MENGAPA SAYA TAK MERACIK JAMU LAGI ?

MENGAPA SAYA TAK MERACIK JAMU LAGI ?

Bismillahirrahmanirrahiim…

Salam Sejahtera Bagi Seluruh Alam,

Puji dan syukur hanya kepada Allah Pemilik Seluruh Nikmat. Shalawat dan salam yang setulus-tulusnya semoga senantiasa tercurah atas Nabi Agung Muhammad Rasulullah SAW, bagi keluarga dan sahabatnya yang mulia serta para pengikut Beliau yang setia sampai akhir jaman. Aamiin.

Sahabat Pembaca Blog Yang Setia…

Biasanya sebelum memesan morinda, teman-teman sakit maag yang menghubungi saya, lebih dahulu saya tanya riwayat sakitnya, dan keluhan yang saat ini sedang berlangsung. Agar saya bisa menganalisa sakit yang sedang dideritanya, berapa botol morinda yang dibutuhkan, serta dosis paling tepat untuk dikonsumsi.

Jangan khawatir, meskipun saya bukanlah seorang dokter, sebelum kena sakit maag selama 18 tahun, saya sudah terbiasa menangani pasien dengan berbagai kasus penyakit, dari masuk angin hingga ke kanker, dengan jamu rebus yang saya racik sendiri.

Dan Alhamdulillah penanganan saya selama itu tak ada yang bermasalah, bahkan dengan racikan yang teramat sederhana Allah ijinkan semuanya sembuh. Saya tak pernah pasang reklame. Dan didepan rumah orang tua saya almarhum, dimana saya menerima para pasien untuk berobat, sayapun tak pernah memasang papan nama. Karena saya merasa tak mempunyai keahlian apa-apa.

Jika saya terpaksa mau mengobati mereka. Satu-satunya alasan karena saya tak tega dan tak mampu menolak kedatangan mereka yang kebanyakan datang dari jauh-jauh. Mereka sudah meluangkan segalanya untuk repot-repot datang mencari saya, dan mengharap saya mau menolong mereka, apakah saya tega untuk menolak mereka dan tidak menolongnya ?

Awalnya saya juga tak meramu jamu sendiri. Hanya dengan intuisi serta bimbingan orang gaib yang menemui saya di Lumajang dulu, yang mengatakan akrab dengan seluruh penghuni lautan itulah, saya akhirnya mengetahui ramuan jamu dari mulai masuk angin hingga ramuan untuk sakit kanker. 

Awalnya pula, setiap ada orang sakit, saya beri resepnya, dan mereka akan mencari sendiri bahan jamunya di pasar dan merebusnya. Alhasil, banyak diantara mereka yang sembuh dengan ramuan yang saya berikan. Tetapi banyak diantara mereka yang kesulitan mencari bahannya di pasar.

Lalu mereka usul, bagaimana kalau saya saja yang mencari bahan jamunya dan sekaligus meramukannya ? Mereka mau mengganti berapa saja biaya jamunya. Dari banyaknya usulan mereka, akhirnya saya berpikir, apa salahnya saya menolong mereka yang sangat membutuhkan itu.

Ternyata benar apa yang mereka katakan. Bahwa bahan jamu yang saya butuhkan tidak semuanya tersedia di pasar tempat menjual bahan-bahan jamu. Karena bahan jamu itu harus ada, maka saya berusaha mencarinya ditempat lain. Bahan jamu yang tak ada dipasar itu terkadang saya peroleh di pekarangan-pekarangan rumah orang, terkadang dipinggiran-pinggiran sungai, dan seringkali harus saya cari benar-benar didaerah pegunungan yang berbukit-bukit.

Waktu itu saya masih muda, usia sekitar 39 tahun. Sejak muda memang sudah suka naik gunung, sehingga untuk naik turun tebing yang agak terjal sudah biasa, artinya tidak takut.

Yang paling menjadi kendala adalah jika harus mencari kayu angin. Kayu angin ini tumbuhnya menempel pada ranting kayu-kayu besar di hutan. Nah ya tak mungkin to saya harus memanjat sendiri kayu besar itu untuk mengambil kayu angin itu ?

Akhirnya kami harus menghubungi seseorang yang sudah biasa memanjat kayu-kayu besar dihutan untuk mengambil sarang lebah. Bapak-bapak ini dengan lincahnya tanpa waktu yang lama sudah mendapatkan segepok kayu angin yang tumbuhnya merumpun seperti benalu yang menempel pada ranting-ranting pohon.

Cara memperoleh bahan jamu yang sulit seperti inilah yang menyebabkan bahan jamu demikian mahalnya. Bahkan ada yang satu ons harganya sekarang mencapai jutaan rupiah. Jika bisa mencarinya sendiri di hutan seperti kayu angin itu, masih mendinglah, harga jamu lalu bisa ditekan. Tapi kalau bahannya semua membeli di pasar, maka harga ramuan jamupun akan jadi melambung.

Jamu yang saya racik, termasuk mahal dipasaran. Karena kebanyakan dari tiap-tiap ramuan ada bahan-bahan jamu tak dijual di pasar, sehingga saya harus mencarinya sendiri di hutan. Bahan-bahan jamu yang tak ada dipasar inilah, kunci dari kemujaraban jamu yang saya racik. Sedangkan jamu yang dijual di pasar kebanyakan jamu umum, bukan jamu special seperti yang saya racik.

Saya pernah saking penasarannya pada jamu yang dijual di pasar, saya borong semua jamu yang ada di pasar. Dari jamu untuk masuk angin hingga jamu untuk kanker saya beli semuanya satu-satu. Dan sampai rumah saya buka satu persatu, lalu saya catat apa saja isinya.

Misal jamu untuk masuk angin isinya : temu lawak, temu ireng, kunyit, sambiloto, remujung, ceplikan, cengkih, kapulogo, adas, pulosari, jahe, dll. Semua jamu saya catat isinya apa saja. Betapa bingungnya saya. Ternyata semua jamu isinya sama saja. Looh ? Antara jamu masuk angin dengan jamu darah tinggi, dan jamu untuk darah rendah dan lain-lain kok isinya sama saja.

Piye ini ? Itulah jamu yang dijual di pasar-pasar.

Pantas saja, jarang yang sembuh minum jamu pasar, karena komposisinya yang sembarangan. Jamu untuk darah tinggi isinya sama dengan jamu untuk darah rendah. Maaf jika ada diantara kalian yang membaca blogku ini adalah suka meracik jamu sendiri yang dijual di pasar, mohon hal ini sebagai koreksi. Jangan asal menjual jamu, dan laku. Tapi kalian harus lebih mengutamakan keselamatan serta kebutuhan penderita. Yaa ?

Pantas saja para pasien yang datang ke saya dulu banyak yang komplain, bu jamunya kok tidak komplit kayak di pasar to ? Ha ha…saya menjawab. Lah…sampeyan mau cari yang komplit apa cari yang bisa sembuh ? Ya karena jamu di pasar 5 ribu atau 7.500 sudah dapat 1 bungkus besar dan isinya komplit sekali disana semua bahan ramuan ada he he sementara jamu saya hanya berisi bahan ramuan yang dibutuhkan saja. Dan karena sulitnya mencari bahan baku, maka walau isinya sedikit, maka harganya lebih tinggi daripada jamu yang dijual di pasar-pasar.

Lah buat apa menyertakan bahan ramuan kalau itu hanya untuk komplit-komplitan biar kelihatan banyak ? tapi tak ada manfaatnya buat mengobati penyakit yang bersangkutan ?

Jamu saya dulu sampai dipesan untuk dibawa ke Perancis, Belanda dan Jepang. Bahkan kalau saya mau, akan diboyong di Belanda untuk meramu jamu disana, nanti bahannya pesen dari Indonesia ?

Ya saya jelas gak mau. Mending ngurusi bongso sendiri yang sakit meskipun uangnya sedikit, daripada ngurusi bongso sebrang walau uangnya banyak. Meskipun saya membutuhkan duit, tapi saya tidak mata duitan. Karena seringkali kalau ada pasien yang tak mampu, saya suruh bawa saja jamunya tak usah membayar, bahkan sering mereka saya beri uang untuk transport pulang. Kasihan.

Dalam perkembangannya, selepas pasca operasi caessar kelahiran anak saya, sejak itulah saya mulai terkena sakit maag kronis hingga anak saya SMA. Sepanjang hari sepanjang waktu menderita kesakitan berganti-ganti. Dan sejak putri saya lahir itulah saya tak lagi menerima pasien dan tak lagi bisa meramu jamu lagi.

Dulu saya menerima pasien dalam satu hari antara 40 hingga 50 pasien. Sehingga hampir tak ada waktu istirahat sama sekali dari mulai bangun tidur subuh hingga jam 12 malam. Setiap menjelang tidur, badan seperti remuk redam rasanya. Pagi jam 6 sudah diantri orang. Padahal saya buka prakteknya jam 8 pagi dan tutup jam 4 sore. Namun kenyataannya sering tutup praktek jam 8 malam karena menyelesaikan orang yang datang terakhir.

Sesudah itu, langsung dilanjut meramu jamu untuk esoknya hingga jam 12 malam. Karena jamu untuk hari itu selalu habis, bahkan sering kurang.

Lalu. Mengapa Saya Tak Meracik Jamu Lagi Dan Berganti dengan Morinda ? Karena banyak bahan yang tak tersedia di pasar. Sehingga saya harus mencari ke hutan atau gunung-gunung. Dan ini yang sekarang tak mungkin bisa saya lakukan karena usia saya sudah semakin tua, fisik sudah tak memungkinkan lagi untuk berpetualang mencari bahan jamu. 

Apalagi setelah sembuh dari sakit maag ini. Saya masih belum bisa bekerja yang memakan banyak energi. Karena untuk meramu jamu yang bagus memerlukan energi ekstra yang cukup besar. Angkat bahan yang berat-berat. Mencuci bahan ramuan berulangkali. Menjemurnya. Ketika menjemur harus dibolak balik tidak bisa sehari kering, karena saya hanya menggunakan sinar matahari yang tak lebih dari jam 10 siang atau jam 11 siang.

Lebih-lebih setelah pasar besar Purworejo terbakar habis, maka sekarang, bakul penjual bahan ramuan jamu, menjualnya bahan ramuan yang dijual tidak sekomplit dulu lagi. Jadi bertambah susah mencari sarananya.

Maka ketika kemudian saya sakit lama, dan Alhamdulillah Allah ijinkan sembuh permanen dengan air mentah dan morinda, siapapun yang sakit dan meminta tolong kepada saya, ya saya anjurkan minum air mentah dan morinda saja. Meskipun harga morinda relatif mahal untuk kocek masyarakat Indonesia seperti saya. Karena sementara ini belum ada alternatif yang lain.

Herbal yang lain bisa untuk mengobati maag kronis. Namun hasilnya tidak sebagus morinda. Kalau herbal lain kesembuhan hanya sangat sementara, namun morinda insya Allah bisa mengobati secara permanen. Karena morinda bekerja hingga ke tingkat sel.

Inilah alasan saya mengapa saya berlih ke pengobatan dengan morinda antara lain :

-    Lewat lantaran morinda maag kronis, gerd dan anxyetas, serta semua keluhan yang ada dalam tubuh saya, sembuh permanen, dan tak kambuh lagi meskipun lama tak minum lagi.

-    Morinda bisa untuk mengatasi segala keluhan atau penyakit, bukan hanya untuk maag dan gerd saja.

-    Morinda terbuat dari mengkudu, dimana menurut penyelidikan ahli mengkudu dunia (Dr.Neil Salomon), mengkudu yang kemudian popular dengan sebutan noni, adalah tanaman obat, yang mempunyai unsur pengobatan terlengkap didunia, diantara semua tumbuhan obat yang ada didunia.

-    Morinda bisa dipertanggungjawabkan secara klinik laboratorium. Artinya sebelum minum morinda dipersilahkan cek laboratorium dulu, lalu minum morinda, dan sesudah minum, silahkan cek ulang ke laboratorium lagi. Dan silahkan diperbandingkan hasilnya.

-    Morinda mempunyai banyak lisensi atau sertifikasi pengakuan dari seluruh dunia sebagai produk herbal berkualitas, terutama dari negara-negara yang sangat ketat dalam seleksi atas produk-produk kesehatan yang ada. Seperti Amerika, Jepang, Jerman, dan Norwegia.

-    Sudah ada 90 lebih negara didunia yang menggunakan morinda bukan saja sebagai produk pengobatan, namun sebagai minuman kesehatan sehari-hari bagi mereka.

-    Morinda sangat aman dikonsumsi oleh siapa saja, untuk segala usia, bahkan bayi baru lahirpun aman untuk morinda, juga untuk wanita yang sedang hamil atau menyusui, karena morinda 0 % kimia.

-    Jika minum morinda diminum selalu ada reaksinya, karena dalam tubuh kita ada sel yang tak sehat. Jika seseorang itu benar-benar selnya sehat, maka sekali minum 1 botolpun ia tak akan bereaksi apa-apa, hanya tubuhnya akan bertambah bugar karena full energi.

-    Yang saya paling senang dari morinda, ia bisa mendeteksi organ apa saja yang tak sehat dari tubuh seseorang. Yaitu, ketika diminum, mana yang terasa sakit, berarti ditempat itulah ada sel dari organ setempat yang tak beres atau bermasalah.

-    Morinda bisa dikirim kemana saja, sejauh di negara itu sudah ada kantor cabangnya.

-    Reaksi minum Morinda bisa disesuaikan dengan tingkat daya tahan tubuh seseorang dalam menahan reaksi morinda dengan jalan menaikkan dan menurunkan dosis morinda sesuai kekuatan orang tersebut.

-    Keluhan reaksi yang timbul dari minum morinda sangat mudah diantisipasi hanya dengan minum air putih yang hangat, dan menurunkan dosis minum.

-    Bahan pembuatan morinda dibuat dari mengkudu unggulan, yang hanya tumbuh di kepulauan Tahiti, pulau yang jauh dari pencemaran lingkungan karena dilingkari oleh laut yang sangat dalam, sehingga mengkudu yang dihasilkannyapun merupakan mengkudu berkualitas dan penuh dengan kandungan mineral alami.
Lalu mengapa minum morinda ada yang cepat sembuh dan ada yang lambat ?

Morinda, ketika diminum, ia akan membabat semua penyakit yang ada didalam tubuh hingga tuntas. Jika yang kita derita hanya penyakit maag kronis saja, maka dengan minum morinda, maag kita insya Allah akan cepat sembuh.

Namun jika sakit yang kita derita bukan hanya maag kronis saja, maka dengan minum morinda, maag kita tidak akan cepat sembuh. Karena morinda juga harus menangani penyakit lain yang ada didalam tubuh kita.

Saya sering dikomplain sama teman. Bu katanya hanya dengan 2 botol morinda maag saya sudah sembuh Bu ? Tapi ini sudah habis 2 botol namun belum ada tanda-tanda kesembuhan pada maag saya Bu. Uluhati saya masih sering terasa perih Bu.

Tapi kliyengan saya dan debar jantung saya yang selalu kencang sekarang sudah tak pernah saya rasakan lagi.

Nah itu dia. Ternyata morinda tidak hanya menangani maag kronisnya saja, namun juga menggarap kliyengan di kepala dan debar jantung di bagian jantung.

Karena kinerja morinda itu dari atas kebawah, maka ketika habis dua botol maagnya belum sembuh, sebab botol pertama dan kedua itu untuk menggarap bagian kepala dan jantung lebih dahulu hingga tuntas. Jadi jangan buru-buru complain kepada saya dulu ya teman? Harus ditelusur lebih dulu apa sebabnya ?

Ada lagi yang tak sembuh-sembuh minum morinda, dikarenakan seseorang itu 100 % mengandalkan kesembuhannya pada morinda. Mentang-mentang sudah konsumsi morinda ia makan apa saja dengan bebasnya, lalu komentarnya :”Bu saya minum morinda kok lambung dan badan saya malah tambah tak karuan rasanya?”. Ketika saya telusur, yaitu dia makan apa saja, karena sangat pedenya sudah konsumsi morinda.

Minum morinda juga baru berapa hari, emangnya minum morinda seperti sulapan, bisa ada gedabra diminum luka lambungnya langsung kering dan maagnya sembuh ? Ahaai…siapapun juga mau minum morinda jika bisa begitu !

Berobat dengan morindapun juga butuh proses waktu untuk sembuh. Apalagi jika selain lambung ada penyakit lain dalam tubuh kita. Maka meskipun sudah konsumsi morinda, jika belum sembuh ya tetap harus menjaga menu makannya. Makan nasi lembek ya tetap makan nasi lembek. Belum boleh makan gorengan karena kasar dan berminyak ya jangan diembat dulu gorengan itu. Apalagi makan sembarang buah, belum boleh atuuh !

Demikianlah, Mengapa Saya Tak Meracik Jamu Lagi Dan Berganti dengan Morinda ?

Padahal dulu, Alhamdulillah maag  kronis dan gerd banyak yang sembuh dengan jamu saya, hanya dengan beberapa bungkus saja, tak lebih dari 3 bungkus. Tapi ketika saya sakit sendiri tak mau minum jamu saya sendiri, karena rasanya agak pahit. Saya paling tak suka dengan rasa pahit he he..

Seandainya sekarang ini saya masih bisa meramu jamu sendiri, tentu tak akan saya tawarkan morinda yang harganya cukup aduhai itu. Doakan saya to, biar strong lagi seperti dulu, siapa tahu bisa meramu jamu lagi, dengan harga yang murah meriah, kita semua bisa terbebas dari maag kronis dan gerd kita. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kalian tentang morinda yaa ?

Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Salam Penulis,
Niniek SS

 


 

SIAPAKAH NINIEKSS


 

SIAPAKAH NINIEKSS


Bismillahirrahmanirrahiim…

Dari banyaknya orang sakit maag yang mencari info tentang Siapakah NiniekSS, dan dari banyaknya teman sakit maag yang konsultasi kepada saya yang penasaran dan menanyakan tentang proffesi saya, maka pada kesempatan ini saya ingin bagikan tentang diri saya apa adanya agar, anda tak penasaran lagi kepada saya. He he ada-ada saja !

“Ibu, mohon maaf sebelumnya, jika pertanyaan saya ini tidak sopan, saya mau tanya ibu, apakah proffesi Ibu Niniek ?” begitu salah satu pertanyaan dari sahabat sakit maag.

Lalu ada lagi yang bertanya :”Bunda, mohon maaf…apakah bunda seorang dokter?” pertanyaan yang senada saya dapatkan dari sahabat yang lain dalam telpon, seperti ini :”Ibu, mohon maaf, wawasan ibu tentang sakit maag sangat super deh, bahkan keterangan yang sangat detail tentang sakit maag serta GERD tidak pernah saya dapatkan dari dokter spesialis sekalipun dan tak pernah ada di internet, karena saya sudah blusukan di internet Ibu…” (Ya karuan saja Dokter tak punya waktu untuk menjelaskan secara detail tentang sakit maag kepada anda, bukan karena beliau tidak tahu he he, anda saja yang aneh !).

Yang lebih unik lagi, ada teman diseberang laut sana, lewat telpon meminta :”Ibu Niniek, dengan sangat dan hormat, kecuali saya ingin konsul kepada Ibu, saya ingin agar Ibu berkenan untuk menjadi dokter pribadi saya, mendampingi upaya kesembuhan saya, membimbing saya agar bisa sembuh normal seperti sebelumnya, saya ingin kita professional Ibu, Ibu memberikan ilmu serta jasa Ibu kepada saya, dan sudah selayaknya saya memberikan jasa kepada Ibu setiap saya konsultasi, saya mau membayar kepada Ibu berapa biaya konsultasi sesuai yang Ibu kehendaki, 100 ribu ? 200 ribu ? 300 ribu ? bahkan 500 ribupun saya akan bayar Ibu, asal saya bisa sembuh Buu…”

Astaghfirullahaladziim…Tuhan selamatkan hamba dari tawaran dunia !

Nah saya hanyalah ibu rumah tangga biasa dengan suami dan satu anak perempuan yang sedang kuliah awal. Mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari sendiri bersama suami, tanpa pembantu karena tak mampu menggajinya.

Sehari-hari hanya menulis, melayani konsultasi teman-teman penderita maag, ngepak paket, melayani tamu konsultasi sakit jika ada, dan dzikir demi kesempurnaan hidup. Saya hanya manusia biasa, bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Tak ada istimewanya sama sekali. Sampai kapanpun saya tak ingin menjadi siapa-siapa kecuali menjadi hamba yang diakui oleh Allah SWT, itu saja, tak lebih.

Jika suatu saat kelak saya bisa menjadi hamba yang diakui oleh Allah SWT, itu adalah puncak prestasi tertinggi bagi penulis.

Seorang hamba yang baik tentu seseorang yang taat dan setia kepada tuannya, berbakti dan taklid kepada majikannya. Apalagi ini hamba dari Tuan dan Majikan Yang Maha Agung, Yang Maha Menguasai Hidup dan Mati semua makhluk, yang menjadi Tuan Dunia dan Akherat seisinya ! Semestinya penulis dalam menghamba harus lebih !

Tapi saya belum dapat menjadi hambaNya yang baik sesuai dengan kehendakNya. Ah masih jauuuuuh...Saya masih sering menjadi hamba dari diri sendiri, masih sering menghamba pada ego dan keinginan-keinginan diri, masih sering menghamba pada pemikiran-pemikiran dan cita-cita diri, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Masih belum bisa memenggal otak dan memenangkan hati, apalagi memenangkan ruh dan jiwa. Ah masih jauuuuh…Dan sekarang sedang dalam perjalanan, mudah-mudahan sampai sebelum waktunya. Amiin.

Saya tak berpendidikan formal medis apalagi berproffesi seorang dokter ! Saya hanya lulusan SMA dengan nilai yang biasa-biasa saja he he, tapi untuk nilai agama dan melukis selalu terbagus di kelas. Narsis ni yee.
Pada waktu saya berusia sekitar 37an tahun (Saya tidak begitu ingat persisnya), saya bertemu dengan sosok gaib yang ciri-cirinya seperti yang dinisbatkan para alim ulama bagi beliau ialah sebagai Nabi khidir As.

Beliau mengatakan kepada saya bahwa saya diusia sebelum 39 tahun harus menolong banyak orang, bahkan hari itu juga sepulang dari pertemuan dengan beliau ke pondok, saya sudah harus menolong banyak orang. Saya masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sosok gaib yang dikemudian hari semakin meyakinkan saya bahwa beliau adalah memang yang dimuliakan oleh Allah Nabi Khidir As.

Saya bertemu dengan beliau dalam perjalanan saya dari Lumajang ke Jember yang memakan waktu kurang lebih 2 jam. Karena Lumajangnya bukan Lumajang kota, namun masih jauh masuk ke pelosok kearah utara Lumajang.

Dan setelah mengobrol panjang lebar, serta beliau memberikan wejangan yang menurut penulis merupakan wejangan yang sangat langka dan sangat berharga, maka tiba-tiba beliau mengatakan :”Mbak, sebelum usia 39 nanti sampeyan bakal didatangi banyak orang untuk meminta pertolongan” Kata beliau.
Dalam hati saya membatin, lah…minta tolong apa ? Sedang saya bukan dokter dan bukan paranormal.

Rupanya beliau mengetahui apa yang saya pikirkan. Lalu beliau berkata :”Tak usah menunggu hingga sebelum usia 39, nanti aja sampeyan pulang ke pondok, sampeyan sudah harus menolong banyak orang, lalukan saja sesuai dengan gerak hati sampeyan dalam menolong orang, bismillah…insya Allah akan Allah ijinkan sembuh”.

Benar saja sepulang dari Lumajang sampai ke Pondok (Saat peristiwa ini terjadi, saya mondok di Pesantren Putri Zaenab Shiddiq di Jember), ada 8 orang yang kerasukan setan ketika main handsball menjelang maghrib ( Baca pertemuan dengan Khidir yang Pertama, bagian 1 dan bagian 2 ). Dan dengan penuh ajaib, ke delapan anak pondok atas ijin Allah bisa saya usir setan-setan yang merasuki anak-anak pondok tersebut. Dan sejak itulah, hingga detik ini saya tak pernah berhenti menolong orang sakit.

Beberapa bulan sepulang dari pondok pesantren, saya sempat buka klinik pengobatan di rumah dengan jamu ramuan sendiri. Akhirnya pasien setiap harinya hingga 50 orang. Saya lupa makan, lupa minum. Inilah yang menjadi pemicu saya akhirnya terkena maag kronis. Kecuali itu saya suka sekali minum kopi cremer. Lengkaplah luka dilambung saya.

Kecuali itu sejak kecil, bagi saya, makan bukanlah merupakan hal yang penting. Artinya bila saatnya makan belum ada sesuatu (karena orang tua saya bukanlah orang yang mampu), tidak menjadi persoalan bagi saya. Sehingga sampai tuapun terbiasa, ada makanan ya Alhamdulillah, tidak ada makanan ya tetap bersabar dan tidak menjadi masalah.

Namun rupanya lambung saya yang tidak kuat. Apalagi sejak saya harus menolong orang sakit, saya melakukan ikhtiyar lahir dan batin ke Hadlirat Allah agar saya selalu diberikan keselamatan lahir dan batin, dunia dan akherat dalam menolong orang sakit.

Puasa dan melek malam sudah biasa saya lakukan sejak di pondok. Dzikir sepanjang malam tak henti-hentinya hanya untuk memohonkan agar pasien mendapatkan ampunan setiap dosanya yang menjadi hijab sehingga sakitnya tak sembuh-sembuh.

Kecuali itu saya juga mempelajari semua detail penyakit melalui buku pengobatan timur dan barat, Buku-buku literatur kedokteran modern, Buku-Buku Herbal Prof.DR.Hembing, Dr.Dalimartha, belajar tentang Manfaat Terapi Air Mentah dan makanan mentah dari ahlinya, Bapak Muhammad Subeno dari Majalengka, berguru langsung secara ruhani tentang metafisika dari Ahli Metafisika Dunia sosok yang mulia Ayahanda Guru Prof.DR.Kadirun Yahya (yang pernah meredamkan Gunung Galunggung ketika menyemburkan lumpur pasir yang tak bisa padam atas permintaan aparat pemerintahan setempat pada waktu itu). Namun pada tahun 2001 beliau sudah berlindung dalam naungan yang menenteramkan Allah SWT.

Sayapun belajar falsafah pengobatan Jawa dari para kesepuhan Jawa, bahwa jika manusia ingin sehat dan tenang jiwanya harus “nrimo ing pandum” (menerima takdir baik dan takdir buruk), wekel ing gawe (jangan malas, harus maksimal dalam ikhtiyar), dan semeleh (tawakkal kepada Allah).

Dan jika hidupnya ingin cukup, tidak mempunyai hutang harus “gemi, nastiti lan ngati-ati”. Gemi artinya hemat tapi tidak kikir, nastiti itu itu teliti, cermat, dan ngati-ati itu artinya bahwa orang hidup harus selalu waspada dan hati-hati dalam setiap hal. Tidak berpola hidup grusa-grusu (serampangan) dalam berpikir, bertindak dan berkata-kata.

Bahkan salah seorang Ulama Sufi pernah memberi wejangan yang sangat berharga kepada penulis, jika ingin mendapat RidhoNya Allah, orang harus bisa menjadikan dirinya seperti huruf Alif. Artinya tegak lurus. Lurus pikirannya, lurus hatinya, lurus ucapannya dan lurus tindakannya. Artinya keempat hal ini harus satu garis lurus.

Misal, pikirannya mengatakan ah aku tidak akan korupsi karena korupsi perbuatan yang sangat rendah, berdosa dan perbuatan dajjal karena menyengsarakan orang banyak. Lalu hatinya juga harus mengatakan benar, korupsi memang tak boleh aku lakukan, aku takut azab Allah, aku tak mau menyengsarakan anak cucuku karena perbuatanku, lalu ia mengatakan kepada stafnya dikantor (karena ia seorang atasan yang sangat berwenang menentukan keputusan):”Lakukan sesuai prosedur, data harus sesuai dengan fakta yang ada, jangan ada satu senpun yang kita manipulasi”.

Dan tindakanpun juga sama, tetap berpegang kepada prinsip awal bahwa ia tak mau melakukan korupsi, maka ketika ia mendapat marah atasannya mengapa data kok dibuat murni sesuai apa adanya, tidak menurut perintahnya, maka ia berani mengatakan kepada atasannya :”Maaf pak, saya tidak berani melakukannya, saya benar-benar takut akan azab Allah pak”. Meskipun beberapa waktu kemudian ia lalu digeser jabatannya kepada level yang lebih rendah, ia tetap mengucapkan syukur Alhamdulillah karena telah bisa menjadikan dirinya seperti huruf Alif.

Demikianlah saya mendapat wejangan dari Sang Sufi Agung.

Lalu dalam kaitannya saya membuat blog ini, saya semata hanya ingin membagikan pengalaman kesembuhan saya dari sakit maag yang saya derita lebih dari 18 tahun, agar teman-teman yang menderita sakit maag diseluruh Indonesia bisa mengetahuinya.
Saya bisa saja membuka klinik lagi dirumah khusus untuk pengobatan sakit maag, namun saya tak ingin mengecewakan para pasien, karena saya yang sekarang bukan penulis yang dulu.

Kalau saya yang dulu bisa seharian full dari jam 6 pagi hingga jam 8 malam melayani pasien tanpa henti, karena waktu itu saya masih muda dan energik, tapi sekarang sudah tak seperti dulu lagi setelah sembuh dari sakit maag yang begitu lama ini.

Saya yang sekarang, meskipun sudah benar-benar sembuh dari maagnya, namun fisik telah mengalami penurunan tajam. Usia sudah 59 tahun, fisik sudah sering kurang fit, maunya terus minum morinda, namun kondisi keuangan belum Allah ijinkan untuk bisa terus mengkonsumsinya. Meskipun demikian saya tetap bersyukur dan bersabar.

Kehidupan saya sangatlah sederhana. Rumah belum punya, Alhamdulillah kakak ipar sangat baik hati, salah satu rumah miliknya boleh kami tempati bersama keluarga, hingga sak bosennya. Namun begitu hingga gentingnya ambrol ketanah sampai sekarang belum bisa memperbaiki.

Karena kalau diperbaiki harus mengganti atap seluruh rumah yang memerlukan biaya yang tak sedikit. Tentu membutuhkan biaya puluhan juta rupiah. Rumah yang saya tempati sudah tua, memang sudah saatnya direnovasi. Saya yakin, jika saatnya Allah ijinkan untuk bisa merenovasi, tetap bisa, entah darimana jalannya.

Kendaraan hanya ada satu sepeda butut, itupun Alhamdulillah bisa mengantar suami membeli segala keperluan kami. Sepeda butut ini sangat berjasa bagi kami sekeluarga, karena telah mengantar putri kami sekolah di SD 6 tahun, dan SMP 3 tahun dengan jarak tempuh pp 14 km dengan selamat dan lancar tanpa halangan suatu apa. Alhamdulillahirobbil’alamiin. Allah Maha Murah dan Maha Kasih Sayang kepada kami sekeluarga.

Satu-satunya harta yang sangat berharga adalah sebuah komputer tua, yang alhamdulillah bisa menjadi sarana saya bersilaturahmi kepada anda sekalian lewat tulisan-tulisan ini, membagikan seluruh pengetahuan saya utamanya tentang seluk beluk sakit maag dan tips-tips kesembuhannya, yang semoga saja bisa anda petik manfaatnya sekecil apapun.

Demikianlah Siapakah Niniek SS, agar anda tidak penasaran lagi tentang diri saya.

Jika anda menyangka saya adalah seorang dokter, Alhamdulillah, namun itu tidaklah benar, yang benar adalah saya adalah orang yang sangat beruntung karena diberi sakit maag yang demikian lamanya oleh Allah, namun saya tidak menjadi putus asa, saya tetap berikhtiyar mencari kesembuhan dengan seluruh daya upaya, dengan berbagai doa dan dzikir, akhirnya Allah berikan kesembuhan, dan seluruh pengalaman saya bisa saya bagikan kepada anda semua disini, di blog ini.

Saya mempunyai minat besar pada pengobatan sakit maag, oleh karena itu, meskipun saya bukanlah seorang dokter, saya sungguh-sungguh mempelajari setiap ilmu dari pendekatan apapun untuk kesembuhan sakit maag dan gerd. Dan hasilnya telah saya buktikan dengan banyaknya teman sakit maag yang menghubungi saya secara Online dan alhamdulillah telah Allah ijinkan sembuh.

Ada yang sembuh hanya dengan melaksanakan saran agar merubah pola hidup dan pola pikir, ada yang sehat dengan melaksanakan terapi air mentah, ada yang sembuh dengan herbal morinda, dan dengan berbagai pola yang saya terapkan bagi kesembuhan para teman. Yang satu sama lainnya adalah tidak sama.

Dan cepat lamanya kesembuhan merupakan rahasia keunikan Allah yang tak dapat dipelajari oleh ilmu apapun, namun harusnya yang bersangkutan sendirilah yang memakluminya bukan orang lain.

Selama saya membantu upaya kesembuhan teman-teman, banyak keanehan dan keajaiban terjadi, yang sulit untuk diceritakan disini.

Ada yang minum morinda baru 1 sendok kecil setiap harinya benar-benar sudah banyak perubahan yang terjadi, namun ada juga yang minum sudah berbotol-botol namun baru terjadi sedikit perubahan.

Apakah morindanya yang tidak mustajab, ataukah saya yang tidak tepat dalam memberikan dosis ? Tidak bukan ? Karena FAKTOR KESEMBUHAN mutlak hanyalah MILIK ALLAH ! bukan milik morinda atau penulis sebagai pembimbing kesembuhan.

Inilah yang harus kita sadari bersama. Kalau sudah berbicara masalah HAK ALLAH, maka kita semua tidaklah bisa apa-apa. Oleh karena itu berkali-kali saya menyampaikan betapa pentingnya kita merapat, mendekat pada Haribaan Allah Ta'ala agar kita mendapat pencerahan dan keberkahan.

Kita sudah sering membaca Firman Allah SWT, berulang-ulang bahwa Al Qur'an adalah obat. Namun kita tidak meyakininya. kita lebih senang membaca koran, nonton TV, sms-an yang kurang manfaat, atau bahkan ngerumpi makan teman atau tetangga. Astaghfirullahaladziim naudzubillahimindzaliik. Bahkan mencari orang tua dalam berobat. Nanti orang tua yang kita datangi akan mengatakan bahwa sakit kita dibuat oleh si Anu dan Si Anu, untuk tolak balaknya kita harus mengeluarkan mahar sekian dan sekian yang semestinya bisa kita sedekahkan kepada yatim piatu atau fakir miskin malah lebih indah dan barokah.

Itulah kebanyakan kita, yang belum mendapatkan pencerahan, termasuk saya dulu. Namun itu adalah masa lalu, yang tak perlu kita ingat-ingat, setelah kita taubatan nasuha, yang perlu kita ingat adalah sisa umur kita kedepan jadikan usia yang penuh berkah dan manfaat bagi kita.

 Jika anda ingin segera sembuh, maka sangat penting anda untuk memiliki Buku Panduan Rahasia Sembuh Sakit Maag Kronis yang saya susun sendiri, sebagai buah pengalaman sakit maag saya yang begitu lama (lebih dari 18 tahun) hingga kesembuhan saya yang sangat AJAIB, dimana dalam Buku Panduan tersebut saya sertakan banyak sekali kiat-kiat dan tips-tips sembuh sakit maag kronis. Silahkan segera pesan. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

 

Purworejo, Edisi revisi, 7 September 2024

Salam Penulis,
Niniek SS 

 


 Foto saya terkini di usia 68 tahun


 

Back To Top