kembalilah saya menuju kekamar pondokan saya. Masih ada waktu untuk mandi sebelum sholat jamaah maghrib. Ibu Nyai belum pulang dari luar kota, sholatpun diimami mbak-mbak yang senior.
Selepas sholat maghrib semestinya ada pengajian rutin. Tetapi saya ijin untuk tidak ikut. Alasan saya capek karena baru saja dari luar kota. Mbak-mbak senior bisa memakluminya dan memberiku ijin tidak ikut ngaji.

Saya berbaring ditempat tidur saya. Tempat tidur kehormatan yang diberikan oleh ibu Nyai kepada saya entahlah atas dasar alasan apa mengapa ibu memperlakukan saya sangat spesial. Sejak awal mondok saya tidak diijinkannya untuk tidur dilantai bersama anak-anak yang lain dalam kamar secara rame-rame sebagaimana kamar-kamar pondok yang lain, satu kamar biasanya bisa dihuni sampai 8 sampai 10 orang.

Saya diberinya kamar spesial. Satu kamar hanya untuk saya sendiri. Tempat tidurnya dari besi berukir sederhana, ada kasurnya yang cukup nyaman untuk tidur dan beralas sprei batik warna merah hati yang terpasang waktu pertama kali saya datang. Saya ingat betul itu...

Kamar itu berada dibelakang aula cukup luas, yang cukup untuk mengaji sekitar 150 orang. Disebelah depan untuk ruang perpustakaan yang tidak dibuka setiap hari, hanya kadang-kadang saja apabila ada anak yang memerlukan literatur untuk pelajarannya. Kesannya cukup membuat bulu kuduk berdiri...Pantas waktu pertama kali saya tidur disitu sendirian (satu rumah), paginya saya ditanya sama anak-anak :’Mbak Nien,kok pemberani banget ya ? tadi malam bisa tidur ga mbak ?...’

‘Ya bisalah yauw..memangnya kenapa ?’ tanyaku kepada anak-anak.

‘Gak papa kok mbak…’ jawab mereka, ragu-ragu seperti menyembunyi- kan sesuatu.

‘Ada hantunya apa ?’ tanyaku asal saja kepada mereka.

‘Lho kok mbak Nien tahu ?’ tanya mereka penasaran.

‘Tahu apanya, saya ga tahu apa-apa kok, dan semalam saya tidurnya malah nyenyak banget..spreinya dingin..wangi..sepi gak ada yang ngganggu..gimana mau gak bisa tidur ?’ saya nyerocos memberi penjelasan kepada anak-anak yang mengerumuni saya.

‘Ah sudahlah gak usah dibahas sekarang, nanti kita ketinggalan jamaah subuh lagi.

Malam itu sepulang dari lumajang sebenarnya saya benar-benar tak bisa tidur...memikirkan anak muda yang saya temui siang tadi. Benar juga apa yang dia katakan. Katanya tadi siang, sepulang saya sampai kepondok saya sudah harus menolong orang. Benar sekali. Belum sampai masuk kamar saya, saya sudah harus menolong anak-anak yang kerasukan setan.

Urusan ini tidak tanggung-tanggung…

Biasanya urusan ngusir setan kan dilakukan oleh seorang Kyai, Ustad atau orang-orang yang memang sudah fasih baca Qur’an. Tetapi tadi, mengapa saya bisa melakukan ini semua. Padahal saya ngaji Bismillah saja belumlah khatam.

Ada apa dengan ini semua ? 

Kali ini tubuh saya benar-benar lemah lunglai tidak karuan. Rasanya seperti orang mau jatuh sakit. Setelah sholat isya’ sendirian (karena mau melangkahkan kaki untuk menuju ke musholla besar badan terasa sudah tak kuat lagi). Hari ini benar-benar banyak kejadian aneh yang tidak saya mengerti dan tidak saya sadari. Proses apakah ini ?

Paginya saya benar-benar jatuh sakit. Badan panas dingin, mau muntah tak bisa keluar. Tak ada nafsu makan blas. Saya sudah dikeroki sama anak-anak, juga dipijit ala kadarnya. Saya tidak minum obat dan tak pergi kedokter. Saya sangat alergi minum obat-obat kimia, jadi walaupun sakit sepanjang masih bisa saya tahan saya emoh kedokter, takut badan saya jadi tong sampah kimia !

Tiba-tiba ada anak pondok yang namanya Nunung..mendekat dan gantian memijit kaki saya. Enak sekali pijatannya. Sepertinya dia punya bakat besar jika mau mengembangkannya nanti, setidaknya untuk keluarga sendiri. Lama dia memijat ada satu jam...sudah berkali-kali kusuruh untuk berhenti, tapi tetap saja jari-jarinya memijit seluruh badan saya.

Tiba-tiba dia punya usul :’Mbak Nien, baiknya mbak Nien urut yang beneran aja mbak.., dibelakang pondok ini ada tukang pijat mbak, besok aku antar ya ?

Entah mengapa saya cuma mengangguk menerima tawarannya, tanpa komentar apapun.

Akhirnya keesokan harinya saya diantarnya kebelakang pondok untuk mencari tukang urut yang dia katakan kemarin.

Habis ashar kami berangkat dari pondok. Aneh ! kami sudah ketemu dengan empat tukang pijat...tapi tak satupun yang mau memijat saya...Ada yang beralasan lagi kurang enak badan, ada yang beralasan mau bepergian, dan ada yang terang-terangan bilang kalau tak berani memijat saya.

Saya sudah nyaris putus asa karena rasa badan sudah tidak karu-karuan, saya paksakan jalan kaki untuk mencari tukang urut. E...ini sudah ketemu sampai 4 orang kok semuanya tak sanggup memijit saya dengan berbagai alasan. 

Tapi Nunung terus memberi semangat kepada saya ‘sabar ya mbak…semua ini ujian mbak..jangan kuatir..masih ada satu lagi yang belum kita samperin mbak’ katanya menghiburku.

‘Ah sudah pulang aja lah Nung..aku sudah tidak kuat..’

‘Nanggung mbak sudah sampai sini. Oke begini aja mbak satu kali lagi kita cari ya mbak, nanti kalau yang ini ketemu juga gak mau pijat mbak Nien,ya udah kita pulang’

Akhirnya saya setuju. Kami berjalan lagi menyusuri gang demi gang untuk sampai kerumah tukang pijit yang mau kami kunjungi. Sampailah kami disuatu rumah. Sepi. Tak ada siapa-siapa. Tapi pintu depan terbuka lebar. Aneh.

Kami ucapkan salam berkali-kali. Bergantian antara saya dengan Nunung. Tapi tak ada sahutan seperti tak ada orang dirumah itu.

Tiba tiba kami mendengar suara erangan yang teramat lemah, yang datangnya dari kamar depan, dekat dengan pintu utama rumah itu. Tanpa kami sadari kami memberanikan diri untuk memastikan sumber erangan tadi. Saya dengan Nunung menuju kekamar depan. 

Benar..disitu ada seorang ibu yang sedang terbaring sakit. Rupanya yang mengerang kesakitan itu adalah ibu tadi. Sebelum masuk kamar saya dan Nunung bersamaan mengucapkan salam lebih dahulu. Ibu itupun menjawab salam kami dengan lirih. Setelah itu ibu tadi mempersilahkan kami agar masuk kekamar.

Legalah perasaan kami, lalu kami masuk kedalam kamar karena sudah mendapat ijin dari tuan rumah. Dengan hati-hati kutanya apanya yang sakit. Ibu itu mengatakan bahwa sudah lima hari ini dia terbaring tak berdaya dan tidak ada yang merawatnya. Saya tanyakan ibu itu tinggal dengan siapa dirumah itu. Ibu itu mengatakan bahwa ia tinggal dengan anak laki-laki satu-satunya yang masih seumuran anak SMA. Saya tanyakan kemana anaknya sekarang ? Ibu itu bilang mungkin sedang ke belakang.

Benar saja. Dari arah belakang muncul anak laki-laki seumuran anak SMA mendekat kearah kami. Kami mengangguk dan menyampaikan tujuan kami kesitu sebenarnya mau minta diurut oleh ibunya. Dia bilang :’Maaf ibu sendiri sedang sakit mbak...mungkin kapan-kapan kalau sudah sembuh’

Naluri menolong saya tiba-tiba muncul ketika melihat ibu yang kesakitan tadi tidak tega. ‘Ibu...apa ibu mau saya tolong sebisa saya’ Saya mohon ijin padanya. Ibu itu mengangguk. walau belum tahu apa yang akan saya lakukan. Coba bu tolong dibuka bajunya ya, saya kerok dulu supaya anginnya keluar...kata saya kemudian kepada ibu itu.

Lalu saya kerok seluruh badannya. Ya Alloh..merah hitam warnanya, menandakan kalau ibu ini masuk angin yang sudah sangat terlambat.

Terus saya minta tolong anak laki-lakinya agar memarut jahe, bawang merah, dicampur dengan minyak kelapa serta dicampur dengan minyak kayu putih kalau ada. 

Setelah selesai saya kerok, lalu saya urut sebisanya dengan minyak yang dicampur-campur tadi,  pelan pelan sambil saya berdoa semoga Alloh ijinkan ibu itu sembuh dari sakitnya karena kasih sayangNya semata.

Beberapa lama kemudian ibu itu kentut berkali-kali yang baunya minta ampun...Tapi saya tidak tersinggung dengan bau kentutnya, bahkan saya sangat bersyukur bahwa Alloh sudah berikan tanda-tanda kesembuhan karena racun yang ada dalam perutnya sudah mulai bisa keluar lewat kentutnya.

Benar saja, tak lama berselang setelah berkali-kali kentut, ibu itupun mulai bisa meluruskan kaki, tidak seperti tadi ketika awal saya datang posisinya meringkuk, lutut sampai hampir menekuk keperutnya saking menahan sakit yang katanya luar biasa.

Saya minta air teh manis panas yang encer kepada anaknya. Lalu saya berikan kepada ibu itu sesendok demi sesendok sampai tetes yang terakhir.

Subhanallah…setelah segelas teh itu habis…tiba tiba ibu itu kepingin bangun. Saya bilang jangan bu, ibu sebaiknya istirahat dulu. Dan saya berpesan sebaiknya jangan makan nasi keras dulu, tapi usahakan makan bubur atau nasi lembek...

Saya tanyakan kepada anak laki-lakinya bisa tidak nanak nasi yang lembek ? kalau tidak bisa, biar untuk makan nanti saya buatkan dipondok. Anak itu mengangguk. Sayapun lega.

Tiba-tiba saya melihat ibu itu sudah bangun dan duduk dipinggir tempat tidur, meski masih terlihat lemas, tapi sudah tidak menahan sakit. Dia lalu menangis, mengucap syukur alhamdulillah dan mengucapkan terima kasih yang sangat kepada kami berdua yang telah menolongnya dari ambang kematian katanya.

Karena waktu sudah sore maka kamipun pamitan dengan membawa segudang kelegaan dan rasa syukur yang sangat kepada Alloh karena telah diijinkanNya untuk menolong orang yang sangat membutuhkan…tanpa terasa saya malah jadi lupa dengan sakit yang saya rasakan sebelumnya. 

Aneh..Saya menjadi segar bugar seperti tidak terjadi apa-apa dengan diri saya seolah olah saya ini tidak sedang sakit. Demam sayapun sirna sudah. Sampai dipondok anak-anak sudah menunggu...

‘Enak ya mbak habis urut ?’

‘Dah sembuh ya mbak setelah diurut ?’

Celoteh anak-anak dengan opininya sendiri-sendiri.

‘Alhamdulillah…” Jawabku...

Tiba-tiba Nunung menjawab : ‘Apa..wong mbak Nien itu tadi bukannya urut tapi malah ngurut dan nolong ibu dibelakang yang sudah sakaratul maut tahu ndak ?’..Kerumunan anak-anak semua bengong..

Nah itu baru bagian awal dari kisah pertemuan saya yang pertama kali dengan orang ghoib yang pada akhirnya saya yakini sebagai Nabi Khidir As, Nabi yang diyakini masih hidup sampai kini oleh sebagian orang termasuk saya, dan diburu oleh orang-orang tertentu untuk bisa bertemu.

Berkah yang saya rasakan hingga kini adalah ya sejak saat itulah apa yang pernah disampaikan oleh beliau kepada saya benar adanya…Sejak saya bertemu dengan beliau itu sampai sekarang saya harus selalu menolong orang. Padahal saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya punya keyakinan Lahaula wala quwwata ila bilahil ‘aliyul ‘adziim.

Sesudah pertemuan itu, saya masih beberapa kali bertemu, nantikan kisah saya selanjutnya. 

“Semoga dapat diambil hikmahnya…”

Baca pertemuan ke-2-nya disini ! 

Terima kasih atas kunjungan kalian di Blog ini. Semoga Allah SWT. seniantiasa melimpahkan ampunan, keselamatan serta keberkahan yang luas kepada kita sekalian. Amin Yaa Robbal’alamin.


Edisi Revisi, Purworejo 13 Agustus 2024
 

Salam Tauhid Penulis,
NiniekSS

Disalin dari "BLOG NINIEKSS" Akun milik sendiri NiniekSS




BERTEMU “KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-1


 

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-1

 

Oleh : NiniekSS
 

Bismillah
 

Met jumpa lagi sobat, semoga siang ini Anda masih tetep sehat wal’afiat bersama keluarga Anda, dan apabila ada yang sedang sakit saya doakan semoga lekas mendapat kesembuhan dari Alloh SWT, apabila Anda sedang dirundung musibah semoga Anda dapat menerimanya dengan sabar dan tawakkal, dan apabila Anda sedang dirundung sedih semoga Alloh menghibur Anda dengan segala kasih sayangNya. Amien Ya Robbal Alamin.
 

Sahabat  yang  saya kasihi dimanapun Anda berada…

Ketika saya sedang  menyempurnakan konten dari  website saya blog niniekss, tiba-tiba saya ingin membagi pengalaman saya ketika saya bertemu dengan ‘sosok ghoib’ yang pada akhirnya saya yakini beliau adalah Nabi Khidir As, yang sering diperbincangkan orang, yang masih menjadi perdebatan pro dan kontra keberadaannya.

Keyakinan saya tentu saja berdasarkan riset yang panyang, bertahun-tahun melalui proses pemahaman keimanan dan metafisika yang saya peroleh dalam perjalanan waktu yang saya lalui selama ini.
 

Kuteruskan soal Nabi Khidir ya ?

Tahun 1992 adalah masa yang paling tidak bisa saya lupakan dalam hidup saya ! karena waktu itu saya merasa didunia ini hanya ada saya dengan Alloh SWT.

Bagaimana bisa demikian ? Waktu itu saya benar-benar TERBUANG ! Karena waktu itu saya HIJRAH dari agama kristen kembali ke agama semula saya ISLAM yang agung...

Melalui pertolongan Cak Nun (Emha Ainun Najib) akhirnya saya berhasil mondok di Pesantren Putri Zaennab Shidiq Jember…setelah sebelumnya saya diberi sepucuk surat rekomendasi dari Cak Nun untuk menghadap Bapak Kyai Hassan Sahal di Pondok Pesantren Putri Gontor Ponorogo. (Maaf saya lupa deh namanya…)

Saya diantar oleh Beliau Pak Kyai Sahal dengan kendaraan kijangnya untuk meninjau 3 pondok pesantren putri yang beliau kelola waktu itu. Satu persatu saya amati dari masing-masing pondok putri yang kami datangi.

Saya bingung ketika Pak Kyai Sahal bertanya sepulang dari ketiga tempat itu : “Mbak…sampeyan mau milih mondok dimana ? ” Saya sangat bingung untuk menjawabnya karena dari ketiga pondok putri yang saya datangi itu ternyata saya tak mampu menangkap perbedaan maupun kelebihan satu atas yang lainnya.

Mana yang harus saya pilih ? Apanya ? karena ketiganya punya nuansa yang hampir sama saja ! Yah begitulah suasana pondok, dimana mana terkesan sama, kederhanaan dan ketidakteraturan...

Rupanya Pak Kyai Sahal yang arif itu mampu menangkap kebingungan- ku.. Tiba-tiba beliau bertanya : “Mbak, sampeyan sudah bisa baca Al Qur’an belum?” Saya menjawab serta merta dengan penuh kejujuran : “Belum pak Kyai” (dengan bahasa jawa yang medhok dan dalam adab yang sangat sopan, saya memang sangat menghormati para ulama yang saya temui, saya sangat takut akan azab Alloh kalau saya sampai berlaku tidak sopan kepada para kekasihNya ).

Dengan jawaban saya yang jujur itu, diluar dugaan,  sepertinya Pak Kyai sangat kecewa dengan saya karena belum bisa membaca Al Qur’an. Akhirnya sayapun disuruh kembali kepada Cak Nun, dengan pesan, agar belajar baca Al Qur’an dulu kepada Cak Nun nanti kalau sudah bisa membaca Al Qur’an supaya kembali lagi kepada beliau.

Sayapun kembali menemui Cak Nun dan menyampaikan pesan Pak Kyai Sahal apa adanya. Waktu itu Cak Nun bertanya kepadaku begini : ‘Sampeyan mau gak nek tak kirim keseluruh Indonesia?’ (maksudnya mungkin kemanapun daerah diseluruh Indonesia yang akan dipilih Cak Nun untuk mengirimku kesana). ‘Saya siap Cak !’ jawabku penuh semangat.

Lalu Cak Nun kembali menyuruhku untuk menemui seseorang di daerah Jember, Jawa Timur. Cak Nun membekali saya dengan sepucuk surat dan uang yang waktu itu cukup untuk transport naik bis sampai ke Jember…
Singkat kata akhirnya sampailah saya ke Jember, dan alhamdulillah berhasil menemui alamat yang ditunjukkan oleh Cak Nun. 

Dirumah sahabat Cak Nun ini saya ada kurang lebih sebulan, saya belum tahu apa yang harus saya perbuat disana... Kebetulan sahabat Cak Nun ini orangnya sangat baik, tapi entahlah mengapa selalu menahanku setiap kali saya akan mencari informasi tentang Pondok Pesantren Putri yang kubutuhkan.

Akhirnya sayapun nekad. Tanpa sepengetahuannya saya keluar jalan-jalan, memang sengaja hari itu saya mau mencari info tentang pondok pesantren. Alhamdulillah hari itu juga saya menemukan pondok yang saya cari, ialah Pondok Pesantren Putri Zaennab Shidiq dibilangan pasar Tanjung tempatnya.

Saya mondok disitu ada kurang lebih satu tahun lamanya. Banyak hal yang saya serap dan pelajari disana. (Lain kali saya akan bagikan suka duka berada di pondok pesantren Ya sobat? )

Oh ya…Suatu hari…Saya merencanakan akan pergi menemui orangtua dari teman mondok saya, dirumahnya, daerah lumajang. Untuk mengutip premi asuransi. Saya sudah berkunjung sebelumnya, orangtua teman saya tertarik untuk mengambil polis Asuransi melalui saya. ( Waktu itu saya mondok, namun mendapat ijin dari Ibu Nyai Pondok untuk sambil bekerja diluar pondok, saya waktu itu sebagai Agen Asuransi Bumi Putra Jember ). 

Nah waktupun telah kami tetapkan bersama, kapan pembayaran premi akan dilaksanakan. Waktu yang telah kami tetapkanpun tiba. Tapi pada hari ‘H’nya saya tak punya uang sepeserpun untuk bepergian. Wah dilematis sekali waktu itu. Saya paling tidak suka ingkar janji, tapi gimana dong mau pergi tidak ada uang ?

Alhamdulillah pagi-pagi sekali setelah turun jamaah sholat subuh, ibu Nyai tiba-tiba menghampiri saya, saya pikir saya punya salah apa, kenapa Ibu Nyai mau menghampiri saya ?  Tidak tahunya saya ditanya : “Mbak Nien jadi mau ke lumajang gak ?” (dalam bahasa jawa krama inggil kepada saya). Wah saya juga bingung mau menjawab apa ? kalau saya jawab ‘jadi’ dengan apa saya mau berangkat, uang saja tidak punya? Tapi kalau saya jawab ‘tidak’ apa alasan saya?

Hubungan saya dengan Ibu Nyai dekat sekali karena saya sering memijat ibu apabila ibu kurang enak badan...kata beliau pijatan saya enak sekali (eh narsis sedikit kan tidak apa-apa to? , memang terbukti kok belum sampai selesai setiap kali saya memijat, beliau selalu saja sudah ketiduran he..he..). 

Dalam kedekatanku ini kami sering saling curhat tentang masalah-masalah yang terjadi diseputar pondok. Karena ditanya saya lama tidak menjawab, maka Ibu Nyai berkata : “Mbak, kalau mbak Nien mau pergi tidak punya uang, bisa pakai uang ibu dulu kok, jangan dibatalkan perginya, ini menyangkut janji dan soal rizky, jadi baiknya mbak Nien berangkat saja’. Pucuk dicinta ulampun tiba.

Akhirnya dengan ‘semangat 45′ pun berangkatlah saya menuju ke Lumajang rumah teman saya. Sepanjang perjalanan hati saya berbunga-bunga membayangkan komisi yang akan saya terima nanti jika orang tua dari teman saya jadi membayar premi asuransi seperti yang dijanjikan dalam pertemuan sebelumnya.

Hampir tiga jam perjalanan dari Jember kerumah teman saya tak saya rasakan. Sesampai dirumah teman saya, saya disambut hangat oleh kedua orangtuanya. Sampailah waktu yang saya tunggu-tunggu. Bapak teman saya memanggil saya untuk membicarakan asuransi. Saya sudah tidak sabar untuk mendengarnya. Saya sudah tidak sabar menunggu Bapak teman saya mengambil uangnya dan menyerahkannya kepada saya sebagai pembayaran preminya.

Alangkah kecewanya saya ketika Bapak teman saya meminta maaf bahwa pembayaran preminya terpaksa ditunda karena beliau harus membayar kekurangan dana ONH (Ongkos Naik Haji). Awalnya Bapak teman saya mau berangkat sendiri, tetapi belakangan isterinya mau ikut serta sekalian, jadinya uang yang sedianya mau untuk membayar premi terpaksa ditunda.

Saya sangat kecewa sebenarnya, tetapi kekecewaan itu segera saya tepis jauh-jauh. Bukankah naik haji adalah tujuan yang sangat mulia, tujuan yang sangat dirindukan oleh setiap orang muslim, mampu maupun tidak tetap mempunyai kerinduan untuk bisa sampai ke Mekah bukan? Mengapa saya harus egois? harus kecewa? bukankah saya harus mendukungnya siapapun orangnya yang hendak berangkat? Sayapun sangat ingin suatu saat nanti bisa naik haji. Insya Allah…

Saya pulang dengan lemas. Namun dihadapan orangtua teman saya dan dimuka teman sayapun saya berusaha untuk menutupi kekecewaan saya. Dalam perjalanan pulang keadaannya 180 derajat dari sewaktu berangkat tadi. Lemas..

Stop sebentar disini sobat….!!!

Belum lima menit saya naik angkot..waktu itu saya naik kendaraan L300..dan saya memilih duduk didepan walau sebetulnya dibelakang masih longgar tempat duduknya. Entahlah saya selalu memilih tempat didepan apabila naik kendaraan umum sampai sekarang ! Lha iyalah Yauw...karena kalau didepan kan bisa melihat pemandangan lebih leluasa. Ya kan?

Tiba-tiba ada anak muda yang nyetop (menghentikan kendaraan yang saya tumpangi )...Usianya tak lebih 25 tahun kira-kira. Dia memilih duduk disamping saya.. Aneh, sebelum membuka pintu kendaraan dia mengucapkan salam dulu..’Assalamu’alaikum…’ Saya balas salamnya ‘Waalaikumussallam…’

Pada pertama kali jumpa saya sudah merasa aneh dengan salamnya, karena tidak lazim di Indonesia selama ini, ada orang mau duduk disamping kita dalam kendaraan umum mengucapkan salam lebih dulu.
Kesan saya yang lain merasa aneh mengapa memilih tempat disebelah saya, bukan dibelakang ? Bukankah dibelakang masih banyak tempat yang masih kosong ? Apakah dia sama dengan saya sukanya duduk disebelah depan ?

Ah pusing amat mikirin dia. Nafsi-nafsi…he..he..
Kesan saya terhadap anak muda itu, kumuh dekil, baunya sangat amis, oh ternyata setelah saya perhatikan bau amis itu berasal dari eksim dikedua punggung tangannya yang membusuk bernanah. Luka itu melingkar sebesar tutup gelas kedua-duanya. Saya mau muntah rasanya…

Tiba-tiba saya ingat bahwa Alloh menilai manusia bukan dari tampilan fisiknya, tetapi Alloh melihat dari taqwanya. Astghfirullahaladziim…saya segera istighfar dan sungguh-sungguh mohon ampun kepada Alloh SWT. atas kekhilafan saya ini.

Tiba-tiba anak muda ini berkata : “Mbak sampeyan ini kok kasihan benar...sepanjang hidup sampeyan selalu menderita, tak pernah seneng…tapi tak apalah..nanti sampai di jember sampeyan gampang kalau mau cari uang banyak. Bahkan sampeyan sebelum umur 39 tahun sudah harus menolong orang. Sampeyan nanti bakal didatangi banyak orang, bahkan sampeyan sepulang ke pondok nanti sudah harus menolong orang’ katanya.

Saya menjawab ngeyel semaunya : ‘Wealah..sampeyan ini baru aja kenal dengan saya kok sudah meramal yang bukan-bukan to mas ? memangnya sampeyan ini tukang ramal ya ?’ (walau dalam hati saya jujur saja sangat takjub atas semua apa yang disampaikan kepada saya, karena semuanya benar, tak ada satupun yang salah).

‘Benar mbak. Semua yang saya sampaikan kepada sampeyan adalah sebuah kebenaran..jadi percayalah sama saya..’ katanya kepada saya.

Oh ya saya lalu bertanya kepadanya :’Mas, sampeyan rumahnya mana ? apa ditempat  tadi yang sampeyan nyetop kendaraan ini ya ?’ Saya penasaran. Dia menjawab :’Oh bukan. Saya akrab dengan semua penghuni lautan mbak..Saya bertanya lagi makin penasaran :”Oh..sampeyan nelayan ya?” Dia tersenyum dan menjawab lagi : ‘ Bukan mbak…saya ini mengenal seluruh penghuni lautan satu persatu dan saya akrab dengan semuanya…’

Ah saya pusing mendengarkan uraiannya. Saya waktu itu belum mengetahui bahwa Khidir adalah seorang nabi yang akrab dengan seluruh penghuni lautan karena memang hidup beliau adalah konon ditepi laut.

Saya lalu bilang :’O sampeyan ini manusia dari planet mars apa ? kok aneh-aneh saja yang sampeyan katakan.’Tidak mbak..saya manusia biasa, tapi saya suka menolong orang yang menderita seperti sampeyan ini’ katanya kepada saya.

Dia lalu mengatakan kepada saya bahwa didunia ini ada ilmu cahaya…ilmu jalan lurus…dan ilmu tentang air….
Dia bilang lagi…Sampeyan akan bisa menguasai ilmu-ilmu ini, asal sampeyan tetap bisa mempertahankan keimanan yang sampeyan punyai sekarang ini, dan sekali-kali
janganlah meninggalkan sholat…!!! pesannya.

Dia menyampaikan nasehatnya itu dengan penuh penekanan ketika mengatakan kata ‘sholat’. Bulu kuduk saya berdiri ketika menulis ini ingat akan peristiwa itu.

Lanjut Ya Sobat…?

Tiba-tiba terdengar suara kenek :’Arisan…arisan!..’ Maksudnya dia meminta ongkos. Langsung saya berikan uang kepada kenek itu sambil bilang :’Dua mas’..Kenek itu bertanya :’dua dengan siapa mbak ?’ Saya menjawab :’Ya dengan masnya ini to yang duduk disamping saya ini, sambil tangan saya menunjuk kearah anak muda yang ada disamping saya.

Kenek itu seperti bengong, dan saya hanya harus membayar untuk satu orang. Anak muda itu tidak ditarik bayaran, alias gratis. Lalu anak muda itu bertanya kepada saya :’Mbak sampeyan itu mbayarin siapa ?’ Saya bilang :’Ya mbayarin sampeyan itu to? kasihan, sepertinya tidak bawa uang ya ? saya menjawabnya sambil bercanda. Anak muda itu berkata kembali :’Mbak..mbak..saya ini mau ke Mekah sehari tujuh kali tidak bakal saya ditarik bayaran.’ Rupanya anak muda itu tidak terlihat oleh siapapun juga kenek L300 tersebut. Wallohua’lam.

Setelah itu sayapun mulai berhati-hati dan menempatkan diri. Sayapun mulai bertanya-tanya tentang siapakah sebenarnya anak muda itu ?
Dari rumah teman saya sampai ke Jember naik kendaraannya berganti empat kali. Sampai ke terminal Tawang Alun Jember anak muda itu terus membuntuti saya, sampai saya tak enak sendiri.  Punya maksud apa sebenarnya anak muda ini terhadap diri saya ?.

Ketika berada diterminal Tawang Alun, anak muda itu turun dari kendaraan yang kami tumpangi, saya mengikuti dibelakangnya untuk turun juga. Dia bilang : ‘Mbak..tunggu saya disini ya? sampeyan jangan kemana-mana. tolong tunggulah saya disini sebentar, saya mau kekamar kecil, sebentar saja’

Saya seperti di hipnotis waktu itu,  seolah tak berdaya untuk menolak permintaannya. Ketika dia pergi menuju kekamar kecil, sayapun duduk dikursi tempat tunggu para penumpang bus. Mata saya mengikuti kearah perginya anak muda itu. Dia saya lihat memang masuk kesalah satu kamar kecil yang ada disitu. Mata saya sekejabpun tidak lepas dari kamar kecil itu.

Tiba-tiba ada seorang pemuda yang berpakaian putih-putih keluar dari kamar kecil dimana anak muda tadi masuk. Dan pemuda yang berpakaian putih-putih itupun langkahnya jelas menghampiri saya, wajahnya bersinar cemerlang, dari arah beberapa meter sudah tercium wangi aroma dirinya..Wangi yang belum pernah kukenali sebelumnya.. dan sepertinya wangi yang begitu asing didunia.

Saya berdiri gemetar menyambut kehadirannya. Wajahnya memang mirip dengan anak muda kumal yang sepanjang Lumajang Jember bersama satu kendaraan dengan saya tadi. Tapi nanah dikedua punggung tangannya sudah tidak ada, menghilang kemanakah gerangan ?

Dia seperti memahami keterpanaan saya..Dia langsung mengajak saya untuk naik angkot yang menuju kejurusan pondok pesantren saya..Kali ini suasananya sudah lain. Saya tidak berani berkata-kata apapun. Ketika sampai dipertigaan jalan yang menuju ke tempat pondok pesantren saya, saya memberinya isyarah agar turun, karena telah sampai.

Dia mengatakan bahwa tujuannya hendak ziarah kemakam Kyai Shidiq, Ulama Sepuh Jember yang sangat kesohor. Sayapun memanggil dua becak, maksudnya satu untuk saya naiki, dan satunya lagi untuk mengantar anak muda itu ke makam Kyai Shidiq. Karena yang memanggil becak itu saya, maka saya bayar becak yang dia tumpangi.

Waktu itu pak becaknya meminta ongkos 300 perak. Saya masih ingat betul waktu itu uang saya 500 rupiah, ketika kembalian yang 200 itu saya terima, dimintanya sama anak muda itu sembari berkata : “Mbak, saya minta ikhlasnya kembalian ini ya ? ini bukan untuk saya tapi untuk sampean. Agar saya bisa selalu mendoakan sampeyan sampai kapanpun dan dimanapun sampeyan berada”.

Oke saya putus sampai disini dulu ya sobat? cerita saya belum usai nih tunggu lanjutannya besuk ya? Lebih seruu lho…Bersambung ke Bagian 2nya disini !

Terima kasih atas kunjungan kalian di Blog ini. Semoga Allah SWT. seniantiasa melimpahkan ampunan, keselamatan serta keberkahan yang luas kepada kita sekalian. Amin Yaa Robbal’alamin.

Edisi Revisi, Purworejo 8 September 2024


Salam Tauhid Penulis,
NiniekSS


Disalin dari "BLOG NINIEKSS" Akun milik sendiri NiniekSS


Back To Top