KAROMAH SEORANG KEKASIH ALLOH ( Bagian - 2)

KAROMAH SEORANG KEKASIH ALLAH ( Bagian - 2) 

Bismillahirrahmanirrahiim…

Salam Sejahtera Bagi Seluruh Alam,

Puji dan syukur hanya kepada Allah Pemilik Seluruh Nikmat. Shalawat dan salam yang setulus-tulusnya semoga senantiasa tercurah atas Nabi Agung Muhammad Rasulullah SAW, bagi keluarga dan sahabatnya yang mulia serta para pengikut Beliau yang setia sampai akhir jaman. Aamiin.

Pembaca Blog Yang Setia..

Bagaimana kabar kalian saat ini teman ? Semoga kalian selalu lebih sehat dari hari-hari sebelumnya yah ? Sakit maag memang harus ekstra sabar dan telaten di segala bidang, kalau ingin sembuh. Bukan hanya telaten minum obat dari dokter, atau telaten minum air parutan kunyit, namun juga harus menahan sabar semuanya.

Sabar menahan keinginan untuk makan sesuatu yang boleh dimakan. Sabar untuk menahan sesuatu yang boleh dilakukan, misal bepergian, naik sepeda motor, jalan-jalan, memberesi suatu pekerjaan.

Sebab kebanyakan kebiasaan orang sakit maag itu, jika sudah merasa enakan sedikit, sudah merasa sembuh sedikit sudah melupakan segalanya. Ingin makan ini, makan itu, mengerjakan ini, mengerjakan itu, pergi kesana, pergi kesini, sehingga banyak hal pantangan yang dilanggar yang semestinya belum boleh dilakukan.

Hal-hal inilah yang harus mendapat perhatian besar dari kita semua, karena jika belum sembuh benar, melanggar pantangan, maka bisa kambuh kembali, sehingga kesehatan mundur kembali dan tak sembuh-sembuh. Ingat-ingat benar hal ini ya teman. SABAR MENAHAN KEINGINAN !

Nah baiklah, sekarang kita lanjutkan tentang Kharomah Seorang Kekasih Allah, soalnya kemarin saya sudah berjanji untuk melanjutkan. Gak baiklah tidak menepati janji. Saya yakin kalian semua sudah menunggu-nunggu kisah lanjutannya ini, ya kan ?

GUS LATSARI KESILIR JEMBER

Saya, sebelumnya, walaupun cukup lama tinggal di Jember, tak pernah sowan ke Gus Latsari. Sayapun sowan kesana pertama kali hanyalah mengantar teman untuk suatu kepentingan. Saya sendiri tak punya kepentingan apa-apa. Namun aneh. Ketika saya dan teman mau pulang, Gus Latsari berpesan kepada diri saya ( bukan kepada teman saya ), untuk lain hari agar sowan lagi kesana :”Mbak, kapan-kapan mbake kesini lagi ya?”.

Meskipun dengan penuh rasa aneh karena heran, lho saya kan tak punya kepentingan, kok disuruh sowan kesana lagi ? tapi saya iyakan, dan timbul rasa penasaran yang menggelitik, ada apa yah kok kapan-kapan disuruh sowan lagi, jika ada sesuatu yang beliau anggap penting buat saya kok tak disampaikan saat itu saja kepada saya ?

Pada kali yang lain saya benar-benar meluangkan waktu sendiri untuk kesana. Saya mau sowan kesana, karena beliau seorang kekasih Allah bukan dukun atau paranormal. Dan anehnya lagi, ketika saya kesana, saya malah dikenalkan kepada Ibu Nyai, dan ibunda Gus Latsari, dan kami mengobrol kesana kemari bak keluarga sendiri. Kebetulan waktu saya sowan sedang tak banyak tamu, sehingga kami bisa ngobrol cukup lama.

Beliau bertanya tentang keluarga saya, bapak, ibu, dan saudara-saudara saya. Namun hingga kepulangan saya, sama sekali tak menyinggung soal mengapa beliau menghendaki saya sowan lagi kepada beliau. Aneh.

Sesudah itu, saya mengantar saudara-saudara saya, satu persatu untuk berkenalan kepada beliau. Kebetulan saudara-saudara saya sedang mempunyai kesulitan yang cukup rumit untuk diatasi. Daripada mereka datang ke dukun atau paranormal, ya lebih baik saya antar saja saudara-saudara saya untuk sowan ke Gus Latsari yang insya Allah seorang kekasih Allah.

Diantara saudara-saudara saya yang 9 orang itu, alhamdulillah sayalah yang paling tak punya apa-apa, he he…Dan satu persatu dari saudara saya selalu diberinya sesuatu oleh Gus Latsari setiap sowan kesana. Saya jelas merasa iri dong, saya yang merasa sangat dekat dengan Gus Latsari dan sering sowan kesana tapi tak pernah diberi apa-apa kok semua saudara-saudara saya yang belum begitu kenal beliau, selalu diberinya bekal oleh Gus.

Suatu hari saya sudah tak tahan lagi dengan keirian saya itu, dan saya ingin menanyakan kepada Gus Latsari, mengapa saya kok tak pernah diparingi (diberi/Jawa) apa-apa ? Saya hanya sangat-sangat penasaran, bukan merasa iri yang sebenar-benar iri sebetulnya.

Eh ketika sowan kesana, sebelum saya bertanya, beliau sambil senyum-senyum sudah menjawab :”Nuur…Nur ! kon iku ojok meri karo dulur dulur kon. Kon iku paling sugih dibandingna sedulur sedulur kon. Mergane kon iku cinta Allah, balik sedulur-sedulur kon gurung cinta karo Allah, dulur-dulur kon akeh sing pada gurung shalat, jik mikiri bandaaa ae. Yaa... jok meri meneh. Nyo ki dilakoni ya ?” Sambil memberikan selembar kertas yang penuh tulisan arab, yang ternyata adalah sebuah amalan yang sangat berharga. Yang artinya : Nur kamu itu jangan iri kepada saudara-saudaramu. Kamu itu paling kaya jika dibandingkan dengan saudara-saudaramu, karena kamu itu cinta Allah sedangkan saudara-saudaramu, belum cinta kepada Allah, masih mikiri hartaaaa melulu. Jangan iri lagi ya ? nih jalani saja ini !

“Dulur-dulurmu iku tak ke’i barang instan ki merga gak bisa nglakoni amalan-amalan. Gak ana wektu. Kon akeh wektune, lan seneng nglakoni dadi lakonana iki wae !” lanjut beliau. Artinya “Saudara-saudaramu itu saya kasih barang instan karena tak bisa menjalani amalan. Tak ada waktu ! Kamu yang banyak waktunya dan memang senang menjalani amalan, jadi amalkan ini aja ya ?”. Oh saya baru tahu maksudnya, sehingga saya tak perlu iri lagi kepada saudara-saudara saya.

Dan anehnya, semua saudara-saudara saya kehidupan dunianya makin melejit. Saya kok makin aneh. Semakin lama menjalani amalan Gus Latsari, bukannya semakin kaya seperti saudara-saudara saya, namun justru semakin jauh untuk memikirkan dunia. Tak ada satupun minat untuk mencari harta, blas ! Saya melihat dunia seisinya seperti melihat sebuah bola dunia besar, dan didalamnya hiruk pikuk manusia dengan segala kepentingannya masing- masing.

Nah suatu hari nih. Ketika saya dengan suami sowan kesana. Tiba-tiba saya berminat mengamati foto-foto para tamu yang pernah berkunjung kesana, yang memberikan fotonya kepada Gus Latsari, lalu oleh beliau dipasangnya pada dinding ruang bagian dalam rumah tempat kediaman beliau tinggal, agar tak mengecewakan para tamu yang memberikan kenang-kenangan fotonya.

Foto-foto itu kebanyakan dari pejabat tinggi pemerintahan yang mengkonsultasikan keadaan negara yang setiap saat penuh permasalahan. Ada jenderal, ada menteri, bupati, gubernur, anggota MPR, dan para anggota Dewan. Saya sudah melihat foto-foto itu sejak lama, namun baru waktu itu ada minat mengamati dari dekat.

Saya amati satu persatu. Dan satu persatu pula saya baca keterangan yang ada dibawahnya. Diantara puluhan foto penting itu, ada salah satu yang sangat menarik perhatian saya. Adalah foto Gus Latsari komplit sekeluarga. Gus Latsari sendiri, Ibu Nyai Latsari dan putra putrinya. Saya membatin alangkah senangnya jika saya memiliki foto itu sebagai kenang-kenangan. Tapi saya tak berani memintanya kepada Gus. Tentu tak bolehlah, pikir saya.

Eh diluar dugaan. Tiba-tiba, Gus yang tadinya sedang berada diruangan lain dan sedang menerima tamu penting, mendekat kearah saya, lalu dengan sekonyong-konyong mengambil foto itu dari dinding, dan memberikan foto yang saya minati itu kepada saya.

Saya terkesima ketika menerima foto itu. Tak terasa air mata saya sudah meleleh di pipi saya. Saat itu saya merasa mendapat durian runtuh. Sepertinya hal itu sebuah mimpi bagi saya. Karena itu satu-satunya foto keluarga yang ada dirumah Gus, mengapa diberikan kepada saya. Pikir saya  Gus kok tahu bahwa saya sangat meminati foto itu padahal Gus tak mengetahui bahwa saya sedari tadi mengamati foto-foto yang terpampang didalam rumah, karena beliau sedang fokus menerima konsultasi tamu di ruangan lain.

Itulah seorang kekasih Allah, yang bisa menembus dimensi ruang dan waktu, bisa menembus gerak hati dan gerak pikiran orang meskipun tidak sedang berhadap-hadapan. Juga ketika saya melihat piaraan beliau, burung cenderawasih dari Papua, yang diberi oleh seseorang dari Papua. Saya takjub atas kebesaran Allah yang ada dalam keindahan burung cendera wasih itu. Begitu indah bulunya berwarna warni, mengkilap tanpa di elap. Ya Allah…

Saya membatin, alangkah senangnya jika bisa piara burung yang sangat indah ini. Tapi apa tidak aneh dilihat orang nantinya, kalau orang melihat bu Niniek piara burung cenderawasih dirumahnya yang atapnya saja sudah mau roboh ? He he.. Batin saya bertanya dan dijawab sendiri, kayak orang gila. Berkata-kata sendiri dalam hati. Eh tiba-tiba Gus melintas lalu mendekati saya. “Dibawa saja kalau kamu suka Nur” beliau lebih suka memanggil saya dengan Nur daripada dengan Niniek. Karena Nur kan artinya cahaya. Mudah-mudahan saya bisa menjadi cahaya bagi hidup saya sendiri dan minimal bagi keluarga saya, syukur-syukur jika bisa menjadi cahaya bagi orang lain. Amiin.

Dan tentu saya tak mau membawanya pulang burung cenderawasih itu. Pertama karena burung itu kesayangan Gus, dan kedua saya belum pantas miara burung itu, he he tak punya uang untuk bikin kandangnya juga kan ?

Kini Gus Latsari kabarnya telah tiada, saya sangat yakin bahwa beliau tentu telah tenang disisi Allah SWT dirumah abadinya. Semua kenangan manis bersama beliau dan keluarga beliau akan tetap terpateri di relung sanubari tak akan lekang dan lapuk oleh apapun.

Adalagi pengalaman saya yang lain. Kali ini tentang :

MBAH DAR MBONJOK LOR

Mbah Dar ini sosok kesepuhan yang sangat sederhana kehidupannya. Beliau seorang yang sangat pendiam. Hanya sorot matanya yang mewakili kata-kata beliau. Saya dan suami saya sering sowan kesana. Sebelum berguru kepada Ayahanda Proffesor, suami saya mencari bimbingan hidup kepada Mbah Dar ini.

Beliau Mbah Dar juga sering disowani orang dari mana-mana. Meskipun kami sudah menjadi murid dari Ayahanda Proffesor, kami masih selalu menjaga hubungan silaturahmi kepada beliau. Jika kami sowan. Tak banyak percakapan. Yang sering menghidupkan suasana adalah Mbah Dar Putri, yang sangat ramah dalam menerima tamu penuh kekeluargaan.

Seperti biasa, suatu hari kami sowan kerumahnya. Saya dengan Mbah Dar Putri lebih banyak mengobrol, sedangkan Mbah Dar Kakung lebih banyak diam, hanya sekali-kali saja bertanya kepada kami berdua. Meskipun pendiam jangan disangka ilmu beliau.

Mbah Dar Kakung ini gagah perawakannya. Sayang perut beliau gendut seperti semar. Suatu hari saya membatin dalam hati :”Wah Mbah Dar ini perutnya kayak Lurah Semar” Eh betapa malunya saya ternyata Mbah Dar ini tahu apa yang saya katakan dalam hati, buktinya beliau langsung menyahut :”Iya mbak Nien, saya juga sudah berusaha melangsingkan perut saya, tapi kok ya belum kurus-kurus, mbok ya saya dibikinkan jamu untuk melangsingkan perut to mbak”, selorohnya, karena Mbah Dar tahu saya tukang meramu jamu.

Kebanyakan seseorang yang sudah menjadi kekasih Allah itu, memang sudah bisa menembus dimensi ruang dan waktu. Ia sudah masuk kedalam benteng Allah SWT. Dimana Allah berfirman bahwa jika seseorang sudah masuk kedalam bentengNya maka Ia yang akan menjadi pendengaranNya, Ia yang akan menjadi peglihatanNya, dan semua geraknya adalah gerakNya. Gerak Allah SWT. Kini Mbah Darpun sudah tiada. Telah kembali kepangkuanNya. Tinggal kenangan kenangan yang sangat mengesankan membekas didalam hati saya yang paling dalam.

Suatu hari saya dan suami saya mengunjungi makam beliau. Segunduk tanah yang tak merah lagi, berada di bawah rumpun bambu yang sangat rimbun. Orang tak bakal menyangka bahwa itu sebuah makam karena tak ada tanda atau nisannya. Siapa sangka bahwa disana terbaring kekal seorang yang ketika hidupnya sangat mengabdi kepada Allah SWT.

Sesaat sebelum beliau meninggal di Rumah Sakit Umum, beliau sempat pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri, mencukur kumisnya dan merapikan jenggotnya, memotong kuku-kukunya, dan berwudhlu, tiduran kembali di tempat tidur Rumah Sakit, muka beliau menghadap kiblat lalu dengan tenangnya tiba-tiba saja sudah menghadap ke Hadlirat Allah SWT. Karuan saja sangat mengagetkan Mbah Dar Putri yang menungguinya di rumah sakit, yang sama sekali tak menyangka bahwa Mbah Dar Kakung akan pergi selamanya secepat itu.

Dan waktu saya mengunjungi makam beliau...Ada sesuatu yang aneh telah terjadi. Ketika saya jongkok menunduk berdo’a untuk almarhum Mbah Dar, tiba-tiba saya melihat dengan mata batin, pusara Mbah Dar itu berubah menjadi parit kecil, dimana airnya mengalir deras sekali dan di kanan kiri parit ditumbuhi rumput yang sangat subur hampir menutupi airnya. Lalu belum hilang keheranan saya, tiba-tiba ada suara Mbah Dar jelas sekali :”Lha niku ngenjang rejekine Mbak Nien kados niku” (Dalam bahasa Jawa, yang artinya :”Lha itu besuk rejekinya mbak Nien seperti itu”). Mbah Dar kalau memanggil saya, Mbak Nien.



SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO KE - IX

Siapa yang tidak tahu bahwa beliau dulu adalah seorang Raja Besar di Yogyakarta ?  Seorang sultan di wilayah kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Tetapi sekarang beliau sudah mangkat. Pernah menjabat sebagai Wakil Presiden (Wakil Presiden II Tahun 1973-1978) ketika masa pemerintahan Presiden Suharto.

Kesederhanaannya dan kearifannya sangat menonjol.  Kecintaannya pada rakyat kecil sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Wilayah Yogyakarta. Ketika ingin memberikan perhatiannya kepada seorang kawulanya rakyat kecil di daerah Yogyakarta, beliau sering menyamar menjadi peminta-minta.

Misal saja beliau pernah mendatangi seorang ibu-ibu janda penjual kacang goreng di pasar Beringharjo Yogyakarta, pasar terbesar di Yogyakarta. Beliau menyamar sebagai seorang peminta-minta.

Penjual kacang goreng ini sejak pagi hingga siang hari belum ada seorangpun yang membeli kacang gorengnya. Ketika ada seorang peminta-minta datang, yang sebenarnya beliau ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX, diberinya kacang goreng, karena belum mendapat uang sepeserpun.

Memang ibu janda ini adalah seorang yang ikhlas hati. Meskipun ia belum mendapatkan uang sejak pagi, ia rela memberikan kacang gorengnya kepada peminta-minta minta itu karena sangat merasa kasihan.

Setelah diberi kacang goreng ini, peminta-mintapun segera berlalu. Aneh !  setelah itu, kacang gorengnya tiba-tiba banyak sekali yang membelinya, bahkan sekejab langsung habis.

Penjual kacang goreng, ibu janda yang sudah tua yang tak mau menggantungkan hidup kepada anak-anaknya, dan melakoni hidupnya dengan jualan kacang goreng ini, lalu membatin :”Jangan-jangan yang datang sebagai pengemis tadi apa Sinuwun ya ?” (sebutan rakyat kecil kepada rajanya). Wah, pasti iya, siapa lagi kalau bukan Sinuwun ! pikirnya takjub dan merasa sangat begjo (beruntung) karena telah didatangi oleh rajanya yang sangat dikaguminya, sehingga kacang gorengnya sesudahnya menjadi laris, habis dibeli orang.

Bukan hanya hari itu saja dagangan kacang gorengnya menjadi laris. Namun sejak itu, ibu janda itu selalu laris jualannya. Sehingga dalam waktu yang tak begitu lama, jualannya selalu habis. Ia sangat bersyukur kepada Gusti Yang Murbeng Dumadi (Allah Yang Menguasai Seluruh Makhluk), atas keberkahan ini, yang telah meringankan hidupnya sejak kedatangan Sinuwun yang menyamar menjadi peminta-minta di Pasar Beringharjo.

Itu salah satu fenomena betapa Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX sangat mencintai rakyatnya.

Ada beberapa pengalaman yang  saya alami langsung berkenaan dengan beliau Sri Sultan Hamengu Buwono ke IX ini.

Dulu tahunnya sudah lupa kalau tidak salah tahun 1977, saya pernah tergabung dalam Tim Pendamping Pembicara Nasional GOLKAR, dari Tingkat I Jawa Tengah. Waktu itu kami bertugas mendampingi Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX ketika kampanye Partai GOLKAR di Kabupaten Wonosobo, beliau selaku Pembicara Nasional dari Partai GOLKAR.

Para fungsionaris GOLKAR dari seluruh kabupaten berkumpul di kabupaten Wonosobo. Dan beribu-ribu pendukung Partai GOLKAR juga hadir dalam acara tersebut.

Dari luar kota, kami menginap ditempatkan dalam sebuah hotel dimana kamar tidur Sri Sultan dengan kamar tidur saya bersama rombongan ibu-ibu dari Semarang berdekatan. Sebelum acara kampanye dimulai, kami menyempatkan untuk berfoto bersama Sri Sultan.

Dalam kesempatan itu, sebelum kami berfoto bersama, tiba-tiba Sri Sultan melambaikan tangan kearah kami rombongan ibu-ibu, dimana kami berdiri agak berjauhan dengan beliau.

Kami rombongan ibu-ibu ada sekitar 40 an orang. Saya kira yang dipanggil adalah ibu-ibu yang lain, tak mungkinlah saya, karena saya tahu diri, bukan isteri pejabat seperti yang lain, yang terdiri dari para isteri bupati dari seluruh Jawa Tengah. Sedangkan saya hanyalah fungsionaris Sekretaris Forum Peranan Wanita dari Biro Peranan Wanita DPD GOLKAR Jawa Tengah. Orang kecil, sekedar bisa berjajar bersama mereka karena prestasi.

Ketika beberapa ibu berusaha mendekat kearah Sri Sultan untuk bertanya apakah mereka yang beliau panggil, ternyata Sri Sultan berkata :”Bukan..bukan…Ibu itu…” sambil menunjuk kearah diri saya. Sayapun terkesima, apakah tidak salah Sri Sultan memanggil diri saya, sepertinya tak mungkinlah.

Saya berdebar-debar. “Ada apa ya Sri Sultan memanggil saya ?” tanya saya dalam hati.. “Saya Sri Sultan ?” sambil saya menepuk dada saya. “Iya benar sini Jeng”..Sayapun segera mendekat kearah beliau ketika sudah mendapat kepastian bahwa memang benar sayalah yang beliau panggil. Begitu saya mendekat. Beliau menepuk pundak saya hingga tiga kali :”Teruskan perjuangan kita ya Jeng”…Dan anehnya pada waktu itu saya tak menanyakan kepada beliau, perjuangan manakah yang dimaksud !

Hingga detik inipun saya tak mengerti apa yang beliau maksud dengan perjuangan itu. Namun saya lebih menangkap makna bahwa sepertinya beliau ingin menyampaikan pesan, jadilah kita semua orang yang bermakna bagi orang banyak. Menjadi orang yang akhlakul karimah dan bermanfaat hidupnya. Subhanallah.

Disapa oleh seorang sultan, apalagi sampai ditepuk pundaknya, bagi kalangan tertentu merupakan sebuah karunia yang luar biasa. Meskipun saya bukan warga daerah Istimewa Yogyakarta, sayapun sempat terkesima juga ketika dipanggil oleh beliau, apalagi sampai ditepuk pundak saya.

Bukan karena apa, saya merasa tersanjung karena beliau adalah seseorang yang teramat dekat dengan Allah, sangat tawadhuk, sangat dekat dengan orang kecil, seorang raja besar, apalagi dalam kedudukan beliau sebagai wakil presiden. Dan saya memang selalu menghormati para pelaku tirakat seperti beliau Sultan, kuat sekali puasanya demi lancarnya tugas berat yang diemban beliau, melek malam sudah menjadi kebiasaan beliau…sehingga beliau juga dikaruniai mustajabah doanya.

Contohnya, ketika saya juga mendapat kesempatan untuk menjadi anggota tim Golkar dari Tingkat I Jawa Tengah sebagai Team Pendamping pembicara nasional di Kabupaten Purworejo, waktu itu yang menjadi Pembicara Nasional dari Golkar adalah juga beliau Sultan HB ke IX.

Jam 2 siang kami, baik beliau Sri Sultan sendiri serta kami rombongan Tim Pendamping sudah berada di panggung kehormatan di Alun-alun besar Purworejo.

Sebelum acara dimulai massa pendukung Golkar sudah tumpah ruah  memenuhi lapangan. Apalagi waktu itu Golkar masih menjadi partai favourit yang banyak didukung oleh masyarakat. Kami, anggota team, sangat terharu atas antusiasme para pendukung partai. Ya Allah, semoga kami para Anggota Tim ini bisa memenuhi semua aspirasi rakyat. Dan semoga kami tidak salah langkah dalam mengemban amanah serta aspirasi rakyat. Begitulah doa kami waktu itu.

Karena siang hari matahari begitu teriknya, masyarakat yang datang berbondong-bondong ingin melihat langsung Sri Sultan serta mendengarkan pidato beliau, mereka banyak yang membawa payung untuk berlindung dari sengatan terik matahari.

Aneh, tiba-tiba saja, langit yang begitu terang benderang berubah menjadi gelap dan hujan turun bagaikan ditumpahkan dari langit. Kami sebagai anggota tim sangat kasihan kepada masyarakat yang membludag (tumpah ruah) itu. Dan menurut pikiran kami, sebelum acara dimulai maka masyarakat akan bubar pulang karena hujan yang begitu derasnya.

Kami anggota tim yang berada diatas panggung tak kehujanan meskipun baju jas uniform kami juga akhirnya sebagian basah oleh tampias hujan. Saya yang berada persis dibelakang Sultan duduk dan ibu-ibu yang lain serentak berucap :”Sultan bagaimana ini?”. “Tenang saja ibu, semuanya akan baik-baik saja” Kata Sultan. Sesudah itu saya lihat Sultan lalu bersedekap tangan beliau didepan dadanya. Muka beliau , menunduk seperti sedang bersemedi. Maka ajaib, tiba tiba seperti ada angin yang meniup, pelan namun pasti hujan langsung reda dan langit cerah kembali memanas seperti semula.

Kami semua anggota team menjadi lega. Alhamdulillah Ya Allah. Telah Engkau singkirkan hujan ini dari kami, sementara kami sedang memerlukan cuaca yang terang benderang. Maka suasana tidak panas lagi menyengat, namun berganti dengan kesejukan karena baru saja tersiram hujan. Itulah kharomah sosok yang mendapat kasih sayang Allah SWT, selalu saja doanya sangat mustajabah. Kenangan manis ini tentu tak bisa kami lupakan dari ingatan kami. Apalagi bagi saya yang pernah punya kenangan special ditepuk pundak saya oleh seorang Raja he he…

Bukan hal itu yang ingin saya tonjolkan disini, bukan masalah karomah-karomah yang Allah berikan kepada beliau-beliau semua. Bahwa siapapun yang dekat kepada Allah dan dicintaiNya, tentu oleh Allah SWT akan diberikan ilmu yang langka dan tak dimiliki oleh banyak orang. Ilmu dan kharomah-kharomah yang sebenarnya bukan menjadi niat dan tujuan beliau-beliau mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semua itu hanyalah bonus bagi beliau-beliau dari Allah SWT, bagi para hambaNya yang banyak bersyukur, rajin bermunajad dan suka bermujahaddah kepada Allah SWT.

Jadi ayuk berjuang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bukan untuk sekedar mendapatkan ilmu-ilmu ataupun kharomah-kharomah, namun untuk mendapatkan Cinta dan RidhoNya.

Oke, saya akhiri sekian dulu ya teman, "Kharomah Seorang Kekasih Allah", semoga bisa kalian ambil hikmahnya. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Salam Penulis,
NiniekSS

 


 

KAROMAH SEORANG KEKASIH ALLAH ( Bagian - 1)

KAROMAH SEORANG KEKASIH ALLAH ( Bagian - 1)

Salam Sejahtera Bagi Seluruh Alam,

Puji dan syukur hanya kepada Allah Pemilik Seluruh Nikmat. Shalawat dan salam yang setulus-tulusnya semoga senantiasa tercurah atas Nabi Agung Muhammad Rasulullah SAW, bagi keluarga dan sahabatnya yang mulia serta para pengikut Beliau yang setia sampai akhir jaman. Aamiin.

Sahabat Pembaca Blog Yang Setia…

Yang senantiasa rajin mengikuti artikel-artikel saya dimanapun kalian berada. Semoga pagi ini kalian sudah lebih baik dari sebelumnya. Semoga pagi ini kalian tidak ada yang kambuh. Semoga pagi ini kalian bisa bersyukur atas beribu-ribu nikmat Allah yang Allah taburkan dalam hidup dan kehidupan kalian, yang mungkin luput dari perhatian kalian dan terlupa kalian syukuri.

Pagi ini saya ingin berbagi tentang pemahaman saya atas Karomah Seorang Kekasih Allah. Yang sering saya temui dalam hidup saya, yang tanpa saya sengaja ataupun saya sadari. Tahu-tahu sudah bertemu. Dan tahu-tahu segala keajaiban serta ketakjuban terjadi dalam sekejab. Jika sudah demikian, beribu keharuan dan kebahagiaan yang tak terperi mengaliri relung dada dan relung jiwa saya. Atas karunia besar ini. Sebab untuk bertemu dengan seorang kekasih Allah adalah merupakan karunia besar yang termasuk sulit digapai.

PROFFESOR DOKTOR KADIRUN YAHYA.

Beliau adalah Ayahanda Guru saya, yang bergelar Sayyidi Syech. Beliau telah lama berpulang, tahun 2001, berlindung dalam naungan Allah SWT. Tenang dan penuh kebahagiaan, abadi disisi Allah SWT. Beliau adalah Profesor dibidang kimia dan fisika. Maka ketika Beliau menjelaskan perihal hubungan manusia dengan Allah SWT, tentang Isro’ Mi’raj Nabi SAW dengan pemahaman ilmu fisika dan kimia, alhamdulillah sangat mudah dan gamblang kami tangkap dan pahami.

Beliau adalah Guru Ruhani saya. Yang juga seorang kekasih Allah. Banyak pengalaman ruhani yang saya peroleh dengan beliau. Yang utamanya, beliau selalu menganjurkan agar kami semua murid-muridnya jangan sampai meninggalkan sholat dan berdzikir.

Dunia sudah semakin tua, maka dengan bedzikir kita semua akan terlindungi dari setiap bencana yang menggejala dimana-mana, didunia dan di sekeliling kita. Baik bencana yang timbul dari diri kita sendiri maupun dari luar diri kita. Yang bisa saja sewaktu-waktu menimpa kita dari dalam diri kita sendiri, dari kiri kanan kita, dari atas bawah kita dari depan atau belakang kita. Musibah bisa mengancam dari sekeliling kita ! dari mana-mana !

Bencana dari dalam diri sendiri

Bentuknya berbagai macam. Bisa sebagai keserakahan, kemunafikan, ketidakjujuran, kemalasan, ketidak setiaan, negatif thinking atau berburuk sangka, iri, dengki, sombong, merasa diri sakti berkaromah, merasa suci sehingga seolah–olah sudah begitu dekatnya dengan Allah SWT padahal sejatinya justru kebalikannya, dan berbagai sifat serta sikap negatif yang lain, yang akan menjerumuskan diri kita dari sisi Allah SWT serta jurang kesengsaraan yang sesungguhnya.

Bencana dari luar diri

Antara lain musibah bencana alam seperti banjir, gunung meletus, tsunami, gempa bumi, kecelakaan, kebakaran, kerampokan, sakit penyakit, kesusahan, kegelisahan, kesulitan, kecemasan, kepanikan, tidak lulus ujian, tidak naik pangkat, tidak harmonis rumah tangganya, banyak hutang, jauh dari ibadah, sakit penyakit, dibenci teman atau lingkungan dan lain sebagainya. Yang mana bencana dari luar ini juga tak lepas dari akibat ulah diri sendiri, kalau kita mau mawas diri atau meneliti diri sendiri seteliti telitinya.

Kami belum pernah bertatap muka langsung dengan Beliau, namun dzikir yang Ayahanda Guru berikan, mampu merubah dengan senyata-nyatanya dari semua sikap dan perilaku buruk kita menjadi sifat dan perilaku hidup yang akhlakul karimah.

Salah satu contoh. Ada seorang murid yang masih baru, datang untuk ikut melingkar di surau kami untuk berdzikir berjamaah. Memakai pakaian ketat, tanpa jilbab. Kami semua ternganga risih. Tapi kami semua tak ada yang mengingatkan sekalipun kami wajib saling mengingatkan untuk sebuah kebaikan.

Sayapun tak mengingatkannya dengan kata-kata, khawatir kalau murid baru tersebut tersinggung sehingga justru tidak mau datang lagi ke surau untuk bertaubat, berdzikir berjamaah. Saya dan tentu teman-teman yang lain, mendoakan murid baru tersebut agar diberikan hidayah dalam hal berpakaian yang benar sebagai muslim serta mengenakan jilbab karena itu adalah wajib untuk seorang perempuan Muslim, menutupi auratnya.

Apalagi Ayahanda Guru, yang telah mampu menembus dimensi ruang dan waktu tentu juga mendoakan semua murid-muridnya, memohonkan ampun atas dosa-dosa muridnya, serta mendoakan semua kesulitan dan kesusahan murid-muridnya agar diangkat oleh Allah SWT, dengan doanya yang sangat mustajabah.

Benar saja, ketika kami bertemu kembali dalam suatu dzikir bersama  dengan murid baru yang dulu berpakaian ketat dan tak berjilbab itu, eh subhanallah…Alhamdulillah…ternyata dia sudah mengenakan pakaian yang longgar yang tak menampakkan aurat tubuhnya, dan juga telah berjilbab rapi. Allah telah mengabulkan doa kami bersama. Tentu yang utama adalah karena doa yang mustajabah dari Ayahanda Guru. Dan doa kami semua untuk murid baru tersebut, akan kembali dalam bentuk kebaikan-kebaikan oleh Allah SWT. Amiin.

Itulah salah satu kharomah seorang kekasih Allah. Doanya sangat mustajabah !

Oleh karena itu jika kita bisa bertemu atau bersilaturahmi dengan para kekasih Allah, alangkah beruntungnya hidup kita, karena langsung ataupun tidak, hidup kita akan menjadi tercerahkan.

Ini ni kisah-kisah pertemuan saya dengan para kekasih Allah :

Suatu hari, saya dan suami saya diajak oleh kakak ipar saya, laki-laki, kerumah kenalannya di daerah Bugel, Begelen Jawa Tengah. Dekat dengan makam Nyai Begelen yang terkenal itu. Kalau makam Nyai Begelen diseberang timur jalan raya yang menuju arah Yogyakarta dari Purworejo, maka rumah kenalan kakak ipar ada di seberang barat dari jalan raya, jadi berlawanan arah dengan makam Nyai Begelen.

Setelah ngobrol panjang lebar dengan tuan rumah, tak terasa sudah maghrib. Kami berjamaah di mushollanya ayah dari kenalan kakak ipar ini. Sebuah musholla kecil yang terletak diantara pepohonan jati yang daunnya sudah pada meranggas. Menimbulkan sensasi tersendiri ketika kami berjalan diantara pepohonan jati yang menjulang tinggi menuju ke musholla yang agak jauh dari rumah. Ketika kami sholat, rasanya seperti berada di masjid tiban ditengah hutan. Sepiii, hanya suara jangkrik dan serangga malam yang suaranya kraaak…kraaak…kraaak memerindingkan bulu roma.

Setelah selesai sholat maghrib, kami langsung pamitan pulang. Menuju jalan raya kembali yang juga agak jauh dari rumah kenalan kakak ipar itu. Melewati rerimbunan pohon besar, melewati sawah-sawah. Bagi orang-orang pedesaan suasana ini tentu sudah biasa, tapi bagi kami yang biasa tinggal didaerah kota yang dimana-mana terang benderang, tentu suasana gelap-gelap seperti ini menimbulkan sensasi lain dalam hati. He he dasar penakut !

Satu jam telah berlalu, mobil yang lalu lalang lewat tak ada satupun yang mau berhenti ketika kami stop. Memang daerahnya termasuk jalan bebas hambatan, apalagi malam hari, jadi kendaraan yang lewat selalu kencang. Hampir putus asa kami menyetop kendaraan untuk pulang. Haripun semakin malam. Eh secara spekulasi saya meminta tolong secara ruhani kepada Guru saya Ayahanda Guru, waktu itu Ayahanda masih hidup :”Ayah tolong..tak ada kendaraan yang mau distop Ayah”…karena sudah lelah berdiri, jongkok, berdiri, jongkok lagi, dipinggir jalan, menunggu kendaraan yang lewat.

Eh ajaib, begitu hati saya selesai memohon kepada Ayah Guru. Tiba-tiba ada bis yang lewat dan mau berhenti ketika kami stop, padahal sebelumnya berapa kendaraan terus bablas ketika kami stop. Alhamdulillah Ya Allah, berkat doa yang Ayah Guru sampaikan kepada Allah untuk menolong kami, tanpa menunggu menit, hanya bilangan detik langsung dikabulkan oleh Allah SWT. Itulah doa seorang Wali Allah. Dan ajaibnya lagi, bis yang kami tumpangi, melewati rumah dokter dimana kakak ipar saya mau minta surat ijin untuk kantornya karena sudah beberapa hari meninggalkan pekerjaannya.

Padahal rumah dokter itu berada didalam kota. Sedangkan biasanya bis yang datang selalu melewati jalan lingkar kota, tak pernah lewat jalur dalam kota. Jika memikirkan hal itu, hingga sekarangpun rasanya belum hilang ketakjuban saya pada kebesaran Allah SWT. Dan sepertinya Allah selalu mengabulkan doa hambaNya yang dikasihiNya secepat kilat ! Bahkan sering kali tak akan mampu dinalar oleh otak kita. Subhanallah…

Ayahanda Guru, mempunyai murid di seluruh dunia yang menurut catatan tak kurang dari 17.000.000 orang. Yang pada setiap Hari Guru, mereka termasuk saya pada datang bersilaturahmi di kediaman beliau di Wilayah Arco Bogor. Meskipun beliau telah berlindung disisi Allah, semua kenangan ruhani bersama beliau takkan hilang selama hayat dikandung badan. Kharismatiknya, fatwa-fatwanya, serta teguran-tegurannya selalu sangat berkesan dihati setiap kami para muridnya.

ABAH ANOM SURYALAYA

Pangarso Abah Anom adalah sesepuh dari Pondok Pesantren Suryalaya, yang mengampu tak kurang dari 10.000 orang santri yang tersebar di seluruh perumahan penduduk Suryalaya di sekitar Pondok.

Keharuman nama dan kearifan beliau sudah tak asing bagi dunia Pesantren di Pulau Jawa. Bahkan juga dikalangan pejabat tinggi negara dimana para menteri juga suka berkunjung untuk sowan menghadap Abah Anom, untuk mencari solusi masalah-masalah yang menyangkut kenegaraan, atau masalah-masalah pribadi mereka masing-masig.

Abah Anom, pada hari-hari tertentu ketika beliau masih hidup, menerima pisowanan masyarakat dari mana-mana. Untuk konsultasi memohon solusi tetek bengek masalah hidup. Beliau juga mempunyai Pusat Rehabilitasi Narkoba dan orang-orang yang depressi. Yang ditangani oleh Abah Gaos menantunya, serta para pembantu beliau yang lain.

Suatu hari, saya mengantarkan adik angkat saya dari Jember, yang mengalami depressi. Kami serombongan sampai di Ndalem Pondok sudah sore hari. Pisowanan sudah ditutup. Terpaksa saya mengambil kartu antrean untuk sowan pada pisowanan esok hari dan kami mendapat no antri 58.

Besuknya, kami serombongan menghadap pada pisowanan jam 8 pagi. Semalam kami dipersilahkan menginap di kediaman Abah Gaos, sambil melihat-lihat tempat rehabilitasi depressi untuk adik angkat saya.

Dan subhanallah, pada pisowanan kami pagi itu tak disangka, kami yang mendapat nomor urut 58 ternyata dipanggil untuk yang pertama kali. Apa yang menjadi pertimbangan beliau Abah Anom untuk memanggil kami yang pertama wallohua’lam. Bahkan beliau berkenan mengulurkan tangan beliau untuk bersalaman dengan saya, serta diberinya saya sebuah amalan, dan yang lain tidak…Saya terima ini sebagai nikmat dan karunia Allah semata, yang sungguh luar biasa bagi saya...

Tapi malam hari sebelumnya saya sudah bermimpi persis seperti apa yang terjadi pagi itu, diterima yang pertama dalam pisowanan dan diajak salaman oleh beliau. Rupanya inilah lambang dari mimpi saya semalam. Subhanallah, paginya menjadi kenyataan.

Pengalaman yang kedua adalah, karena adik angkat saya yang dari Jember sudah sembuh dengan cepat di Panti Rehabilitasi stress disana, maka ketika kakak ipar saya juga mengalami depressi, tanpa pikir panjang langsung saya bawa sowan lagi ke Abah Anom untuk diobatkan.

Ketika sampai di tapal batas kota Tasikmalaya dengan daerah sebelumnya, saya melihat pemandangan gaib dimana Ayah Guru kami menyerahkan kakak ipar yang stress itu kepada Abah Anom Suryalaya untuk diobati. Kata Ayahanda Guru :”Tolong yah diobati Abah Anom…” sambil tangan kanan Ayahanda menepuk-nepuk pundak Abah Anom seperti layaknya seorang kakak minta tolong kepada adiknya. Abah Anompun hanya tersenyum, mengangguk dan membalas penuh takzim kepada Ayahanda Guru :”Insya Allah bismillah…Tuan Kadirun”. Begitulah keakraban antara kekasih Allah, meskipun beliau berdua mungkin belum pernah bertemu secara fisik. Itu tak begitu esensi, karena sudah bisa silaturahmi antar ruhani.

Ternyata benar, kakak ipar kami disana diterima dengan sangat baik, diobati dengan baik dan sembuh dengan baik pula. Di Panti Rehabilitasi Depressi dilingkungan Pondok Pesantren Suryalaya didaerah dekat Tasik Malaya, Jawa Barat. Alhamdulillah Ya Allah. Sampai saat ini jika mengenang beliau Abah Anom, air mata saya bisa menetes karena haru dan rindu.

MBAH MAD WATUCONGOL

Beliau ini memimpin Pondok Pesantren di tempat tinggal beliau di daerah Watucongol dekat kota Muntilan Magelang. Hampir setiap orang di daerah Magelang dan sekitarnya telah mengenal bahwa Mbah Mad Watucongol ini seorang kekasih Allah.

Mbah Mad Watucongol ini mempunyai keunikan sendiri. Yaitu senang berbelanja batik. Hampir setiap hari selalu pergi untuk belanja batik di Toko Batik bermerk. Ya konon hampir setiap hari, ini menurut abdi dalem yang ada di ndalem pesantrennya.

Awalnya saya heran, loh diruang tamu tempat menerima tamu-tamunya kok banyak berjajar lemari-lemari besar yang berisi kemeja-kemeja batik, dan semuanya masih baru ! Persis seperti berada dalam ruang pameran batik. Dan yang unik lagi, diantara sekian ratus hemd batik yang dipajang dalam almari diruang tamunya tak ada satupun yang sama motifnya. Karena saya sudah melihatnya sendiri !

Usut punya usut, setelah saya bertanya kepada santrinya yang meladeni para tamu sebelum diterima oleh Mbah Mad, ternyata kebanyakan baju-baju batik itu dibeli Mbah Mad di Butik-Butik bukan sembarang dibeli di Toko Batik atau di pasar. Unik sekali idenya !

Lalu mengapa kok Mbah Mad koleksi sebegitu banyak kemeja batik, sehingga setiap habis ashar meluangkan waktu untuk membeli kemeja-kemeja batik itu ? Kata santri kepercayaannya, bahwa baju-baju batik itu hanya dikenakan oleh Mbah Mad hanya sekali untuk didoakan, sesudah itu lalu dipajang di almari batiknya dan tanpa dicuci !

Konon, baju-baju batik itu bisa untuk obat. Jika ada seseorang yang sakit, sedikit saja dari kain baju batik itu dicelupkan kedalam air putih dan diminum, atas ijin Allah penyakit seseorang akan bisa sembuh.

Baju-baju batik itu boleh dimiliki oleh para tamu dengan mengganti sedekah sama seperti harga pembelian di tokonya, tanpa Mbah Mad mengambil untung. UNIK bukan ? Ya Allah ada-ada saja !

Saya dan suami saya suatu hari diajak oleh seorang teman untuk sowan ke kediaman Mbah Mad Watucongol. Sebelumnya saya belum pernah sowan ke Mbah Mad Watucongol. Dasarnya memang saya paling senang jalan-jalan, apalagi sowan ke Aulia Allah, apalagi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, maka pucuk dicinta ulam tiba ketika ada teman yang mengajak kami kesana gratis he he.

Kira-kira jarak 5 km sebelum sampai ke tujuan. Tiba-tiba hujan deras sekali, seperti ditumpahkan dari langit sehingga mobil tertutup pandangannya. Kami yang berada didalam mobil hanya mampu melihat pandangan kedepan, dalam jarak 1 meter saja, sehingga mobil terpaksa jalannya nggremet pelan sekali. Kamipun juga penuh was-was kuatir bila terjadi kecelakaan, jika tiba-tiba saja ada kendaraan yang ngebut dari arah depan.

Tiba-tiba saya ingat peristiwa ketika saya secara ruhani meminta tolong kepada Ayahanda Guru saat mau menyetop kendaraan sepulang dari kenalan kakak ipar dulu. Secara spontan tiba-tiba saja saya sudah menghubungi mbah Mad secara ruhani dan mengucap :”Assalamu’alaikum Mbah Mad. Mbah, hujan kok derasnya seperti ini to mbah, mbok mohon barokahnya Mbah, biar hujannya berhenti, agar  kami sampai dirumah Mbah Mad tidak basah, terima kasih ya Mbah”.

Lho benar-benar terjadi keajaiban. Seperti hujan itu miliknya Mbah Mad dan nurut sama Mbah Mad. Hujanpun berhenti mendadak, padahal sebelumnya derasnya luar biasa sehingga air tetesannya sebesar biji jagung.

Jaman saya masih kecil dulu, kalau main hujan-hujanan, kena hujan yang deras pipi dan dahi sakit, pedes. Maklum kami anak kampung, ketika kecil dulu jika hujan senang main hujan-hujanan, sangat mengasyikan, saling ciprat air dengan teman. Apalagi kalau ada kubangan yang lalu penuh air, kami berendam disitu persis kerbau dalam kubangan. Itulah sepintas kenangan masa kecil saya, yang sangat mengasyikkan.

Saya lalu mengucap syukur Alhamdulillah ke Hadlirat Allah atas karuniaNya, dimana hujan diijinkanNya segera berhenti, dan tak lupa sayapun segera berucap dalam hati :”Mbah Mad, terima kasih njih Mbah, hujannya sudah berhenti”

Lah tak lama kami sampai ditempat mbah Mad. Dan anehnya ketika kami serombongan mau pulang, tiba-tiba Mbah Mad melambaikan tangan beliau kearah kami. Saya pikir yang dipanggil oleh Mbah Mad adalah teman saya, yang punya kepentingan sowan kepada beliau, eh ternyata saya. Sayapun lalu mendekat kepada beliau, lalu beliaupun mengulurkan tangan beliau kepada saya, dengan heran dan takjub sayapun mencium punggung tangan beliau dengan takzim.

Sayapun juga diberinya amalan tanpa saya memintanya. Dada saya penuh dengan rasa haru setiap kali sowan menghadap para aulia, selalu saja saya, mendapat kasih sayang dan berkahnya. Subhanallah Alhamdulillah.

Demikianlah Karomah Seorang Kekasih Allah. Doanya sangat mustajabah. Dan apapun bisa dijadikan sarana untuk melaksanakan hajatnya. Seperti Mbah Mad, atas ijin Allah, bisa menghentikan hujan dalam sekejab. Atas ijin Allah bisa menjadikan baju-baju batiknya sebagai lantaran untuk menolong orang. Atas ijin Allah bisa memberikan amalan yang jika diamalkan secara istiqomah benar-benar luar biasa manfaatnya.

Seperti amalan yang diberikan kepada saya, setelah amalan tersebut saya amalkan dengan istiqomah setelah mendapatkan ijin dari Guru rohani saya, ternyata bisa mecerahkan pemahaman batin bagi saya.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kalian semua. Nantikan lanjutannya pada artikel yang akan datang. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Salam Penulis,
Niniek SS.

 


 

Back To Top