BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG KE-2


 

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG KE-2
 

Oleh NiniekSS
 

Bismillah,

Baca kisah pertemuan sebelumnya, disini !
 

Pagi itu,

Seperti biasanya, sehabis shalat tahajjud aku tidur sebentar, lalu bangun lagi untuk shalat fajar sebelum subuh...Mas Toto suamiku belum selesai dzikirnya. Alhamdulillah aku sudah selesai shalat subuh, ketika diluar kudengar ada yang mengucapkan salam. Suara seorang laki-laki. Kujawab salamnya. Heran sepagi ini sudah ada tamu yang datang. Karena suaranya dari arah warung, kupikir ia seseorang yang mau membeli sesuatu di pagi buta di warungku.

Aku berjalan tergopoh-gopoh kearah warung. Sebenarnya tak layak disebut sebuah warung, karena adanya hanya beberapa kilogram gula pasir, beberapa bungkus teh celup sariwangi, beberapa batang sabun mandi, dan semuanya hanya beberapa. Daripada tak ada kegiatan, kebutuhan rumah tangga untuk sehari-hari itu aku tata di etalase bekas, dan aku letakkan di warung, yang terletak diruangan sebelah kiri rumah. 

Kebetulan rumah kontrakan kami di sebelahnya ada warungnya, ya sudah aku tata saja disana, kalau ada tetangga yang membutuhkannya, kujual. Tapi ya ada saja yang membeli. Aku tak berniat membuka warung karena tak punya modal, dan lagi aku tidak telaten usaha warung. Aku lebih suka melayani pelanggan jamuku, orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan.

“Assalamu’alaikum…”. Salam itu kembali terdengar.

Wa’alaikumussalam…” balasku. Mungkin tadi balas salamku tak kedengaran oleh tamu itu. Kubuka pintu warung yang terbuat dari lembaran papan yang dijajar.

“Oh Bapak…kok pagi-pagi sudah ke warung pak, mau beli apa Pak..?” 

Tanyaku kepada tamu itu. Seorang peminta-minta tua, lusuh memakai tongkat dan tanpa alas kaki. Mengenakan sarung kumal dan baju putih lengan panjang yang sudah lusuh pula. Sikapnya sangat santun dan kilatan matanya bagai pedang, namun amat teduh. Aku terkesima, tapi tak mampu menduga-duga siapakah gerangan bapak ini.

“Bu maafkan saya, pagi-pagi telah mengganggu…saya kehausan Bu, kalau boleh mau minta minum teh manis yang hangat, tenggorokan saya sangat kering Bu, tadi mau minta diwarung sana tidak diberi…” Katanya.

“Oh boleh Pak, silahkan, tidak apa-apa Pak, sebentar ya Pak saya buatkan..” Kataku ikhlas. 

“Tapi silahkan masuk Pak, duduk dulu” kupersilahkan bapak tua itu masuk sebelum aku membuatkan minuman untuknya.

”Terima kasih Bu, saya diluar saja” katanya, sambil langsung duduk di bangku panjang yang sengaja ku letakkan di depan warung untuk duduk orang-orang yang pada belanja diwarungku. 

Tak lama kemudian segelas teh manis panas sudah saya hidangkan. Sepertinya bapak tua itu sangat menikmati teh buatanku.”Terima kasih sekali ya Bu tehnya, enak..” katanya memuji. 

“Ya Pak, alhamdulillah, saya juga terima kasih bapak mau minum teh saya.” jawabku. Kulihat sebentar saja gelasnya sudah kosong, rupanya bapak tua itu benar-benar haus.

Tetapi ada yang membuat saya ternganga...

Teh yang kuhidangkan itu adalah teh yang super panas karena air yang untuk membuat teh adalah air mendidih yang baru direbus dan ku masukkan ke termos. Panas sekali bukan ? 

Uap tehnya saja mengepul. Membuat minuman teh memang enaknya dengan air mendidih. Akan segar rasanya. Tetapi begitu teh kuletakkan di bangku yang diduduki bapak itu, langsung diminum habis seolah seperti minum air dingin saja. Begitu diulangnya hingga 3 gelas. Kalau orang biasa yang minum pasti akan melepuh lidah dan mulutnya dong. Saya ternganga keheranan. Tapi tak mampu menerka jawabnya. Siapakah sosok ini sebenarnya ?

Dalam hati aku mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah, pagi-pagi buta sudah memberiku kesempatan untuk berbuat kebaikan kepada seseorang. 

Lalu tiba-tiba bapak tua itu menyodorkan gelas kosong itu kepadaku sambil ujarnya : “Bu, maaf, boleh minta lagi tehnya tidak? Saya masih haus Bu...”, 

“Oh boleh-boleh, sebentar ya pak, saya buatkan tehnya lagi” lalu kusodorkan teh yang ke dua. 

Eh bapak itu dengan santainya bilang :”Bu, maaf, apakah teh ini tidak ada temannya?”.

”Maksud Bapak?” tanyaku kemudian kurang mengerti maksudnya.

“Barangkali ibu punya sarapan Bu, saya lapar sekali...” Saya kaget dengan permintaannya. Karena pagi itu belum masak nasi.

“Wah maaf sekali Pak saya baru mau nanak nasi. Kalau bapak mau, ada tuh kue pia, tapi maaf sekali kalau nasi memang belum ada pak” jawabku jujur. Aku merasa sangat kecewa tidak dapat memberi bapak itu nasi yang diminta. 

“Yah pia juga tidak apa-apa Bu, Alhamdulillah…” kata bapak itu kemudian.

Lalu kuambil kue pia itu 3 biji sisa yang ada di warung. Dilahapnya hingga habis oleh Bapak itu, malah masih minta tambah minum lagi, jadi habis tiga gelas. Aku terheran-heran dengan bapak tua itu, yang begitu lahap menghabis -kan tiga pia besar dan tiga gelas teh. 

“Bu, Alhamdulillah saya sudah kenyang, ini semua habisnya berapa Bu?” Saya kaget ketika bapak tua itu bertanya begitu. 

“Lho saya memberi  ikhlas kok pak, jadi tak usah bayar, malah saya bersyukur pagi-pagi bapak sudah memberi saya kesempatan beramal” balasku tulus.

“Alhamdulillah kalau begitu Bu, tapi kalau saya harus membayar, sayapun tak punya uang, saya hanya punya handuk ini satu-satunya kalau ibu mau..” berkata begitu bapak itu sambil melepas handuk kumuh yang dikalungkannya di lehernya dan diserahkannya kepadaku. 

Melihat handuk kumuh yang diberikannya kepadaku, aku menolaknya dengan halus. “Maaf pak, bukan saya menolak pemberian, tapi bapak kan masih hendak meneruskan perjalanan, kalau handuk itu untuk saya, nanti kalau bapak membutuhkan dijalan bagaimana ? Jadi sebaiknya handuk itu untuk bapak saja” kilahku.

“Baiklah kalau ibu tidak mau ya tidak apa-apa, lalu sebagai gantinya kalau ibu tidak mau handuk ini, ibu mau minta apa dari saya ?” Tanyanya kemudian, namun bapak itu tidak kecewa karena saya menolak pemberiannya. 

“Saya tidak minta apa-apa Pak, saya insya Allah ikhlas kok, kalau Bapak berkenan, tolong doakan saya sekeluarga agar selamat dunia akherat saja, dan agar saya selalu mendapat ridhoNya..”

“Wah permintaan ibu itu luar biasa Bu..insya Allah saya doakan” selesai ia mengatakan itu tiba-tiba saja ia mengusap langit-langit mulutnya, dengan ibu jarinya lalu diusapkan pada sekeliling gelas bekas minumnya dan mulai berdoa dengan mendongakkan kepalanya keatas dan kedua tangannya menengadah keatas. Doanya memakai bahasa Arab yang aku tidak tahu maknanya, namun banyak shalawatnya (karena aku mengenal beberapa shalawat, jadi aku tahu ketika bapak itu membaca shalawat.)

Yang membuatku terkesiap adalah ketika bapak itu hendak mengusap langit-langit mulutnya, yang lalu diusapkannya ke gelas bekas minumnya tadi, kulihat jempol ibu jari tangannya tidak bertulang ! (konon ini adalah salah satu ciri khas Nabi Khidir As). 

Seketika aku jongkok mengamini doanya. Ada satu ucapannya yang hingga kini tak bisa kulupakan adalah : “Orang yang kalau didunianya ringan melakukan kebaikan ya besuk diakheratnya juga digampangkan oleh Allah segala urusannya. Amiin Ya Robb.

Sebelumnya aku sudah menemukan beberapa keanehan-keanehan yang ada dalam diri bapak itu. Bapak itu mengatakan bahwa rumahnya adalah selatan desa Ngawu-awu. Padahal Ngawu-awu adalah desa paling selatan di kabupaten Purworejo kotaku. Dan sebelah selatannya sudah laut selatan. Kalau begitu tempat tinggalnya adalah di laut selatan. 

Keanehan lainnya adalah, pagi-pagi buta adalah saat yang tidak lazim untuk bertamu. Minta minum sampai tiga kali. Minum air teh yang kuhidangkan dalam keadaan tehnya masih panas mengepul uapnya. Berdoa dengan sebelumnya mengusapkan ibu jari tangannya kelangit-langit mulutnya. Pandangan matanya sangat tajam bagaikan kilatan pedang.

Setelah lama mendoakanku, bapak itu minta pamit padaku, dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepadaku. Hanya beberapa detik ia pamit, seolah seperti ditelan bumi, dicari kemana-mana tidak ketemu, padahal depan rumah adalah jalan raya dan lapang, jadi seseorang mau kemana bisa dilihat dari rumah. Bapak itu menghilang tak berbekas. 

Subhanallah Allah Hu Akbar. Semua wallahu’alam…Semoga ini suatu kebenaran adanya.

Begitulah kisah pertemuanku yang ke-2 in Sya Allah  dengan Nabi Khidir As.

Bca kisah selanjutnya, "PERTEMUANKU YANG KE-3 DENGAN NABI KHIDIR As" disini !

Terima kasih atas kunjungan kalian di Blog ini. Semoga Allah SWT. seniantiasa melimpahkan ampunan, keselamatan serta keberkahan yang luas kepada kita sekalian. Amin Yaa Robbal’alamin.

Edisi Revisi, Purworejo 8 September 2024
 

Salam Tauhid Penulis,
NiniekSS

Disalin dari "BLOG NINIEKSS" Akun milik sendiri NiniekSS


BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-2


 

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-2

 

Oleh : NiniekSS


Bismillah,


Sahabat NiniekSS dimanapaun Anda berada...

Sebelumnya, baca dulu Bagian 1nya ada disini !


Met jumpa lagi sahabat-sahabat yang saya kasihi dimanapun Anda berada saat ini. Semoga masih senantiasa sehat dan bahagia ya ? Amien…

Tadi siang sampe dimana ya kisahku tentang Nabi Khidir As. yang saya sampaikan kepada anda ? Ufh..agak lupa ni..maklum udah nenek-nenek cu…Oh alhamdulillah sudah ingat lagi sekarang..Tadi sampai ketika saya membayar becak untuk anak muda yang bareng dalam perjalanan bersama saya dari Lumajang sampai ke Jember ya ?

Akhirnya kami berpisah. Kami naik becak masing-masing. Dia ke jurusan makam Mbah Kyai Shiddiq, dan saya mau pulang ke Pondok. Pikiran saya masih terus memikirkan pertemuan dengan anak muda yang sangat aneh itu...

Masih terngiang segala apa yang ia sampaikan kepada saya sepanjang perjalanan dari Lumajang tadi. Tentang yang dia katakan bahwa saya sebelum umur 39 tahun besuk akan banyak didatangi orang yang meminta tolong, bahkan anak muda itupun tadi mengatakan kepada saya bahwa nanti sesampai pondok saya sudah harus menolong orang.

Belum habis keheranan saya terhadap anak muda itu, tiba-tiba saya dikejutkan suara memanggil-manggil : “mbak…mbak…”  Saya reflek menoleh mencari sumber suara yang memanggil-manggil dengan suara yang cukup keras itu. Karena becak yang saya tumpangi baru saja beranjak belum jauh. Ternyata yang memanggil-manggil itu adalah tukang becak yang dinaiki anak muda yang berbaju putih-putih tadi. Tukang becak itu melambaikan tangannya. Memberi isyarat agar kami mendekat kearahnya. Becak kamipun berbalik arah mendekati becak yang ditumpangi anak muda berbaju putih tadi.

Setelah dekat…supir becak yang ditumpangi anak muda itupun bertanya kepadaku :  ’Mbak…itu anak muda yang berbaju putih-putih itu siapa to ?’ Saya jawab :’Lho memangnya kenapa pak ?..’ tanyaku penasaran, karena anak muda berbaju putih itu sudah tidak ada dalam becaknya.
‘Hilang tiba-tiba mbak’ katanya. ’Lho hilang gimana pak ? ”Ya tiba-tiba saja sudah tidak ada dibecak mbak..’ Trus saya katakan apa adanya kepada tukang becak yang ditumpangi oleh anak muda berbaju putih tadi, bahwa saya tidak tahu tentang anak muda tadi.

Saya katakan bahwa kami hanya secara kebetulan satu perjalanan dari Lumajang sampai ke Jember tadi. ’Yah sudahlah tak usah dipikirkan, maaf ya pak ni sudah mau maghrib’ kataku kepada tukang becak yang ditumpangi anak muda itu, seraya mengajak tukang becak yang saya tumpangi agar segera mengayuh becaknya mengantar saya pulang ke pondok.

Singkat kata sampailah saya ke pondok. Belum habis keheranan saya memikirkan tentang anak muda yang penuh teka-teki itu tiba-tiba dari arah pondok anak-anak berteriak menyambut kedatangan saya : ‘mbak Nien…mbak Nien…’

‘Ada apa ?’ tanyaku tergopoh-gopoh melihat anak-anak menghampiri saya yang belum turun dari becak.

‘Itu mbak..anak-anak mbak…’ ‘Anak-anak kenapa ?’ tanyaku lagi.

‘Anak-anak pada kerasukan setan mbak...’ Mendengar laporan anak-anak seperti itu saya sangat terkejut dan bingung.

‘Lha ibu dimana ? (maksudku ibu Nyai). ’Ibu sedang pergi mbak….’

Wah gawat pikirku. Apa yang mesti kuperbuat kalau begini. Ibu sedang tidak berada di Pondok, mana saya sama sekali tidak tahu menahu bagaimana caranya mengusir setan dari tubuh manusia. Trus siapa yang harus saya hubungi karena disitu kami semua tidak pernah kontak dengan laki-laki.

Waktu itu ada delapan anak yang kerasukan setan. Berkelojot-kelojot ditanah sambil mulutnya berteriak-teriak tak karuan, matanya melotot seperti orang yang penuh dosa sedang menghadapi sakaratul maut.

Dengan setengah takut saya mendekati mereka. Tiba-tiba seperti ada kekuatan dan keberanian yang saya tidak mengerti darimana datangnya serta merta saya pukul tubuh salah satu anak yang kerasukan tadi dengan cukup keras sambil mulut saya berteriak : ‘Pergi..ini rumah Alloh..ayo pergi..kalau kamu tidak mau pergi dari sini akan kuhancurkan kamu sekarang juga ! ayo pergi !!!..’

‘Subhanallah…’  tanpa saya sadari dan saya mengerti mengapa, tiba-tiba anak kerasukan yang saya pukul tadi langsung sadar…

‘Allohu Akbar…Alhamdulillah…” teriak anak-anak rame gembira melihat temannya sudah sadar.

Seperti reflek, tangan saya langsung diseret sama seorang anak menuju kearah anak yang kerasukan yang lain. Karena mereka tidak berada disatu tempat, tetapi berserakan. Mereka ada didekat kamar masing-masing. Sayapun seperti mendapat ilmu dan pengalaman baru..Satu demi satu ketujuh anak kerasukan yang lain saya coba sembuhkan dengan cara yang sama dengan anak yang pertama kuusir setannya tadi.

Alhamdulillah…Alloh Maha Besar…

Kedelapan anak tadi lalu bisa sadar semua. Akan tetapi anak yang terakhir saya usir setannya terpaksa harus dirawat kerumah sakit karena dia ternyata menderita lemah jantung.

Dengan lemah lunglai kembalilah saya menuju kekamar pondokan saya. Masih ada waktu untuk mandi sebelum sholat jamaah maghrib. Ibu Nyai belum pulang dari luar kota, sholatpun diimami mbak-mbak yang senior.
Selepas sholat maghrib semestinya ada pengajian rutin. Tetapi saya ijin untuk tidak ikut. Alasan saya capek karena baru saja dari luar kota. Mbak-mbak senior bisa memakluminya dan memberiku ijin tidak ikut ngaji.

Saya berbaring ditempat tidur saya. Tempat tidur kehormatan yang diberikan oleh ibu Nyai kepada saya entahlah atas dasar alasan apa mengapa ibu memperlakukan saya sangat spesial. Sejak awal mondok saya tidak diijinkannya untuk tidur dilantai bersama anak-anak yang lain dalam kamar secara rame-rame sebagaimana kamar-kamar pondok yang lain, satu kamar biasanya bisa dihuni sampai 8 sampai 10 orang.

Saya diberinya kamar spesial. Satu kamar hanya untuk saya sendiri. Tempat tidurnya dari besi berukir sederhana, ada kasurnya yang cukup nyaman untuk tidur dan beralas sprei batik warna merah hati yang terpasang waktu pertama kali saya datang. Saya ingat betul itu...

Kamar itu berada dibelakang aula cukup luas, yang cukup untuk mengaji sekitar 150 orang. Disebelah depan untuk ruang perpustakaan yang tidak dibuka setiap hari, hanya kadang-kadang saja apabila ada anak yang memerlukan literatur untuk pelajarannya. Kesannya cukup membuat bulu kuduk berdiri...Pantas waktu pertama kali saya tidur disitu sendirian (satu rumah), paginya saya ditanya sama anak-anak :’Mbak Nien,kok pemberani banget ya ? tadi malam bisa tidur ga mbak ?...’

‘Ya bisalah yauw..memangnya kenapa ?’ tanyaku kepada anak-anak.

‘Gak papa kok mbak…’ jawab mereka, ragu-ragu seperti menyembunyi- kan sesuatu.

‘Ada hantunya apa ?’ tanyaku asal saja kepada mereka.

‘Lho kok mbak Nien tahu ?’ tanya mereka penasaran.

‘Tahu apanya, saya ga tahu apa-apa kok, dan semalam saya tidurnya malah nyenyak banget..spreinya dingin..wangi..sepi gak ada yang ngganggu..gimana mau gak bisa tidur ?’ saya nyerocos memberi penjelasan kepada anak-anak yang mengerumuni saya.

‘Ah sudahlah gak usah dibahas sekarang, nanti kita ketinggalan jamaah subuh lagi.

Malam itu sepulang dari lumajang sebenarnya saya benar-benar tak bisa tidur...memikirkan anak muda yang saya temui siang tadi. Benar juga apa yang dia katakan. Katanya tadi siang, sepulang saya sampai kepondok saya sudah harus menolong orang. Benar sekali. Belum sampai masuk kamar saya, saya sudah harus menolong anak-anak yang kerasukan setan.

Urusan ini tidak tanggung-tanggung…

Biasanya urusan ngusir setan kan dilakukan oleh seorang Kyai, Ustad atau orang-orang yang memang sudah fasih baca Qur’an. Tetapi tadi, mengapa saya bisa melakukan ini semua. Padahal saya ngaji Bismillah saja belumlah khatam.

Ada apa dengan ini semua ? 

Kali ini tubuh saya benar-benar lemah lunglai tidak karuan. Rasanya seperti orang mau jatuh sakit. Setelah sholat isya’ sendirian (karena mau melangkahkan kaki untuk menuju ke musholla besar badan terasa sudah tak kuat lagi). Hari ini benar-benar banyak kejadian aneh yang tidak saya mengerti dan tidak saya sadari. Proses apakah ini ?

Paginya saya benar-benar jatuh sakit. Badan panas dingin, mau muntah tak bisa keluar. Tak ada nafsu makan blas. Saya sudah dikeroki sama anak-anak, juga dipijit ala kadarnya. Saya tidak minum obat dan tak pergi kedokter. Saya sangat alergi minum obat-obat kimia, jadi walaupun sakit sepanjang masih bisa saya tahan saya emoh kedokter, takut badan saya jadi tong sampah kimia !

Tiba-tiba ada anak pondok yang namanya Nunung..mendekat dan gantian memijit kaki saya. Enak sekali pijatannya. Sepertinya dia punya bakat besar jika mau mengembangkannya nanti, setidaknya untuk keluarga sendiri. Lama dia memijat ada satu jam...sudah berkali-kali kusuruh untuk berhenti, tapi tetap saja jari-jarinya memijit seluruh badan saya.

Tiba-tiba dia punya usul :’Mbak Nien, baiknya mbak Nien urut yang beneran aja mbak.., dibelakang pondok ini ada tukang pijat mbak, besok aku antar ya ?

Entah mengapa saya cuma mengangguk menerima tawarannya, tanpa komentar apapun.

Akhirnya keesokan harinya saya diantarnya kebelakang pondok untuk mencari tukang urut yang dia katakan kemarin.

Habis ashar kami berangkat dari pondok. Aneh ! kami sudah ketemu dengan empat tukang pijat...tapi tak satupun yang mau memijat saya...Ada yang beralasan lagi kurang enak badan, ada yang beralasan mau bepergian, dan ada yang terang-terangan bilang kalau tak berani memijat saya.

Saya sudah nyaris putus asa karena rasa badan sudah tidak karu-karuan, saya paksakan jalan kaki untuk mencari tukang urut. E...ini sudah ketemu sampai 4 orang kok semuanya tak sanggup memijit saya dengan berbagai alasan. 

Tapi Nunung terus memberi semangat kepada saya ‘sabar ya mbak…semua ini ujian mbak..jangan kuatir..masih ada satu lagi yang belum kita samperin mbak’ katanya menghiburku.

‘Ah sudah pulang aja lah Nung..aku sudah tidak kuat..’

‘Nanggung mbak sudah sampai sini. Oke begini aja mbak satu kali lagi kita cari ya mbak, nanti kalau yang ini ketemu juga gak mau pijat mbak Nien,ya udah kita pulang’

Akhirnya saya setuju. Kami berjalan lagi menyusuri gang demi gang untuk sampai kerumah tukang pijit yang mau kami kunjungi. Sampailah kami disuatu rumah. Sepi. Tak ada siapa-siapa. Tapi pintu depan terbuka lebar. Aneh.

Kami ucapkan salam berkali-kali. Bergantian antara saya dengan Nunung. Tapi tak ada sahutan seperti tak ada orang dirumah itu.

Tiba tiba kami mendengar suara erangan yang teramat lemah, yang datangnya dari kamar depan, dekat dengan pintu utama rumah itu. Tanpa kami sadari kami memberanikan diri untuk memastikan sumber erangan tadi. Saya dengan Nunung menuju kekamar depan. 

Benar..disitu ada seorang ibu yang sedang terbaring sakit. Rupanya yang mengerang kesakitan itu adalah ibu tadi. Sebelum masuk kamar saya dan Nunung bersamaan mengucapkan salam lebih dahulu. Ibu itupun menjawab salam kami dengan lirih. Setelah itu ibu tadi mempersilahkan kami agar masuk kekamar.

Legalah perasaan kami, lalu kami masuk kedalam kamar karena sudah mendapat ijin dari tuan rumah. Dengan hati-hati kutanya apanya yang sakit. Ibu itu mengatakan bahwa sudah lima hari ini dia terbaring tak berdaya dan tidak ada yang merawatnya. Saya tanyakan ibu itu tinggal dengan siapa dirumah itu. Ibu itu mengatakan bahwa ia tinggal dengan anak laki-laki satu-satunya yang masih seumuran anak SMA. Saya tanyakan kemana anaknya sekarang ? Ibu itu bilang mungkin sedang ke belakang.

Benar saja. Dari arah belakang muncul anak laki-laki seumuran anak SMA mendekat kearah kami. Kami mengangguk dan menyampaikan tujuan kami kesitu sebenarnya mau minta diurut oleh ibunya. Dia bilang :’Maaf ibu sendiri sedang sakit mbak...mungkin kapan-kapan kalau sudah sembuh’

Naluri menolong saya tiba-tiba muncul ketika melihat ibu yang kesakitan tadi tidak tega. ‘Ibu...apa ibu mau saya tolong sebisa saya’ Saya mohon ijin padanya. Ibu itu mengangguk. walau belum tahu apa yang akan saya lakukan. Coba bu tolong dibuka bajunya ya, saya kerok dulu supaya anginnya keluar...kata saya kemudian kepada ibu itu.

Lalu saya kerok seluruh badannya. Ya Alloh..merah hitam warnanya, menandakan kalau ibu ini masuk angin yang sudah sangat terlambat.

Terus saya minta tolong anak laki-lakinya agar memarut jahe, bawang merah, dicampur dengan minyak kelapa serta dicampur dengan minyak kayu putih kalau ada. 

Setelah selesai saya kerok, lalu saya urut sebisanya dengan minyak yang dicampur-campur tadi,  pelan pelan sambil saya berdoa semoga Alloh ijinkan ibu itu sembuh dari sakitnya karena kasih sayangNya semata.

Beberapa lama kemudian ibu itu kentut berkali-kali yang baunya minta ampun...Tapi saya tidak tersinggung dengan bau kentutnya, bahkan saya sangat bersyukur bahwa Alloh sudah berikan tanda-tanda kesembuhan karena racun yang ada dalam perutnya sudah mulai bisa keluar lewat kentutnya.

Benar saja, tak lama berselang setelah berkali-kali kentut, ibu itupun mulai bisa meluruskan kaki, tidak seperti tadi ketika awal saya datang posisinya meringkuk, lutut sampai hampir menekuk keperutnya saking menahan sakit yang katanya luar biasa.

Saya minta air teh manis panas yang encer kepada anaknya. Lalu saya berikan kepada ibu itu sesendok demi sesendok sampai tetes yang terakhir.

Subhanallah…setelah segelas teh itu habis…tiba tiba ibu itu kepingin bangun. Saya bilang jangan bu, ibu sebaiknya istirahat dulu. Dan saya berpesan sebaiknya jangan makan nasi keras dulu, tapi usahakan makan bubur atau nasi lembek...

Saya tanyakan kepada anak laki-lakinya bisa tidak nanak nasi yang lembek ? kalau tidak bisa, biar untuk makan nanti saya buatkan dipondok. Anak itu mengangguk. Sayapun lega.

Tiba-tiba saya melihat ibu itu sudah bangun dan duduk dipinggir tempat tidur, meski masih terlihat lemas, tapi sudah tidak menahan sakit. Dia lalu menangis, mengucap syukur alhamdulillah dan mengucapkan terima kasih yang sangat kepada kami berdua yang telah menolongnya dari ambang kematian katanya.

Karena waktu sudah sore maka kamipun pamitan dengan membawa segudang kelegaan dan rasa syukur yang sangat kepada Alloh karena telah diijinkanNya untuk menolong orang yang sangat membutuhkan…tanpa terasa saya malah jadi lupa dengan sakit yang saya rasakan sebelumnya. 

Aneh..Saya menjadi segar bugar seperti tidak terjadi apa-apa dengan diri saya seolah olah saya ini tidak sedang sakit. Demam sayapun sirna sudah. Sampai dipondok anak-anak sudah menunggu...

‘Enak ya mbak habis urut ?’

‘Dah sembuh ya mbak setelah diurut ?’

Celoteh anak-anak dengan opininya sendiri-sendiri.

‘Alhamdulillah…” Jawabku...

Tiba-tiba Nunung menjawab : ‘Apa..wong mbak Nien itu tadi bukannya urut tapi malah ngurut dan nolong ibu dibelakang yang sudah sakaratul maut tahu ndak ?’..Kerumunan anak-anak semua bengong..

Nah itu baru bagian awal dari kisah pertemuan saya yang pertama kali dengan orang ghoib yang pada akhirnya saya yakini sebagai Nabi Khidir As, Nabi yang diyakini masih hidup sampai kini oleh sebagian orang termasuk saya, dan diburu oleh orang-orang tertentu untuk bisa bertemu.

Berkah yang saya rasakan hingga kini adalah ya sejak saat itulah apa yang pernah disampaikan oleh beliau kepada saya benar adanya…Sejak saya bertemu dengan beliau itu sampai sekarang saya harus selalu menolong orang. Padahal saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya punya keyakinan Lahaula wala quwwata ila bilahil ‘aliyul ‘adziim.

Sesudah pertemuan itu, saya masih beberapa kali bertemu, nantikan kisah saya selanjutnya. 

“Semoga dapat diambil hikmahnya…”

Baca pertemuan ke-2-nya disini ! 

Terima kasih atas kunjungan kalian di Blog ini. Semoga Allah SWT. seniantiasa melimpahkan ampunan, keselamatan serta keberkahan yang luas kepada kita sekalian. Amin Yaa Robbal’alamin.


Edisi Revisi, Purworejo 13 Agustus 2024
 

Salam Tauhid Penulis,
NiniekSS

Disalin dari "BLOG NINIEKSS" Akun milik sendiri NiniekSS




BERTEMU “KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-1


 

BERTEMU “NABI KHIDIR” YANG PERTAMA BAG-1

 

Oleh : NiniekSS
 

Bismillah
 

Met jumpa lagi sobat, semoga siang ini Anda masih tetep sehat wal’afiat bersama keluarga Anda, dan apabila ada yang sedang sakit saya doakan semoga lekas mendapat kesembuhan dari Alloh SWT, apabila Anda sedang dirundung musibah semoga Anda dapat menerimanya dengan sabar dan tawakkal, dan apabila Anda sedang dirundung sedih semoga Alloh menghibur Anda dengan segala kasih sayangNya. Amien Ya Robbal Alamin.
 

Sahabat  yang  saya kasihi dimanapun Anda berada…

Ketika saya sedang  menyempurnakan konten dari  website saya blog niniekss, tiba-tiba saya ingin membagi pengalaman saya ketika saya bertemu dengan ‘sosok ghoib’ yang pada akhirnya saya yakini beliau adalah Nabi Khidir As, yang sering diperbincangkan orang, yang masih menjadi perdebatan pro dan kontra keberadaannya.

Keyakinan saya tentu saja berdasarkan riset yang panyang, bertahun-tahun melalui proses pemahaman keimanan dan metafisika yang saya peroleh dalam perjalanan waktu yang saya lalui selama ini.
 

Kuteruskan soal Nabi Khidir ya ?

Tahun 1992 adalah masa yang paling tidak bisa saya lupakan dalam hidup saya ! karena waktu itu saya merasa didunia ini hanya ada saya dengan Alloh SWT.

Bagaimana bisa demikian ? Waktu itu saya benar-benar TERBUANG ! Karena waktu itu saya HIJRAH dari agama kristen kembali ke agama semula saya ISLAM yang agung...

Melalui pertolongan Cak Nun (Emha Ainun Najib) akhirnya saya berhasil mondok di Pesantren Putri Zaennab Shidiq Jember…setelah sebelumnya saya diberi sepucuk surat rekomendasi dari Cak Nun untuk menghadap Bapak Kyai Hassan Sahal di Pondok Pesantren Putri Gontor Ponorogo. (Maaf saya lupa deh namanya…)

Saya diantar oleh Beliau Pak Kyai Sahal dengan kendaraan kijangnya untuk meninjau 3 pondok pesantren putri yang beliau kelola waktu itu. Satu persatu saya amati dari masing-masing pondok putri yang kami datangi.

Saya bingung ketika Pak Kyai Sahal bertanya sepulang dari ketiga tempat itu : “Mbak…sampeyan mau milih mondok dimana ? ” Saya sangat bingung untuk menjawabnya karena dari ketiga pondok putri yang saya datangi itu ternyata saya tak mampu menangkap perbedaan maupun kelebihan satu atas yang lainnya.

Mana yang harus saya pilih ? Apanya ? karena ketiganya punya nuansa yang hampir sama saja ! Yah begitulah suasana pondok, dimana mana terkesan sama, kederhanaan dan ketidakteraturan...

Rupanya Pak Kyai Sahal yang arif itu mampu menangkap kebingungan- ku.. Tiba-tiba beliau bertanya : “Mbak, sampeyan sudah bisa baca Al Qur’an belum?” Saya menjawab serta merta dengan penuh kejujuran : “Belum pak Kyai” (dengan bahasa jawa yang medhok dan dalam adab yang sangat sopan, saya memang sangat menghormati para ulama yang saya temui, saya sangat takut akan azab Alloh kalau saya sampai berlaku tidak sopan kepada para kekasihNya ).

Dengan jawaban saya yang jujur itu, diluar dugaan,  sepertinya Pak Kyai sangat kecewa dengan saya karena belum bisa membaca Al Qur’an. Akhirnya sayapun disuruh kembali kepada Cak Nun, dengan pesan, agar belajar baca Al Qur’an dulu kepada Cak Nun nanti kalau sudah bisa membaca Al Qur’an supaya kembali lagi kepada beliau.

Sayapun kembali menemui Cak Nun dan menyampaikan pesan Pak Kyai Sahal apa adanya. Waktu itu Cak Nun bertanya kepadaku begini : ‘Sampeyan mau gak nek tak kirim keseluruh Indonesia?’ (maksudnya mungkin kemanapun daerah diseluruh Indonesia yang akan dipilih Cak Nun untuk mengirimku kesana). ‘Saya siap Cak !’ jawabku penuh semangat.

Lalu Cak Nun kembali menyuruhku untuk menemui seseorang di daerah Jember, Jawa Timur. Cak Nun membekali saya dengan sepucuk surat dan uang yang waktu itu cukup untuk transport naik bis sampai ke Jember…
Singkat kata akhirnya sampailah saya ke Jember, dan alhamdulillah berhasil menemui alamat yang ditunjukkan oleh Cak Nun. 

Dirumah sahabat Cak Nun ini saya ada kurang lebih sebulan, saya belum tahu apa yang harus saya perbuat disana... Kebetulan sahabat Cak Nun ini orangnya sangat baik, tapi entahlah mengapa selalu menahanku setiap kali saya akan mencari informasi tentang Pondok Pesantren Putri yang kubutuhkan.

Akhirnya sayapun nekad. Tanpa sepengetahuannya saya keluar jalan-jalan, memang sengaja hari itu saya mau mencari info tentang pondok pesantren. Alhamdulillah hari itu juga saya menemukan pondok yang saya cari, ialah Pondok Pesantren Putri Zaennab Shidiq dibilangan pasar Tanjung tempatnya.

Saya mondok disitu ada kurang lebih satu tahun lamanya. Banyak hal yang saya serap dan pelajari disana. (Lain kali saya akan bagikan suka duka berada di pondok pesantren Ya sobat? )

Oh ya…Suatu hari…Saya merencanakan akan pergi menemui orangtua dari teman mondok saya, dirumahnya, daerah lumajang. Untuk mengutip premi asuransi. Saya sudah berkunjung sebelumnya, orangtua teman saya tertarik untuk mengambil polis Asuransi melalui saya. ( Waktu itu saya mondok, namun mendapat ijin dari Ibu Nyai Pondok untuk sambil bekerja diluar pondok, saya waktu itu sebagai Agen Asuransi Bumi Putra Jember ). 

Nah waktupun telah kami tetapkan bersama, kapan pembayaran premi akan dilaksanakan. Waktu yang telah kami tetapkanpun tiba. Tapi pada hari ‘H’nya saya tak punya uang sepeserpun untuk bepergian. Wah dilematis sekali waktu itu. Saya paling tidak suka ingkar janji, tapi gimana dong mau pergi tidak ada uang ?

Alhamdulillah pagi-pagi sekali setelah turun jamaah sholat subuh, ibu Nyai tiba-tiba menghampiri saya, saya pikir saya punya salah apa, kenapa Ibu Nyai mau menghampiri saya ?  Tidak tahunya saya ditanya : “Mbak Nien jadi mau ke lumajang gak ?” (dalam bahasa jawa krama inggil kepada saya). Wah saya juga bingung mau menjawab apa ? kalau saya jawab ‘jadi’ dengan apa saya mau berangkat, uang saja tidak punya? Tapi kalau saya jawab ‘tidak’ apa alasan saya?

Hubungan saya dengan Ibu Nyai dekat sekali karena saya sering memijat ibu apabila ibu kurang enak badan...kata beliau pijatan saya enak sekali (eh narsis sedikit kan tidak apa-apa to? , memang terbukti kok belum sampai selesai setiap kali saya memijat, beliau selalu saja sudah ketiduran he..he..). 

Dalam kedekatanku ini kami sering saling curhat tentang masalah-masalah yang terjadi diseputar pondok. Karena ditanya saya lama tidak menjawab, maka Ibu Nyai berkata : “Mbak, kalau mbak Nien mau pergi tidak punya uang, bisa pakai uang ibu dulu kok, jangan dibatalkan perginya, ini menyangkut janji dan soal rizky, jadi baiknya mbak Nien berangkat saja’. Pucuk dicinta ulampun tiba.

Akhirnya dengan ‘semangat 45′ pun berangkatlah saya menuju ke Lumajang rumah teman saya. Sepanjang perjalanan hati saya berbunga-bunga membayangkan komisi yang akan saya terima nanti jika orang tua dari teman saya jadi membayar premi asuransi seperti yang dijanjikan dalam pertemuan sebelumnya.

Hampir tiga jam perjalanan dari Jember kerumah teman saya tak saya rasakan. Sesampai dirumah teman saya, saya disambut hangat oleh kedua orangtuanya. Sampailah waktu yang saya tunggu-tunggu. Bapak teman saya memanggil saya untuk membicarakan asuransi. Saya sudah tidak sabar untuk mendengarnya. Saya sudah tidak sabar menunggu Bapak teman saya mengambil uangnya dan menyerahkannya kepada saya sebagai pembayaran preminya.

Alangkah kecewanya saya ketika Bapak teman saya meminta maaf bahwa pembayaran preminya terpaksa ditunda karena beliau harus membayar kekurangan dana ONH (Ongkos Naik Haji). Awalnya Bapak teman saya mau berangkat sendiri, tetapi belakangan isterinya mau ikut serta sekalian, jadinya uang yang sedianya mau untuk membayar premi terpaksa ditunda.

Saya sangat kecewa sebenarnya, tetapi kekecewaan itu segera saya tepis jauh-jauh. Bukankah naik haji adalah tujuan yang sangat mulia, tujuan yang sangat dirindukan oleh setiap orang muslim, mampu maupun tidak tetap mempunyai kerinduan untuk bisa sampai ke Mekah bukan? Mengapa saya harus egois? harus kecewa? bukankah saya harus mendukungnya siapapun orangnya yang hendak berangkat? Sayapun sangat ingin suatu saat nanti bisa naik haji. Insya Allah…

Saya pulang dengan lemas. Namun dihadapan orangtua teman saya dan dimuka teman sayapun saya berusaha untuk menutupi kekecewaan saya. Dalam perjalanan pulang keadaannya 180 derajat dari sewaktu berangkat tadi. Lemas..

Stop sebentar disini sobat….!!!

Belum lima menit saya naik angkot..waktu itu saya naik kendaraan L300..dan saya memilih duduk didepan walau sebetulnya dibelakang masih longgar tempat duduknya. Entahlah saya selalu memilih tempat didepan apabila naik kendaraan umum sampai sekarang ! Lha iyalah Yauw...karena kalau didepan kan bisa melihat pemandangan lebih leluasa. Ya kan?

Tiba-tiba ada anak muda yang nyetop (menghentikan kendaraan yang saya tumpangi )...Usianya tak lebih 25 tahun kira-kira. Dia memilih duduk disamping saya.. Aneh, sebelum membuka pintu kendaraan dia mengucapkan salam dulu..’Assalamu’alaikum…’ Saya balas salamnya ‘Waalaikumussallam…’

Pada pertama kali jumpa saya sudah merasa aneh dengan salamnya, karena tidak lazim di Indonesia selama ini, ada orang mau duduk disamping kita dalam kendaraan umum mengucapkan salam lebih dulu.
Kesan saya yang lain merasa aneh mengapa memilih tempat disebelah saya, bukan dibelakang ? Bukankah dibelakang masih banyak tempat yang masih kosong ? Apakah dia sama dengan saya sukanya duduk disebelah depan ?

Ah pusing amat mikirin dia. Nafsi-nafsi…he..he..
Kesan saya terhadap anak muda itu, kumuh dekil, baunya sangat amis, oh ternyata setelah saya perhatikan bau amis itu berasal dari eksim dikedua punggung tangannya yang membusuk bernanah. Luka itu melingkar sebesar tutup gelas kedua-duanya. Saya mau muntah rasanya…

Tiba-tiba saya ingat bahwa Alloh menilai manusia bukan dari tampilan fisiknya, tetapi Alloh melihat dari taqwanya. Astghfirullahaladziim…saya segera istighfar dan sungguh-sungguh mohon ampun kepada Alloh SWT. atas kekhilafan saya ini.

Tiba-tiba anak muda ini berkata : “Mbak sampeyan ini kok kasihan benar...sepanjang hidup sampeyan selalu menderita, tak pernah seneng…tapi tak apalah..nanti sampai di jember sampeyan gampang kalau mau cari uang banyak. Bahkan sampeyan sebelum umur 39 tahun sudah harus menolong orang. Sampeyan nanti bakal didatangi banyak orang, bahkan sampeyan sepulang ke pondok nanti sudah harus menolong orang’ katanya.

Saya menjawab ngeyel semaunya : ‘Wealah..sampeyan ini baru aja kenal dengan saya kok sudah meramal yang bukan-bukan to mas ? memangnya sampeyan ini tukang ramal ya ?’ (walau dalam hati saya jujur saja sangat takjub atas semua apa yang disampaikan kepada saya, karena semuanya benar, tak ada satupun yang salah).

‘Benar mbak. Semua yang saya sampaikan kepada sampeyan adalah sebuah kebenaran..jadi percayalah sama saya..’ katanya kepada saya.

Oh ya saya lalu bertanya kepadanya :’Mas, sampeyan rumahnya mana ? apa ditempat  tadi yang sampeyan nyetop kendaraan ini ya ?’ Saya penasaran. Dia menjawab :’Oh bukan. Saya akrab dengan semua penghuni lautan mbak..Saya bertanya lagi makin penasaran :”Oh..sampeyan nelayan ya?” Dia tersenyum dan menjawab lagi : ‘ Bukan mbak…saya ini mengenal seluruh penghuni lautan satu persatu dan saya akrab dengan semuanya…’

Ah saya pusing mendengarkan uraiannya. Saya waktu itu belum mengetahui bahwa Khidir adalah seorang nabi yang akrab dengan seluruh penghuni lautan karena memang hidup beliau adalah konon ditepi laut.

Saya lalu bilang :’O sampeyan ini manusia dari planet mars apa ? kok aneh-aneh saja yang sampeyan katakan.’Tidak mbak..saya manusia biasa, tapi saya suka menolong orang yang menderita seperti sampeyan ini’ katanya kepada saya.

Dia lalu mengatakan kepada saya bahwa didunia ini ada ilmu cahaya…ilmu jalan lurus…dan ilmu tentang air….
Dia bilang lagi…Sampeyan akan bisa menguasai ilmu-ilmu ini, asal sampeyan tetap bisa mempertahankan keimanan yang sampeyan punyai sekarang ini, dan sekali-kali
janganlah meninggalkan sholat…!!! pesannya.

Dia menyampaikan nasehatnya itu dengan penuh penekanan ketika mengatakan kata ‘sholat’. Bulu kuduk saya berdiri ketika menulis ini ingat akan peristiwa itu.

Lanjut Ya Sobat…?

Tiba-tiba terdengar suara kenek :’Arisan…arisan!..’ Maksudnya dia meminta ongkos. Langsung saya berikan uang kepada kenek itu sambil bilang :’Dua mas’..Kenek itu bertanya :’dua dengan siapa mbak ?’ Saya menjawab :’Ya dengan masnya ini to yang duduk disamping saya ini, sambil tangan saya menunjuk kearah anak muda yang ada disamping saya.

Kenek itu seperti bengong, dan saya hanya harus membayar untuk satu orang. Anak muda itu tidak ditarik bayaran, alias gratis. Lalu anak muda itu bertanya kepada saya :’Mbak sampeyan itu mbayarin siapa ?’ Saya bilang :’Ya mbayarin sampeyan itu to? kasihan, sepertinya tidak bawa uang ya ? saya menjawabnya sambil bercanda. Anak muda itu berkata kembali :’Mbak..mbak..saya ini mau ke Mekah sehari tujuh kali tidak bakal saya ditarik bayaran.’ Rupanya anak muda itu tidak terlihat oleh siapapun juga kenek L300 tersebut. Wallohua’lam.

Setelah itu sayapun mulai berhati-hati dan menempatkan diri. Sayapun mulai bertanya-tanya tentang siapakah sebenarnya anak muda itu ?
Dari rumah teman saya sampai ke Jember naik kendaraannya berganti empat kali. Sampai ke terminal Tawang Alun Jember anak muda itu terus membuntuti saya, sampai saya tak enak sendiri.  Punya maksud apa sebenarnya anak muda ini terhadap diri saya ?.

Ketika berada diterminal Tawang Alun, anak muda itu turun dari kendaraan yang kami tumpangi, saya mengikuti dibelakangnya untuk turun juga. Dia bilang : ‘Mbak..tunggu saya disini ya? sampeyan jangan kemana-mana. tolong tunggulah saya disini sebentar, saya mau kekamar kecil, sebentar saja’

Saya seperti di hipnotis waktu itu,  seolah tak berdaya untuk menolak permintaannya. Ketika dia pergi menuju kekamar kecil, sayapun duduk dikursi tempat tunggu para penumpang bus. Mata saya mengikuti kearah perginya anak muda itu. Dia saya lihat memang masuk kesalah satu kamar kecil yang ada disitu. Mata saya sekejabpun tidak lepas dari kamar kecil itu.

Tiba-tiba ada seorang pemuda yang berpakaian putih-putih keluar dari kamar kecil dimana anak muda tadi masuk. Dan pemuda yang berpakaian putih-putih itupun langkahnya jelas menghampiri saya, wajahnya bersinar cemerlang, dari arah beberapa meter sudah tercium wangi aroma dirinya..Wangi yang belum pernah kukenali sebelumnya.. dan sepertinya wangi yang begitu asing didunia.

Saya berdiri gemetar menyambut kehadirannya. Wajahnya memang mirip dengan anak muda kumal yang sepanjang Lumajang Jember bersama satu kendaraan dengan saya tadi. Tapi nanah dikedua punggung tangannya sudah tidak ada, menghilang kemanakah gerangan ?

Dia seperti memahami keterpanaan saya..Dia langsung mengajak saya untuk naik angkot yang menuju kejurusan pondok pesantren saya..Kali ini suasananya sudah lain. Saya tidak berani berkata-kata apapun. Ketika sampai dipertigaan jalan yang menuju ke tempat pondok pesantren saya, saya memberinya isyarah agar turun, karena telah sampai.

Dia mengatakan bahwa tujuannya hendak ziarah kemakam Kyai Shidiq, Ulama Sepuh Jember yang sangat kesohor. Sayapun memanggil dua becak, maksudnya satu untuk saya naiki, dan satunya lagi untuk mengantar anak muda itu ke makam Kyai Shidiq. Karena yang memanggil becak itu saya, maka saya bayar becak yang dia tumpangi.

Waktu itu pak becaknya meminta ongkos 300 perak. Saya masih ingat betul waktu itu uang saya 500 rupiah, ketika kembalian yang 200 itu saya terima, dimintanya sama anak muda itu sembari berkata : “Mbak, saya minta ikhlasnya kembalian ini ya ? ini bukan untuk saya tapi untuk sampean. Agar saya bisa selalu mendoakan sampeyan sampai kapanpun dan dimanapun sampeyan berada”.

Oke saya putus sampai disini dulu ya sobat? cerita saya belum usai nih tunggu lanjutannya besuk ya? Lebih seruu lho…Bersambung ke Bagian 2nya disini !

Terima kasih atas kunjungan kalian di Blog ini. Semoga Allah SWT. seniantiasa melimpahkan ampunan, keselamatan serta keberkahan yang luas kepada kita sekalian. Amin Yaa Robbal’alamin.

Edisi Revisi, Purworejo 8 September 2024


Salam Tauhid Penulis,
NiniekSS


Disalin dari "BLOG NINIEKSS" Akun milik sendiri NiniekSS


BERBURU BARANG ANTIK

BERBURU BARANG ANTIK 

Bismillahirrahmanirrahiim…

Salam Sejahtera Bagi Seluruh Alam,

Puji dan syukur hanya kepada Allah Pemilik Seluruh Nikmat. Shalawat dan salam yang setulus-tulusnya semoga senantiasa tercurah atas Nabi Agung Muhammad Rasulullah SAW, bagi keluarga dan sahabatnya yang mulia serta para pengikutnya yang setia sampai akhir jaman.

Pembaca Blog Yang Setia

Ijinkan kali ini saya akan menghibur kalian dengan kisah nyata yang pernah saya alami sendiri tentang berburu barang antik.

Mosok tiap hari, kalian dijejali artikel tentang penyakit maag saja, ya bosenlah lama-lama. Iya kan ? Doa dan harapan saya, kalian semua menjadi sembuh dan sehat, seperti sedia kala, dan saya takkan menulis lagi tentang sakit maag, namun tentang kehidupan dan misterinya, yang jauh lebih menarik dan bikin penasaran orang…Setuju nggak kawan ?

Saya tuh tinggal di perumahan Boro Mukti Permai, termasuk kawasan elitlah untuk kabupaten Purworejo. Ya terbukti hampir 60 % penghuninya punya kendaraan roda empat, sisanya 39,5 % nya semua punya sepeda motor, bahkan ada yang mempunyai lebih dari satu..Dua atau tiga sepeda motor.

Ada juga kok yang punya Alpard, CRV, atau Fortuner. Kalau yang memiliki semacam Avansa dan Inova wah banyak banget. Ya enaklah punya tetangga kaya, kalau kemana-mana, nengok tetangga sakit, takziah selalu ditawari untuk nebeng. Alhamdulillah…

Yang 0,5 % ya tinggal saya sendirilah yang Alhamdulillah hanya memiliki sepeda onthel saja sudah butut. Kalau dipakai bunyinya kreyat-kreyot, jaraknya masih jauh dari rumah, suami  belum keliatan orangnya suara sepedanya sudah kedengaran duluan. he he...

Ini hanya intermezzo aja. Saya sungguh sangat bersyukur dengan kehidupan kami yang sekarang ini, kalau hendak ditukar oleh Allah dengan kehidupan mereka yang bermobil Alpad, saya insya Allah akan menolak dengan tegas.

Saya akan berkata kepada Allah Yang Maha Agung : Ya Allah, saya mohon ampun bukan berarti saya menolak pemberianMu, tetapi bila Engkau ijinkan saya tetap memilih kehidupan saya yang sekarang saja Ya Allah, karena ini sudah sangat jauh lebih dari cukup dibanding dunia dengan seluruh isinya.

Puji dan syukur kepadaMu yang tiada berbatas Ya Allah, Engkau sudah beri hamba seorang Nabi SAW, seorang Rasul yang sangat sempurna bagi hamba, yang menuntun hamba kepada Agama yang Engkau Ridhoi. Islam Rahmatan Lil Alamin.

Engkau beri hamba Agama Islam yang agung, jalan dan cahaya kebenaran dengan Al Qur’anul Karim Kitab Suci Yang Sempurna, serta Al Hadits sebagai panduannya.

Engkau beri hamba seorang Mursyid yang saleh, yang membimbing ruhani hamba kembali kepadaMu melalui jalan yang telah Engkau tunjukkan, melalui medan suluk sebagaimana Engkau turunkan petunjuk-petunjukMu ketika Nabi kami Muhammad Rasulullah SAW dalam tiap-tiap berkhalwatnya digua Hiro’.

Engkau beri kami suami yang baik, yang pengasih dan penyayang, yang rajin sholat dan berdzikir, sehingga sering membuat iri hati hamba jika ia sedang berdzikir kepadamu, karena bisa lama dan khidmat.

Suami yang selalu mendidik hamba untuk selalu bersyukur, bersabar dan tawakkal.

Suami yang penyabar, yang tak pernah marah apalagi membentak, tak pernah menuntut walau sekedar diladeni segelas air minum.

Tidak sebagaimana suami-suami para wanita yang selalu marah-marah, membentak-bentak, berkata dan berlaku kasar hingga main tangan, terlalu menuntut dalam segala hal, termasuk selalu menuntut kebutuhan biologisnya kepada isteri, ia tak mau tahu meski isterinya sedang terkapar diranjangnya meratapi kesedihannya karena sakit maagnya yang bertahun-tahun belum sembuh juga. Tetap saja suaminya memaksanya bak pemerkosa saja.

Ya Allah, hamba merasa lebih dari cukup dengan apa yang Engkau berikan kepada kami sekarang ini. Meski kami belum mempunyai rumah sendiri, tidak memiliki mobil, dan tanpa mempunyai deposito. Itu semua tak begitu penting bagi hamba Ya Allah. Hamba sudah merasa kaya dengan bergantung harap hanya kepadaMu bukan kepada manusia lagi Ya Allah.

Meskipun kami tak memiliki dunia, namun dunia telah Engkau hamparkan kepada kami, dihadapan kami, jika kami mau Ya Allah. Semua kebutuhan hidup kami telah Engkau cukupkan tanpa kami harus bersusah payah lagi Ya Allah.

Makan, kami sekeluarga tak pernah kelaparan. Rumah, Engkau beri kami pinjaman rumah tanpa batas waktu dan tak perlu mengontrak. Mobil, meskipun kami tak memilikinya, Ustadz Zakaria, HambaMu yang demikian shaleh siap membantu keperluan kami dengan ikhlasnya, dengan mobil Avanza yang diikhlaskan oleh santrinya jika setiap saat dibutuhkan tinggal dipakai saja, sehingga Ustadz Zakaria-pun menawarkan kepada kami Ya Allah, hingga kami sangat sungkan kepada kekasihMu ini Ya Allah.

Betapa Engkau sangat memanjakan hidup kami Ya Allah.

Hamba sangat bersyukur kepadaMu Ya Allah, Engkau beri hamba seorang putri yang sangat patuh kepada kami orang tuanya. Sedangkan nasehat kami yang utama adalah agar ia nomor satukan Allah Ta’ala serta Rasulullah SAW dari segala hal dan kapanpun serta dimanapun.

Ia sering lari terbirit-birit memasuki ruang kuliah karena tak mau kehilangan shalat dhuhurnya. Karena letak masjid Universitasnya agak jauh dari kampusnya. Engkau Maha Tahu Ya Allah.

Engkau beri kami anak yang  mengedepankan zakat dan sedekah, hingga uang bidik misinyapun dizakatinya. Ia dermawan seperti didikan hamba, tetapi bukan dari uang bidik misinya Ya Allah, dari sela-sela kuliahnya ia masih menyempatkan membuat kue untuk dijual, dan hasilnya untuk keperluan bersedekah bagi anak-anak yatim dan dhuafa yang ditemuinya.

Ia lebih baik mengesol sepatunya yang jebol, daripada uangnya untuk membeli sepatu baru. Ya Allah Alhamdulillah, Engkau karuniai kami anak, yang sebaik-baik seorang anak. Hamba mohon limpahilah anak hamba dengan keberkahan ampunan dan RidhoMu di dunia hingga akheratnya Ya Allah. Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Ya Allah sudah Engkau limpahkan keberkahan, taufik serta hidayah yang lebih dari cukup bagi hamba sekeluarga Ya Allah, sehingga kami malu untuk meminta lebih kepadaMu kecuali Ampunan dan RidhoMu yang selalu kami harapkan dalam hidup dan ketika kami sudah mati kelak.

Sampai lupa nih kisahnya soal berburu barang antik..

Rumah yang kami tempati adalah milik mbak ipar saya yang baik hati. Beliau tinggal di Jakarta. Dan mempersilahkan kami untuk menempati rumahnya terserah sampai kapan. Alhamdulillaah…semua ini atas kemurahan Allah belaka. Bayangkan, jika harus kontrak, darimana kami punya uang ? Kalau sekarang sih rejeki dari keuntungan penjualan buku, sedikit-sedikit bisa dikumpulkan untuk kontrak barangkali diperlukan ?

Lha dulu ? Uang 10 ribu saja tak tahu kemana hendak dicari. Untuk mencarinya harus selalu menangis dulu kepada Allah Yang Maha Memiliki Segala. Butuh pagi minta pagi, butuh siang minta siang, butuh malam ya mintanya malam.

Saya jarang sekali, minta untuk yang dibutuhkan besuk atau lusa mintanya sekarang. Karena saya tak tahu apakah usia saya bakal sampai esok atau lusakah ?

Yang saya pikir dan kerjakan adalah hari ini. Hari kemarin adalah sebuah hikmah. Dan hari esok masih wallahua’lam. Bekerja, beribadah, mengukir prestasi, berbuat baik ya HARI INI ! Bukan kemarin atau lusa. Tak ada kamusnya dalam hidup saya.

Saya mengajarkan falsafah hidup ini kepada putri saya. Hidup adalah hari ini ! Bukan kemarin atau besuk ! Soal besuk masih ada lagi hari ? Itu adalah Rahmat dan Karunia, tetapi pikirkan besuk jangan sekarang.

Dalam hidup saya, tak pernah ada perencanaan. Sebab yang lebih sering, selalu meleset dari rencana Allah. Lha ya mending menyerahkan seluruh hidup kepada perencanaan Allah Ta’ala, yang jauh lebih baik dan sempurna untuk kita ? Ya nggak ? AMAZING !

Meskipun rumah mbak ipar kami masih orisinel, masih asli belum direnovasi, teman-teman pada betah main kerumah. Jadi tiap hari tak pernah sepi tamu, pokoknya ada sajalah yang bertandang. Apalagi jamannya dulu saya masih suka MLM, ya Allah banyak tamu dari mana-mana datang kerumah untuk menawarkan produk MLMnya. Dengan harapan saya ikut bergabung dan lalu memasarkan produknya.

Namun saya bergabung kan bukan untuk ikut memasarkan produknya ? Lha wong diri saya sedang tak pernah sehat rasanya. Ya itulah sakit maag yang tak sembuh-sembuh akhirnya bergembang menjadi gerd yang cukup memprihatinkan dan kena anxyetas juga.

Jadi saya mendaftar hingga lebih dari 50 keanggotaan multilevel itu hanya karena sedang terus berburu obat herbal yang cocok untuk kesembuhan maag saya. Sampai saya di kabupaten Purworejo dulu dijuluki Mbahe multilevel he he..Tapi belum juga ketemu dengan obat yang cocok waktu itu.

Suatu hari adik kandung saya, yang namanya Embong, saat ini tinggalnya di Jakarta, sms ke saya : Mbak jika ada kenalan yang punya piring anti basi, tolong infokan ke saya. Jika asli, per piring 30 juta cash ! Mata saya terbelalak membaca sms adik saya tersebut. Itu uang atau daun ? kok begitu tinggi penawarannya hanya untuk sebuah piring meskipun anti basi !

Selanjutnya adik menyebutkan ciri-ciri piring anti basi yang sedang diburunya. Juga menyampaikan bagaimana cara mengetesnya asli dan tidaknya.

Nah suatu hari pula, tanpa disengaja, tetangga depan rumah ada tamu. Kebetulan tetangga pemilik rumah sedang tak ada dirumahnya. Sedang keluar. Lalu tamunya itu lama menunggu sambil jongkok dijalanan depan rumah.

Saya paling gak bisa melihat tamu terlantar. Saya minta tolong suami agar menyapa tamu tetangga yang sedang jongkok ditepi jalan gang depan rumah, dan kalau mau biar dipersilahkan untuk menunggu dirumah kami.

Lalu tamu tetangga itupun mau dipersilahkan menunggu dirumah kami. Seperti biasa saya buatkan minum teh hangat yang manis. Segaaar…kan dia tidak sakit maag ? boleh dong minum teh manis yang tak encer ?

Ngobrol sana ngobrol sini. Lho..lho..lho... tiba-tiba tamu itu bertanya kepada saya :”Bu, mbok kalau ada kenalan yang butuh piring anti basi, saya punya 3 buah, asli Bu! Hanya 5 juta saja sebuahnya. Tapi sekarang piringnya ada dirumah saya Wonoroto bu. Kalau nanti ada yang minat, silahkan ibu kerumah saya, cari saja rumahnya Harto Wonoroto, semua orang sudah tahu bu”.

Loh tak pikir-pikir aneh sekali, kemarin adik baru saja sms mencari piring anti basi. Dan berani membelinya dengan harga 30 juta per piring. Ini ada orang datang menawarkan, hanya dengan harga 5 juta ! Waaah pucuk dicinta ulam tiba niih. Keuntungan 75 juta sudah terbayang didepan mata, siapa tidak tergiur ? Kesempatan kan ?

Sebenarnya saya tak begitu minat dengan barang antik. Karena dulu Ustadz saya di Jember, Gus Latzari di Kesilir Jember pernah mengingatkan :”Gak usah main barang antik Nur ! nggarahi kere ! (nggarahi bahasa Jawa Timur = menyebabkan). Lah ini kebetulan saja adik butuh, dan info tak usah dicari datang sendiri kerumah, E siapa tahu jodoh rejekinya he he…

Sebenarnya hari itu saya merasa agak sehat lambungnya. Tapi agak ragu juga jika ingin melihat piring anti basi kerumah Pak Harto di desa Wonoroto dengan naik motor. Tapi entahlah, ada keinginan yang sangat kuat yang mendorong saya untuk berburu piring anti basi pesanan adik tersebut.

Padahal jarak rumah saya ke desa pak Harto ada kurang lebih 20 km sekali perjalanan. Malam itu saya benar-benar tak bisa tidur. Memikirkan bayangan keuntungan 75 juta yang bakal didapat, tapi juga membayangkan apa yang bakal terjadi jika saya benar-benar berangkat kerumah Pak Harto.

Akhirnya, tanpa berpikir panjang lagi, sudah tak ingat lagi kalau perut untuk naik motor masih sakit, berangkatlah saya dengan teman saya Mbak Bety kesana. Goncengan naik motor. Teman saya Bety yang didepan. Yang terpikir sepanjang perjalanan adalah keuntungan sebesar 75 juta rupiah.

Bisa kalian bayangkan. Uang sepuluh ribu saja harus menangis dulu kepada Allah. Lha ini ada peluang 75 juta kok mau dilewatkan, ya teramat sayanglah.

Awalnya kami berjalan melewati jalan raya. Lalu masuk jalan kecamatan. Dan akhirnya menyusuri jalan pedesaaan, jalan yang masih berupa tanah. Dikanan kirinya sebatas mata memandang hanya hamparan sawah yang menghijau di musim mratak (buah padi mulai menyembul dari batangnya). Tak ada sebuah rumahpun yang kelihatan.

Pantas pada dekade tahun 60-an didaerah ini sering terjadi perampokan ditengah sawah. Sepeda motor seseorang dirampas beserta harta bendanya.

Ngeri juga rasanya melewati terbis-terbis yang panjang ini (terbis adalah lahan sawah yang sangat luas, yang jauh dari pedukuhan penduduk). Apalagi kami berdua perempuan. Tapi waktu itu sudah tak pernah lagi ada kasus perampasan disana. Sudah aman. Tapi dag dig dug juga hati kami melewati daerah yang masih asing ini Ya Allah…Mulut kami terus komat kamit membaca doa apa saja sepanjang melewati terbis ini.

Karena musim awal mratak, maka tak ada seorangpun yang berada disawah. Namun jika musim tanam atau musim panen, banyak sekali orang ada disawah.

Nun jauh disana sini nampak gerumbul-gerumbul pohon kelapa, menandakan disana ada padukuhan yang dihuni orang. Namun jauh juga jangkauannya. Alhamdulillah akhirnya sampailah kami pada ujung bulak, ujung persawahan yag sangat panjang. Alamat bakal bertemu manusia he he. Benar juga. Kami melihat ada bapak-bapak yang sedang berjalan sambil memanggul bumbung, sepertinya hendak mengambil air badek. Tetesan pohon kelapa yang bakal dibuat gula merah.

Ketika kami bertanya rumah pak Harto, ternyata bapak itu langsung tahu. Dan menunjukkan arah di padukuhan sebelah mana kami harus menuju. “Itu disebelah sana mbak, dekat kok !” kata bapak itu lagi.

Ya Allah..ternyata apa yang dibilang bapak itu dekat, jauhnya bukan kepalang. Namun ajaib. Akhirnya sampailah kami kerumahnya pak Harto, alhamdulillah pak Harto sedang ada dirumah. Tak pake basa basi maka kamipun menanyakan piring anti basi yang ditawarkannya itu kemarin. Lalu apa jawaban pak Harto ? “Maaf bu, baru tadi malam piring itu diambil adik saya, karena katanya ada yang minat untuk beli”.

Dan setelah kami tanyakan dimanakah rumahnya adik pak Harto, barangkali saja rumahnya masih bisa kami jangkau, sekalian perjalanannya he he. Eh ternyata rumahnya di desa yang teramat jauh jangkauannya. Lebih jauh jaraknya dari perjalanan rumah saya sampai kerumah pak Harto. Allah…

Langsung kami lemas. Tubuh rasanya tak bertulang lagi. Bayangan uang 75 juta langsung mengabur dan hilang sama sekali dari harapan. Kami tak bawa bekal baik makanan maupun minuman. Biasanya jika kami pergi ke desa-desa kan selalu dibuatin minum dan selalu ada sajian beraneka warna kue-kue, meskipun kue ndeso, tapi enak rasanya lho....

Ini, kebetulan isteri pak Harto lagi tak ada dirumah. Kebetulan pula pak Harto rupanya bukan laki-laki yang trampil membuat minuman, dan tak biasa memuliakan tamu. He he jadinya kami benar-benar kehausan dan kelaparan…Allah…

Temen saya Bety ngegrundel. Saya tersenyum geli melihat muka Bety kaya ditekuk. Karena ia juga sangat kecewa dengan Pak Harto. Sudah tak ketemu dengan piringnya, eh tak ketemu pula sama air minum setetespun he he..Dan ia juga sudah membayangkan bakal tak kasih bagian yang tak sedikit, jika transaksi piring anti basi ini kejadian.

Tenggorokan kami kering ketika kami berpamitan. Akhirnya kami mampir di sebuah warung di tepi jalan ketika hendak pulang. Alhamdulillah kami ketemu warung, dan ada jajanan nagasari yang dijual. Lumayan sebagai pengganjal perut yang sudah meronta. Lemas dan keringat dingin sudah mulai mengalir di kedua tangan dan kaki. Berabe !

Nah Alhamdulillah kami selamat pulang sampai rumah dengan penuh kekecewaan yang memenuhi otak. Ini merupakan pengalaman yang pertama dan terakhir saya dalam berburu barang antik.

Membuang waktu, membuang tenaga, membuang biaya, untuk sebuah impian yang tak masuk akal. Sehingga saya hampir saja terlambat shalat, hampir saja pingsan, pekerjaan rumah tangga terbengkalai karena seharian ditinggal pergi, anak tak keurus, hasil nihil. Dan ini adalah pekerjaan yang memang dirancang dengan manis oleh syaiton agar menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan yang sangat nyata. Tanpa payah bekerja bisa mendapatkan hasil yang segunung, walau dalam impian !

Alhamdulillah masih Allah selamatkan diri saya dari sebuah kehancuran yang diakibatkan oleh berburu barang antik maupun harta karun !

Meskipun masih banyak yang menitipkan barang-barang antik ditempat saya, seperti buluh perindu, pring pethuk, mani gajah dan lain lainnya semua saya kembalikan kepada pemiliknya, tanpa tergiur untuk menjualnya dan mendapatkan keuntungan yang aduhai.

Banyak juga yang heboh mencari samurai asli Jepang yang roll atau yang selendang yang mau menawar dengan bertrilyun rupiah, batu merah delima, kul buntet apalah itu…barang-barang tempatnya syaiton berkelana menjerumuskan manusia.

Itulah pengalaman saya. Benar kata Ustadz saya Gus Latsari, bahwa jangan main barang antik jika tak ingin hidup dan kehidupan kandas menjadi tak tentu arah. Memang benar dan nyata, bukanlah dusta !

Semoga ada hikmahnya bagi kalian ya ?
Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Salam Penulis,
Niniek SS

 


 

DUA PULUH EMPAT KM JALAN KAKI MENCARI BU NINIEK

DUA PULUH EMPAT KM JALAN KAKI MENCARI BU NINIEK

Bismillahirrahmanirrahiim...

Teman, ini tak ada kaitannya sama sekali dengan soal maag. Ini kilas balik 2 dasa warsa yang lalu sebelum saya sakit. Tidak tepat sih hitungan tahunnya, kira-kira saja. Apa manfaatnya saya mengangkat tema yang tak berhubungan dengan sakit maag ini ? Ya agar kalian tak menjadi bosan aja dengan blog ini. Tiap hari yang ditemui hanya artikel-artikel soal maag melulu. Emangnya tak ada cerita lain ?

Dulu, 2 dasa warsa yang lalu, saya melayani orang-orang sakit yang pada datang kerumah. Mereka datang meminta tolong, untuk penyakit mereka saya obati. Saya bukan praktisi kesehatan. Bukan bu bidan. Bukan orang pintar. Dan sekalipun tak pernah mengikuti pelatihan kesehatan apapun dan dimanapun.

Saya hanya senang membaca apapun yang berhubungan dengan kesehatan. Sejak masih SMP sudah sangat tertarik dengan Ilmu Hayat, tentang penyakit dan anatomi tubuh manusia. Nilai ilmu Hayat saya sering mendapat terbaik di kelas, waktu di SMP ha ha…10 min.

Sampai tuapun saya tetap menyukai tentang rahasia tubuh manusia dan rahasia kehidupan yang melingkupinya. Apapun yang menjadi minat saya, saya akan terus menggelutinya hingga saya menguasainya. Itulah kebiasaan saya. Hingga saya tua kini.

Hingga suatu hari saya bertemu dengan orang gaib yang mengamanahi saya agar mulai hari itu, saya mau ataupun tidak, siap ataupun tidak, harus mulai menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Kalau uang jelas tak mungkin karena saya bukan orang kaya, bahkan saya termasuk kelas masyarakat tak mampu. Baru tahu ya ? He he tapi saya bukan type yang minta dibelaskasihani kok. Kecuali belas kasihan dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Orang-orang yang datang meminta pertolongan sakitnya kepada saya, bukan hanya dari kalangan orang-orang kecil seperti level saya, namun sampai yang berpangkat jenderal dan orang-orang level ataspun ada yang meminta pertolongan kepada saya. Hanya bedanya, bagi masyarakat kelas menengah kebawah mereka yang mendatangi saya, namun dari kelas atas biasanya mereka menjemput saya dengan fasilitas yang diberikannya kepada saya , untuk bisa sampai ke rumahnya di bilangan rumah elite di Jakarta.
Saya tak punya bekal apa-apa untuk membantu mengobati sakit mereka yang datang kerumah saya, ataupun mereka yang harus saya datangi kerumahnya. Bekal saya hanya “Bismillah” saja dengan 1000 keyakinan, bahwa Asma Allah sungguh Maha Besar dan “lebih besar" dari segala sakit penyakit yang mereka derita ataupun berjuta masalah yang menjadi persoalan mereka.

Dan waktu itu, media yang saya pakai untuk mengobati mereka adalah “Jamu Rebus” ramuan saya sendiri. Dari jamu masuk angin hingga jamu untuk kanker saya ramu sendiri. Harganya relatif sangat murah. Untuk ukuran saat ini, bila untuk kanker, perbungkus sekali rebus hanya Rp.100.000,- dan biasanya saya mengemas dalam 1 paket 10 bungkus, untuk minum selama satu bulan, Alhamdulillah rata-rata hanya habis 1 paket, kanker mereka sudah sembuh total, jika di cek ke laboratorium sudah tak tersisa 1 cel kankerpun. Saya sendiri TAKJUB kepada kemurahan Allah yang ada didalam jamu ramuan saya. Yang hebat bukan jamu saya, tapi berkah Allah yang ada dalam jamu yang saya ramu.

Sayang, sejak Pasar Purworejo terbakar habis, saya teramat sulit mendapatkan bahan ramuan untuk jamu saya, sehingga sekarang saya tak meramu jamu lagi. Kecuali itu fisik saya, setelah sembuh dari sakit maag ini, sudah tak mampu lagi meramu jamu. Karena untuk meramu jamu memerlukan stamina fisik yang tinggi, he he takut kambuh lagi maagnya, masih trauma teman !

Nah suatu hari ada seorang bapak dari pelosok desa ditepi pantai selatan Purworejo, usia seputar 45 tahun, datang kerumah. Kedatangannya bersama anak gadisnya yang perutnya katanya sakit sekali terus menerus setiap hari. Katanya sakitnya sudah berbulan-bulan, dan telah berobat kerumah sakit dan kemana-mana, namun belum sembuh juga. Kian hari katanya makin bertambah sakit.

Anak gadis itu badannya kurus kering, mukanya sangat pucat, dan kelihatan kalau menahan sakit. Orang-orang yang antri diluar ruangan praktek, terdengar mempersilahkan bapak beranak itu untuk langsung saja periksa duluan tak usah antri. Rupanya para pasien yang antri rela melepaskan hak mereka untuk diperiksa lebih dulu, melihat anak gadis itu kesakitan yang sangat.

Sayapun menyapa bapak beranak itu dengan ramah seperti kepada yang lain. Tanpa membeda-bedakan. Anak gadis itu kelihatan sekali menahan sakit. Ia saya suruh berbaring di dipan tempat pemeriksaan pasien. Suhunya saya pegang dahinya agak hangat. Namun kaki dan tangannya dingin berkeringat, tanda bahwa ia menahan sakit, dan dalam tubuhnya sedang terjadi mekanisme metabolisme tubuh yang tidak stabil. Belum ditanya mana yang sakit, anak gadis itu sudah membuka baju blousenya, dan memperlihatkan bagian perutnya yang sakit.
Astaghfirullahaladzim…saya tak tega melihat perutnya. Terdapat benjolan sebesar telor angsa yang sangat keras ketika saya pegang, dan berwarna ungu tua kusam. Bapaknya menahan nafas ketika anak gadisnya saya periksa. Meski saya bisa memastikan bahwa itu adalah kanker perut, namun saya berusaha menyembunyikan kegelisahan hati saya dari mereka. Didepan pasien saya harus bersikap tenang.

Setelah saya periksa, anak gadis itu saya persilahkan untuk keluar dari ruangan periksa, sementara bapaknya saya minta untuk tinggal sejenak diruang periksa untuk mendengarkan penjelasan saya.

Saya tidak katakan terus terang kepada bapak tersebut bahwa anaknya menderita kanker perut, bapak tersebut, begitu melihat anaknya sudah keluar dari ruangan langsung berdiri dari kursinya dan bertanya kepada saya “Bu anak saya kanker ya Bu, iya ya Bu ?”

Saya terperangah bingung. Jujur apa tidak yah ? Lalu saya tanyakan kepada Bapak itu :”Menurut Bapak sendiri bagaimana Pak ?”. Bapak itu menjawab :”Kanker Bu, kata beberapa dokter yang pernah memeriksa dan hasil pemeriksaan laborat memang kanker”

Saya balik bertanya :”Loh Bapak sudah tahu kalau sakit putri Bapak adalah kanker kenapa Bapak masih bertanya kepada saya ?” Tanya saya kemudian kepada Bapak itu.

“Iya Bu untuk memastikan, bahwa mungkin bukan kanker Bu” katanya. Sedih rasanya merasakan kesedihan Bapak itu.

Akhirnya saya katakan :”Pak, apapun sakit putri Bapak, itu tak penting. Yang penting nanti saya obati dengan jamu saya, kita berdoa bersama-sama mudah-mudahan sakit putri Bapak akan sembuh, bukan begitu Pak?”

“Iya Bu, tapi bisa sembuh ya Bu ? Anak saya bisa sembuh kan Bu” tanyanya masih sangsi. “Insya Allah Pak, jangan kuatir, asal Bapak yakin kepada Kebesaran Allah, insya Allah, separah apapun sakit putri Bapak, akan sembuh”.

Saya kembali ingat akan kebesaran Allah. Dengan yakin saya mohon RidhoNya untuk kesembuhan anak gadis itu melalui jamu yang saya ramu.

Saya memberikan hanya 2 bungkus jamu, kebetulan hari itu jamu untuk kanker yang paketan sedang habis, Alhamdulillah masih tersisa 2 bungkus.

“Pak mohon maaf, ini harusnya jamunya 1 paket terdiri 10 bungkus, namun ini yang paketan sedang habis, dan ini ada sisa 2 bungkus bisa dibawa pulang dulu, nanti 6 hari saya tunggu Bapak datang kesini lagi, tidak usah dengan putri Bapak tak apa-apa. Ya Pak?” Kata saya kepada Bapak itu, sambil memberikan jamu kanker untuk putrinya.

“Aturan minumnya sudah ada didalamnya pak”. Ketika menerima jamu lalu Bapak itu membaca label aturan minum yang ada didalam bungkus jamu. Yang tulisannya kelihatan dari luar karena jamunya saya  kemas dalam bungkus plastik transparan.

Singkat kata, Bapak dan anak gadisnya pamit pulang, dan saya melanjutkan menangani pasien-pasien yang antri lainnya.

Suatu hari yang lain, selang 1 minggu dari kedatangan Bapak dan anak gadisnya itu, datang seorang ibu setengah baya, yang datang dengan keluhan kanker payudara. Singkat kata setelah saya periksa, baik secara fisik memeriksa payudaranya, maupun dari aura yang keluar dari payudaranya, memang tanda-tandanya positip kanker payudara. Tapi ibu itu kelihatan tabah.

“Bu saya memang kanker payudara, tapi sudah berobat ke Rumah Sakit harus operasi Bu, saya takut Bu. Dan sudah saya obatkan kemana-mana, tapi belum sembuh. Kalau malam saya tak bisa tidur Bu, sakit sekali.” keluh Ibu tadi.

Saya sangat iba, sekaligus salut pada ketabahannya. “Lha ibu kok tahu datang kesini dari siapa?” Tanya saya. “Itu lho Bu, ada tetangga saya yang anak gadisnya kanker perut, katanya seminggu yang lalu berobat ke Ibu diantar sama Bapaknya, alhamdulillah dia sudah sembuh Bu, terus saya dikasih tahu suruh berobat kesini, mudah-mudahan sembuh seperti tetangga saya ya Bu ?” ungkapnya penuh pengharapan kepada saya.

“Insya Allah ya Bu, yang yakin saja kepada Kemurahan Allah, ibu akan sembuh”, sambil saya memberikan 1 paket jamu kanker kepadanya.

“Ini diminum sesuai aturan yang ada didalamnya ya Bu, dan taati pantangan yang juga sudah tertulis didalamnya. Hindari daging-dagingan, bakso, mi instan, makanan kaleng, dan segala bumbu masak.” Kata saya. “Insya Allah Bu, saya akan jalankan dengan baik” Jawab ibu itu.

“Oh ya Bu, tolong sampaikan pesan saya kepada Bapak tetangga ibu, agar mengambil sisa kekurangan jamunya agar putrinya tidak kambuh lagi, kemarin saya memberikan jamunya masih kurang” Saya berpesan kepada Ibu yang menderita kanker payudara itu. Dan ibu itupun mengangguk-anggukkan kepalanya :”Insya Allah Bu akan saya sampaikan nanti”.

Tiga tahun kemudian sesudah itu (kalau tak salah)…

Tiba-tiba ingatan saya melayang kepada ibu yang menderita kanker payudara itu. “Ibu itu bagaimana ya kabarnya ? Sudah sembuh atau belum ya ?” Tiba-tiba saya rindu sekli kepada ibu tersebut. Saya memang suka seperti itu. Kangen kepada para pasien. Siapapun itu. Karena bagi saya semua pasien adalah sudah terasa seperti saudara saya sendiri.

Sayang...kepada para pasien, saya tak pernah meminta alamat lengkapnya. Selalu didalam buku tamu hanya menuliskan nama kotanya saja.

Saya masih ingat. Desanya Nggesing. Desa paling selatan di kabupaten Purworejo, di pesisir pantai selatan. Namanyapun lupa ibu siapa. Saya ingin sekali kesana. Demikianlah saya, kalau sudah mempunyai keinginan, terutama jika ingin pergi ke suatu tempat, atau kangen dengan seseorang terbayang terus. Bayangan baru hilang, ketika bisa bertemu dengan orangnya.

Tapi waktu itu, saya tak mungkin pergi menemui rumah ibu yang kanker payudara itu. Waktu itu saya sedang hamil 6 bulan, putriku satu-satunya. Sedangkan saya pernah keguguran 8 kali. Bisa dibayangkan betapa ketika saya mengandungnya, bagaikan memelihara permata mustika, saking takutnya keguguran lagi. Hati-hati sekali segalanya, bersikap, berpikir dan melakukan apapun super hati-hati.

Jadi saya hanya bisa membayangkan wajah ibu tersebut setiap kali. Aneh sekali, bayangan ibu itu tak bisa saya singkirkan dari ingatan saya.

Suatu siang, saya kaget setengah mati ketika diluar pintu terdengar suara salam, seperti suara ibu yang sedang saya harap-harap. Dan betapa kagetnya, ketika saya buka pintu, ternyata yang ada didepan pintu adalah benar-benar ibu kanker yang sedang saya pikirkan.

Air mata saya meleleh tak mampu saya tahan. Ibu itu saya peluk sejadi-jadinya, betapa bersyukurnya saya kepada Allah yang telah mengirim ibu itu datang kerumah saya. Saya hanya ingin mengetahui kabarnya, bagaimana perkembangannya setelah minum jamu dari saya, sembuhkah, atau bagaimana.

Ibu itupun ikut menangis sejadi-jadinya. Kami menangis berpelukan erat. Tapi saya tak tahu apa yang ditangiskannya. Apakah karena terharu melihat saya menangis memeluk erat dirinya ?

Tanpa menunggu lama, sebelum kami sempat berbincang, segera saya buatkan ibu tersebut teh hangat encer yang tak begitu manis, dan hidangan ala kadarnya. Wajahnya kelihatan hitam seperti baru saja terpanggang matahari ! Kelelahan !

Sebelum sempat saya tanya kabarnya, ibu itu segera menceritakan bahwa anak gadis tetangganya telah sembuh kanker perutnya hanya dengan 2 jamu yang saya berikan. Dan sampai sekarang tak pernah kambuh lagi.

Demikian pula dengan dirinya, ibu itu bersyukur sekali hanya dengan beberapa bungkus jamu yang saya berikan dulu, juga sembuh dan tak pernah kambuh lagi. Ia mengatakan bahwa hanya minum 3 bungkus, dan sisa selebihnya ia berikan pada saudaranya yang juga menderita keluhan yang sama, tapi bukan kanker payudara, melainkan kanker rahim, katanya juga sembuh sampai sekarang.

Saya mendengarkan cerita ibu itu dengan takjub ! takjub kepada Kebesaran dan Kemurahan Allah yang tak henti-hentinya. Ya Allah Ya Rasulullah SAW.

“Alhamdulillah…saya bisa bertemu lagi dengan ibu Ninieeeek…, Alhamdulillah…” katanya berulang-ulang sambil mengusap air matanya yang selalu meleleh setiap mengucapkan kata itu.

Ibu itu lalu mulai bercerita, bahwa sejak minum jamu dari saya sembuh dan tak pernah kambuh lagi. Namun 2 hari yang lalu, ia diminta membantu memasak ditempat orang hajatan.

Karena rumahnya jauh, ia makan apa saja masakan yang ada ditempat tetangganya yang hajatan tersebut. Masakan yang selama ini dihindarinya seperti nasehat saya. Mie instan, daging-dagingan, bumbu masak, bakso dan minyak-minyakan tak pernah disentuhnya.

Ketika itu ia padahal hanya makan dengan sayur ongseng kubis tempe dengan lauknya bergedel kentang yang semuanya dimasak dengan bumbu masak. Ia berharap dengan makan melanggar sedikit pantangannya tak akan berakibat apa-apa pada sakit kankernya.

Ternyata Allah berkehendak lain, benar, malam harinya pada payudaranya timbul reaksi kembali sakit, senut-senut tak hilang-hilang. Saking takutnya ia berniat untuk berobat lagi kepada saya. Maka iapun pagi pagi buta sudah berangkat dari rumahnya untuk mencari rumah saya, ke alamat saya dimana dulu ia berobat.

Ternyata Ya Allah, selama 3 tahun itu saya sudah tiga kali pindah-pindah rumah kontrakan. Karena kontrakan selalu naik setiap tahunnya, saya tak kuat membayar, sehingga saya mencari kontrakan bulanan saja yang bisa terjangkau oleh keuangan saya.

Sehingga ibu itu terus mencari saya, dari kontrakan yang satu kepada kontrakan saya yang lain setelah bertanya kesana kemari kepada orang yang dijumpainya.

Nah inilah yang paling mengharukan.

Kontrakan saya yang terakhir ini berada di pertengahan jalan antara kota Kutoarjo ( sebuah kota kecamatan yang terus berkembang ) dengan ibu kota kabupaten Purworejo, yang berjarak 12 km.

Ternyata sudah turun naik kendaraan angkot tak juga bisa diketemukan rumah kontrakan saya, maklum saya disitu pindahan baru, jadi belum banyak yang kenal.

Akhirnya setelah hampir putus asa mencarinya, ibu itu mencari dengan berjalan kaki dari kilometer pertama jalan Kutoarjo – Purworejo dengan tekad baja. Ia tak akan pulang kerumahnya sebelum ketemu dengan Bu Niniek !

Ibu itu berjalan dari rumah kerumah bertanya tentang rumah bu Niniek. Orang hanya menunjukkan ancer-ancernya dan tak ada yang tahu persis dimana rumah bu Niniek.

Sudah lebih dari 17 km ditempuhnya perjalanan belum juga ketemu rumah bu Niniek. Lalu dengan tekad baja, ia mencarinya kembali balik kanan dari Purworejo menyusuri jalan yang tadi dilewatinya kearah kota Kutoarjo, akan tetapi melewati jalan sebelah sisinya, mencari deretan rumah yang berada berhadap-hadapan dengan deretan rumah yang tadi sudah disisirnya.
 
Alhamdulillah…setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, berjalan kaki tak kurang dari 24 kilometer, terpanggang sinar matahari tanpa payung, didasari dengan kemauan yang keras, tekad baja dengan doa yang sungguh-sungguh kepada Allah Yang Maha Mengatur kehidupan, bertemulah ibu itu dengan rumah saya ! Padahal dari rumahnya hingga mencapai tempat pangkalan angkot yang ditumpangi ke kota Purworejo, ibu itu harus berjalan kaki sangat jauh, entah berapa kilometer saja yang telah ditempuhnya.

Pantas saja waktu datang ketika itu mukanya seperti gosong, kuyu dan sangat kelelahan. Ternyata ibu dari desa yang sangat jauh itu, telah menempuh perjalanan hingga puluhan kilometer hanya untuk mencari saya. Subhanallah...

Subhanallah…Allah Hu Akbar…keajaiban telah terjadi. Allah telah mempertemukan 2 makhluk yang saling merindukan dengan kepentingan yang berbeda. Saya yang ingin tahu kabarnya Ibu itu, dan Ibu itu yang ingin mencari saya, mencari jamu yang dulu menjadi lantaran kesembuhan sakit kankernya.

Saya merindukan mendengar kabarnya ibu itu, dengan segala asbabnya Allah tetapkan ibu itu untuk mencari saya. Allah beri kemudahan kepada saya, saya tak perlu mencari ke rumah ibu itu, namun ibu itu telah Allah hadirkan kerumah saya.

Dan meskipun harus menempuh jarak yang tak kurang dari 24 km, Allah kuatkan tekad ibu itu untuk tetap terus mencari saya sampai ketemu. Itulah cara Allah bekerja, selalu MENAKJUBKAN bagi orang yang beriman kepadaNya. Oleh karena itu, kalian yang sakit dan belum sembuh-sembuh juga, tetap teruslah beriman kepada Allah.
 
Karena kalau Allah sudah berkehendak apapun bisa terjadi dalam sekejab ! dan dengan penuh keajaiban !

Dan saat ini, jika kalian sedang sakit dan belum sembuh-sembuh, janganlah meratapi penderitaan kalian, namun tetaplah berikhtiyar dengan penuh iman.

Lalu, jika saat ini kalian sedang dikaruniai dengan kesehatan yang baik, syukurilah nikmat sehat kalian, manfaatkan nikmat sehat kalian untuk melakukan apapun dengan niat ibadah, sehingga kebaikannya untuk kebahagian kalian di dunia maupun akherat.

Lakukan kebaikan untuk dunia dan untuk akherat kita. Karena akherat tempat sebaik-baik dan sekekal-kekal kita kembali. Semoga artikel ini menambah keberkahan bagi kita sekalian. Amin Ya Rabbal’Alamiin.

Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Salam Penulis,
NiniekSS

 


 

Back To Top